SURABAYA — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat peran lembaga inkubator untuk mencetak wirausaha berkualitas dan berdaya saing. Langkah ini dilakukan melalui pendampingan berkelanjutan, penguatan inovasi, akses pembiayaan, serta perluasan pasar bagi pelaku UMKM.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan pemerintah menargetkan lahirnya 10 juta penduduk yang berusaha dan bekerja melalui penguatan ekosistem kewirausahaan nasional.
Menurut Maman, lembaga inkubator, baik di lingkungan perguruan tinggi maupun di luar kampus, memiliki peran strategis dalam memastikan pelaku UMKM mendapatkan pembinaan yang terstruktur, sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Kenapa harus inkubator? Karena kita membutuhkan perpanjangan tangan agar pembinaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah lebih terstruktur, sistematis, terintegrasi, serta berkelanjutan,” kata Maman saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Jawa Timur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Senin (12/10).
Maman menilai sejumlah produk UMKM dan hasil inovasi perguruan tinggi memiliki kualitas yang baik, tetapi belum berkembang optimal karena keterbatasan pendampingan, penguatan riset, dan perencanaan komersialisasi.
Karena itu, Kementerian UMKM mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menjembatani hasil riset agar dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita ingin inovasi yang dihasilkan kampus ke depan bisa dikomersialkan, masuk ke industrialisasi, dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan inovasi teknologi kesehatan dan robotika yang dikembangkan ITS. Menurut Maman, pemerintah perlu membantu mempercepat proses pengembangan inovasi, termasuk dalam pemenuhan perizinan dan sertifikasi, agar hasilnya dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Penguatan inkubator tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Regulasi ini menjadi landasan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, lembaga inkubator, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mencapai rasio kewirausahaan sebesar 3,6 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.
Penyaluran KUR Jatim Tembus Rp37,11 Triliun
Selain memperkuat pendampingan, Kementerian UMKM menekankan pentingnya akses pembiayaan dan pasar untuk mendorong pertumbuhan usaha.
Maman menyebut penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur telah mencapai Rp37,11 triliun kepada sekitar 643 ribu debitur UMKM. Dari total tersebut, sekitar Rp23 triliun disalurkan ke sektor produksi.
Meski demikian, ia mengingatkan pembiayaan tidak akan optimal apabila tidak disertai peningkatan kapasitas usaha, pemenuhan legalitas, perbaikan kualitas produk, dan perluasan akses pasar.
“Kalau pembiayaan sudah diberikan, tetapi produknya tidak bisa dijual, usaha juga akan kesulitan berkembang. Karena itu, selain legalitas dan pembiayaan, pasar menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi UMKM,” kata Maman.
Pemerintah, lanjutnya, juga memperkuat posisi produk lokal di pasar domestik sekaligus mendorong produk unggulan nasional menembus pasar ekspor.
Kementerian UMKM bersama Kementerian Perdagangan terus mengupayakan perluasan akses pasar, kemudahan regulasi, serta insentif bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar internasional, termasuk produk unggulan dari Jawa Timur.
“Catatan pertama kalau kita bicara ekspor adalah kualitas. Produk lokal kita tidak kalah kualitasnya. Sekarang kami bersama Kementerian Perdagangan terus membuka akses agar produk-produk Indonesia, termasuk dari Jawa Timur, dapat masuk ke pasar internasional,” ujarnya.
ITS Kembangkan Lebih dari 180 Perusahaan Rintisan
Pada kesempatan yang sama, Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan perguruan tinggi siap berperan dalam meningkatkan kapasitas teknologi, inovasi, produktivitas, dan daya saing UMKM di Jawa Timur.
ITS menjalankan peran tersebut melalui sejumlah program, termasuk pendampingan desain kemasan bagi UMKM dan pengembangan lebih dari 180 perusahaan rintisan melalui Inkubator dan Layanan Bisnis Inovasi (ILBI) ITS.
Bambang berharap Bursa Wirausaha Unggulan dapat memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam menyediakan dukungan teknologi, desain, dan inovasi bagi pelaku usaha.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi penyemangat bagi perguruan tinggi untuk berperan sebagai enabler teknologi, desain, dan inovasi bagi UMKM. Kami siap mendukung upaya pemerintah untuk menaikkan level UMKM sehingga menjadi pemeran utama kemandirian ekonomi bangsa,” kata Bambang.
Melalui penguatan inkubator dan kolaborasi lintas sektor, Kementerian UMKM berharap pelaku usaha memperoleh pendampingan yang berkelanjutan, akses pembiayaan dan teknologi, serta peluang pasar yang lebih luas untuk mengembangkan usaha dan menciptakan lapangan kerja.




































