Hadapi Abu Vulkanik, Habib Syakur Ajak Masyarakat Perkuat Doa, Ikhtiar dan Istisqa

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi. (Dok: Istimewa)

Foto: Ilustrasi. (Dok: Istimewa)

MALANG – Fenomena abu vulkanik yang dilaporkan berdampak terhadap sejumlah wilayah di Indonesia menjadi perhatian berbagai kalangan. Di tengah kondisi tersebut, ulama asal Malang Raya sekaligus Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, mengajak masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta memperbanyak doa dan ibadah kepada Allah SWT.

Menurut Habib Syakur, situasi yang berkaitan dengan fenomena alam harus dihadapi melalui dua bentuk ikhtiar secara bersamaan. Masyarakat perlu mengikuti langkah-langkah penanganan yang disampaikan pemerintah dan lembaga berwenang, sekaligus memperkuat ikhtiar batin melalui doa, istighfar, sedekah, serta amal kebajikan.

Ia menilai masyarakat tidak perlu larut dalam kepanikan maupun menyikapi fenomena alam dengan informasi yang belum jelas sumbernya. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan mempererat solidaritas sosial.

“Marilah kita bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, perlindungan, dan dijauhkan dari segala musibah serta bencana,” kata Habib Syakur, Minggu (6/9/2026).

Salah satu bentuk ibadah yang diserukan Habib Syakur adalah pelaksanaan shalat Istisqa, yakni shalat sunnah yang dalam tradisi Islam dilakukan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

Menurut dia, apabila kondisi dan ketentuan setempat memungkinkan, pelaksanaan shalat tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat.

“Kalau memungkinkan, mari kita laksanakan shalat Istisqa, memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan yang membawa rahmat, membersihkan udara dan lingkungan kita dari abu vulkanik,” ujarnya.

Namun, Habib Syakur menekankan bahwa shalat Istisqa tidak semata-mata harus dipahami dari sisi permohonan turunnya hujan. Lebih jauh, ibadah tersebut merupakan bentuk penghambaan dan ketundukan manusia kepada Allah SWT sekaligus pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi berbagai fenomena alam.

Ia mengingatkan agar dorongan untuk berdoa dan beribadah tidak kemudian membuat masyarakat mengabaikan langkah-langkah keselamatan yang bersifat praktis.

“ Kita berikhtiar secara lahir dengan mengikuti petunjuk pemerintah dan para ahli, tetapi secara batin kita juga harus memohon pertolongan kepada Allah SWT. Jangan pernah merasa sombong bahwa manusia mampu mengendalikan semuanya,” tuturnya.

Habib Syakur berpandangan bahwa doa dan ikhtiar lahiriah bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya, menurut dia, dapat berjalan beriringan dalam menghadapi kondisi yang berpotensi mengganggu kehidupan masyarakat.

Ia meminta masyarakat tetap memperhatikan arahan pemerintah, petugas kebencanaan, serta informasi dari lembaga teknis yang memiliki kewenangan dalam memantau aktivitas gunung api dan kualitas lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat Muslim diajak memperbanyak istighfar, doa bersama, sedekah, serta berbagai bentuk amal sosial.

“Yang terpenting adalah kita tetap tenang, memperbanyak istighfar, bersedekah, berdoa dan melakukan amal kebajikan. Jangan sampai kondisi ini justru membuat kita saling menyalahkan atau menyebarkan ketakutan,” katanya.

Bagi Habib Syakur, musibah atau ancaman bencana seharusnya tidak hanya melahirkan rasa khawatir, tetapi juga membangkitkan kesadaran sosial. Masyarakat yang berada dalam kondisi relatif aman, menurut dia, perlu menunjukkan kepedulian kepada warga yang berada di kawasan terdampak.

Selain mengajak masyarakat memperkuat sisi spiritual, Habib Syakur memberikan perhatian terhadap penyebaran informasi mengenai aktivitas gunung api dan abu vulkanik.

Ia meminta masyarakat tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang sumbernya tidak jelas, terutama informasi yang dapat menimbulkan kepanikan.

Menurutnya, perkembangan mengenai aktivitas gunung api, status kebencanaan, maupun langkah-langkah keselamatan harus merujuk kepada informasi resmi dari pemerintah dan lembaga teknis terkait.

“Jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat harus mengutamakan informasi dari lembaga resmi agar tidak menimbulkan kepanikan,” tegasnya.

Imbauan tersebut dinilai penting karena situasi bencana atau fenomena alam kerap diikuti beredarnya informasi yang tidak lengkap, potongan video lama, maupun narasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Karena itu, masyarakat diimbau melakukan verifikasi sebelum meneruskan informasi kepada keluarga, teman, maupun melalui media sosial.

Habib Syakur juga menyerukan agar penanganan dampak abu vulkanik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan lingkungan sosial tetap kuat ketika menghadapi kondisi yang tidak menentu.

Ia mengajak warga saling membantu, terutama mereka yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk kelompok rentan dan masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kondisi lingkungan.

“Dalam situasi seperti ini, jangan sampai ada saudara kita yang merasa sendirian. Mari kita saling membantu dan memperkuat solidaritas. Yang memiliki kemampuan membantu yang membutuhkan, sehingga kita dapat melewati kondisi ini bersama-sama,” ujarnya.

Ia menilai kepedulian sosial merupakan bagian penting dari nilai keagamaan sekaligus kehidupan kebangsaan. Musibah, menurut dia, semestinya menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, bukan memperlebar perbedaan.

Di tengah seruan untuk memperbanyak doa, Habib Syakur tetap mengingatkan bahwa masyarakat harus mengedepankan keselamatan. Warga yang berada di wilayah terdampak diminta tidak mengabaikan petunjuk resmi mengenai aktivitas gunung api, kualitas udara, maupun tindakan yang perlu dilakukan apabila terjadi peningkatan risiko.

Ia menegaskan, pendekatan spiritual tidak boleh diposisikan sebagai pengganti langkah mitigasi bencana. Doa dan ibadah merupakan bentuk ikhtiar batin, sementara kepatuhan terhadap petunjuk keselamatan merupakan bagian dari ikhtiar lahiriah.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak memilih salah satu, melainkan menjalankan keduanya secara seimbang.

“Semoga Allah SWT melindungi seluruh masyarakat Indonesia, memberikan keselamatan kepada saudara-saudara kita yang berada di wilayah terdampak, dan segera memberikan jalan keluar terbaik dari kondisi ini,” kata Habib Syakur.

Seruan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar masyarakat menghadapi situasi dengan kepala dingin. Di satu sisi, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap informasi resmi tetap menjadi dasar keselamatan. Di sisi lain, bagi umat Islam, doa, istighfar, sedekah, dan ibadah dapat menjadi sarana untuk memperkuat ketenangan batin serta kepedulian terhadap sesama.

Dalam menghadapi fenomena alam, pesan utama yang disampaikan Habib Syakur adalah keseimbangan antara doa, ikhtiar, kewaspadaan, dan solidaritas sosial. Masyarakat diharapkan tidak panik, tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, serta tetap saling membantu sembari mengikuti setiap perkembangan dan arahan dari pihak berwenang.

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Wacana Pilpres 2029 Bergulir, Tubagus Bahrudin Diusung dalam Narasi Indonesia Adil dan Makmur
Gabungan Petani Nusantara Indonesia Deklarasikan Dukungan kepada Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029
Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, Mendagri Imbau Pemda Terdampak Tingkatkan Kewaspadaan
Ribuan Pedagang Kaki Lima Deklarasikan Dukungan untuk Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029
Polisi Perketat Pengawasan Anak Krakatau, Nelayan dan Wisatawan Diminta Tak Masuk Zona Bahaya 3 Kilometer
Wamen UMKM Ungkap 3 Kunci agar Produk Lokal Tembus Pasar Global
DPR Minta Pemerintah Utamakan Pencegahan dalam Penanganan Karhutla
DPO Kasus Percobaan Pembunuhan Ditangkap Polisi di Puncak Papua Tengah
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 13:34 WIB

Wacana Pilpres 2029 Bergulir, Tubagus Bahrudin Diusung dalam Narasi Indonesia Adil dan Makmur

Senin, 7 September 2026 - 12:22 WIB

Gabungan Petani Nusantara Indonesia Deklarasikan Dukungan kepada Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029

Senin, 7 September 2026 - 11:51 WIB

Hadapi Abu Vulkanik, Habib Syakur Ajak Masyarakat Perkuat Doa, Ikhtiar dan Istisqa

Minggu, 6 September 2026 - 16:00 WIB

Ribuan Pedagang Kaki Lima Deklarasikan Dukungan untuk Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029

Minggu, 6 September 2026 - 09:50 WIB

Polisi Perketat Pengawasan Anak Krakatau, Nelayan dan Wisatawan Diminta Tak Masuk Zona Bahaya 3 Kilometer

Berita Terbaru