Fadli Zon Resmikan Pameran Nusa Wastra 2026, Dorong Kain Tradisional Jadi Kekuatan Budaya Indonesia

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk "Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara" di Museum Negeri Sonobudoyo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (7/6).

JAKARTA – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Negeri Sonobudoyo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (7/6).

Pameran yang berlangsung hingga 29 Juli 2026 itu menampilkan kekayaan wastra Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia sebagai representasi identitas budaya, nilai filosofis, dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Fadli menegaskan bahwa wastra tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya bangsa, tetapi juga memiliki nilai strategis sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.

Wastra dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif karena mudah dikenali dan menjadi bagian dari soft power Indonesia. Yang tidak kalah penting, wastra juga merupakan elemen dari industri budaya dan ekonomi budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” kata Fadli.

Menurut dia, keberagaman budaya Indonesia yang terdiri dari lebih dari 1.340 kelompok etnis dan tersebar di lebih dari 17 ribu pulau tercermin dalam ragam kain tradisional yang dimiliki setiap daerah.
Ia menyebut batik, songket, tenun, hingga kain ikat bukan sekadar produk budaya yang memiliki nilai estetika, melainkan juga menyimpan filosofi, harapan, serta pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Fadli juga menyoroti pengakuan dunia terhadap batik dan kebaya yang dinilai menunjukkan besarnya daya tarik wastra Indonesia di tingkat internasional.
Selain memiliki nilai budaya, ia menilai sektor wastra menyimpan potensi ekonomi yang besar karena melibatkan para perajin, pembatik, penenun, hingga komunitas budaya yang tersebar di berbagai daerah.
Dalam kesempatan itu, Fadli turut menekankan pentingnya transformasi museum agar semakin relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, museum harus menjadi etalase budaya dan peradaban yang mampu menghadirkan pengalaman edukatif sekaligus menarik bagi masyarakat.

Penguatan tata pamer, penyusunan narasi yang baik, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas perlu terus didorong,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi museum-museum di seluruh Indonesia yang diselenggarakan secara bergilir.

Ia menjelaskan kegiatan itu bertujuan memperkuat kerja sama antarlembaga budaya, menghadirkan narasi baru yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus meningkatkan minat generasi muda terhadap museum dan warisan budaya bangsa.

Pameran ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan, terutama di kalangan generasi muda, terhadap Wastra Nusantara sehingga mendorong partisipasi dalam upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kain di masa depan,” kata Ni Made.

Pameran “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” digelar di Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo dengan menampilkan 85 koleksi utama dan 22 koleksi penunjang hasil kolaborasi 40 lembaga yang terdiri dari 36 museum serta sejumlah institusi pendukung.

Selain menikmati pameran, masyarakat juga dapat mengikuti berbagai kegiatan pendukung seperti seminar, talkshow, workshop, dan lomba desain yang digelar selama penyelenggaraan acara.

Fadli berharap pameran tersebut dapat menjadi sarana edukasi sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan wastra Indonesia.
“Kita berharap semakin banyak kain tradisional Indonesia yang dikenal di dunia internasional, semakin familiar, dan semakin mendapatkan apresiasi, baik dari masyarakat dunia maupun masyarakat Indonesia sendiri,” ujarnya

Berita Terkait

Kemenbud Bahas Kerja Sama Budaya RI-Maroko, Soroti Kolaborasi Musik Tradisional
Fadli Zon: Perfilman Jadi Instrumen Penting Diplomasi Budaya Indonesia
Dorong Budaya Cerutu Lokal, Sultan Cigar Gelar Cigarnesia Terbuka untuk Umum
Indonesia Incar Kursi Strategis UNESCO 2026–2030, Dorong Diplomasi Budaya Berbasis Komunitas
Perayaan 71 Tahun KAA di Bandung, Fadli Zon Tegaskan Budaya Jadi Kunci Perdamaian Dunia
Indonesia-Arab Saudi Perkuat Kerja Sama Budaya, Dorong Kolaborasi Film hingga Warisan Takbenda
Menbud Tinjau Cagar Budaya di Kuningan, Tegaskan Komitmen Pelestarian dan Revitalisasi
Fadli Zon Tinjau Cagar Budaya di Kuningan, Tekankan Kolaborasi Pelestarian
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 20:12 WIB

Fadli Zon Resmikan Pameran Nusa Wastra 2026, Dorong Kain Tradisional Jadi Kekuatan Budaya Indonesia

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:46 WIB

Kemenbud Bahas Kerja Sama Budaya RI-Maroko, Soroti Kolaborasi Musik Tradisional

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:10 WIB

Fadli Zon: Perfilman Jadi Instrumen Penting Diplomasi Budaya Indonesia

Senin, 4 Mei 2026 - 11:45 WIB

Dorong Budaya Cerutu Lokal, Sultan Cigar Gelar Cigarnesia Terbuka untuk Umum

Sabtu, 25 April 2026 - 10:14 WIB

Indonesia Incar Kursi Strategis UNESCO 2026–2030, Dorong Diplomasi Budaya Berbasis Komunitas

Berita Terbaru