Jakarta – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menggelar pertemuan bilateral dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ralf Beste di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Kamis (27/2). Pertemuan ini membahas penguatan kolaborasi kebudayaan Indonesia–Jerman, mulai dari pembaruan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU), penguatan pusat kebudayaan, hingga percepatan repatriasi objek bersejarah.
Fadli menegaskan, hubungan Indonesia dan Jerman telah terjalin kuat selama puluhan tahun, salah satunya melalui Agreement on Cultural Cooperation yang ditandatangani sejak 1988. Namun, menurutnya, kerangka kerja sama tersebut perlu diperbarui agar relevan dengan dinamika global dan prioritas kedua negara saat ini.
Indonesia dan Jerman memiliki perjanjian kerja sama kebudayaan sejak 1988. Mungkin ini saat yang tepat untuk memperbarui kerja sama tersebut agar lebih kontekstual,” ujar Fadli.
Selain pembaruan MoU, Fadli juga menyoroti pentingnya penguatan pusat kebudayaan Indonesia di Jerman, khususnya melalui pengembangan Rumah Budaya Indonesia. Saat ini, Indonesia telah memiliki Rumah Budaya Indonesia yang berlokasi di KBRI Berlin.
Kami ingin memperkuat hubungan antar-masyarakat dengan kehadiran Rumah Budaya Indonesia di Jerman,” kata Fadli.
Repatriasi Fosil dan Kolaborasi Film
Dalam dialog tersebut, Fadli turut membahas rencana diskusi lanjutan terkait repatriasi sejumlah fosil yang berada di Jerman, di antaranya 13 fosil Manusia Purba Sangiran yang saat ini tersimpan di Museum Senckenberg. Selain itu, dibahas pula peluang co-production film yang mengangkat kisah Georg Eberhard Rumphius, naturalis asal Jerman yang pernah tinggal dan berkarya di Ambon.
Ralf Beste menyambut positif berbagai usulan penguatan kerja sama kebudayaan tersebut. Menurutnya, bidang kebudayaan mulai dari sejarah, film, buku, hingga isu repatriasi objek cagar budaya—memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual.
Kerja sama permuseuman juga menjadi aspek penting yang dapat terus kita kembangkan bersama,” ujar Ralf.
Pada pertemuan itu, Fadli didampingi Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kementerian Kebudayaan Endah T.D. Retnodwiastuti, serta Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya.
Menutup pertemuan, Fadli menyatakan kesiapan Indonesia menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Indonesia pada 9 Maret 2026 mendatang. Dalam lawatan tersebut, juga direncanakan kehadiran Direktur Frankfurt Book Fair, yang dinilai membuka peluang baru kerja sama di bidang literasi dan industri kreatif.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memajukan kebudayaan Indonesia di tingkat global melalui diplomasi budaya. Keberadaan Rumah Budaya Indonesia di Berlin diharapkan menjadi jembatan pengenalan budaya Indonesia yang lebih luas di Jerman dan Eropa.


































