Mencari Kebenaran, Menemukan Keyakinan: Kisah Spiritual Rita Elsita Memeluk Islam

- Jurnalis

Senin, 3 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Rita Elsita (60), seorang pedagang mainan anak-anak di Pasar Krengzo, Jakarta Timur, yang membagikan perjalanan spiritualnya memeluk Islam kepada wartawan secara eksklusif pada Senin (3/8/2026) di Jalan Kebon Sayur I, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. (Dok-okj/fn)

Foto: Rita Elsita (60), seorang pedagang mainan anak-anak di Pasar Krengzo, Jakarta Timur, yang membagikan perjalanan spiritualnya memeluk Islam kepada wartawan secara eksklusif pada Senin (3/8/2026) di Jalan Kebon Sayur I, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. (Dok-okj/fn)

JAKARTA – Perjalanan seseorang dalam menemukan keyakinan merupakan pengalaman yang sangat pribadi. Setiap individu memiliki latar belakang, proses pencarian, serta alasan yang berbeda ketika menentukan pilihan hidupnya. Salah satu kisah tersebut datang dari Rita Elsita (60), seorang pedagang mainan anak-anak di Pasar Krengzo, Jakarta Timur, yang membagikan perjalanan spiritualnya kepada wartawan secara eksklusif pada Senin (3/8/2026) di Jalan Kebon Sayur I, Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

Dalam wawancara tersebut, Rita mengisahkan perjalanan panjang yang membawanya memeluk agama Islam pada Agustus 2001. Menurutnya, keputusan tersebut bukan diambil secara tiba-tiba ataupun karena tekanan dari pihak mana pun, melainkan lahir dari proses pencarian spiritual yang berlangsung cukup lama.

“Keputusan saya masuk Islam murni karena keinginan sendiri. Saya ingin tahu tentang Islam, saya belajar dulu, memahami dulu, baru akhirnya saya mantap memeluk Islam,” ujarnya.

Perempuan yang lahir pada 1 April 1966 di Tampa, Kabupaten Tamiang Layang, Barito Timur, Kalimantan Tengah, tersebut mengaku sejak awal memiliki rasa penasaran terhadap ajaran Islam.

Ia menegaskan bahwa sebelum mengucapkan syahadat, dirinya terlebih dahulu mempelajari berbagai dasar ajaran Islam, mulai dari mengenal Sifat 20, tata cara salat, hingga berbagai prinsip dasar dalam menjalankan ibadah.

Menurut Rita, proses belajar tersebut berlangsung cukup lama hingga akhirnya muncul keyakinan dalam dirinya untuk memeluk Islam.

“Saya tidak langsung masuk Islam. Saya belajar dulu, memahami dulu. Setelah saya benar-benar mengerti, baru saya merasa yakin,” katanya.

Selain proses belajar, Rita juga mengaku mengalami sejumlah pengalaman yang menurutnya memiliki makna spiritual dalam perjalanan hidupnya.

Ia menceritakan beberapa mimpi yang berulang, seperti melihat kilatan petir selama tiga malam berturut-turut, menaiki tangga tinggi hingga seolah berada di langit, serta mimpi melihat sebuah tempat yang diyakininya sebagai Kota Makkah.

Rita juga berkisah pernah bermimpi berada di tengah lautan dengan memegang sepotong kayu untuk bertahan hidup, hingga mimpi melihat banyak ular yang kemudian dimaknainya sebagai simbol agar dirinya tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.

Menurut Rita, pengalaman-pengalaman tersebut semakin mendorong dirinya untuk mencari makna kehidupan dan memperdalam pencarian terhadap kebenaran menurut keyakinannya.

Perlu dipahami bahwa pengalaman mimpi yang disampaikan Rita merupakan pengalaman pribadi dan menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang ia alami. Pengalaman tersebut bersifat subjektif dan tidak dapat dijadikan dasar umum dalam memahami ajaran agama.

Dalam penuturannya, Rita juga menjelaskan bahwa dirinya sebelumnya dibesarkan dalam lingkungan keluarga nonmuslim.

Ia mengungkapkan bahwa setelah mempelajari Islam, dirinya merasa lebih mantap menjalankan ajaran agama tersebut.

“Saya percaya berdasarkan keyakinan saya sendiri. Setelah mempelajari Islam selama bertahun-tahun, saya merasa inilah jalan hidup yang saya yakini,” ungkapnya.

Rita juga menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati pemeluk agama lain. Menurutnya, setiap orang memiliki kebebasan dalam menentukan keyakinan masing-masing.

Ia menjelaskan bahwa proses perpindahan agamanya bukan dilandasi rasa benci terhadap agama sebelumnya, melainkan karena keyakinan pribadi yang tumbuh setelah melalui proses pembelajaran.

Sejak 2015, Rita mencari nafkah dengan berjualan mainan anak-anak di Pasar Krengzo, Jakarta Timur.

Pekerjaan tersebut menjadi sumber penghidupan sehari-hari setelah dirinya menetap di Jakarta.

Rita pertama kali datang ke Jakarta pada November 2001 setelah menikah. Ia mengatakan suami pertamanya merupakan warga asli Jakarta, sedangkan suami keduanya berasal dari Surabaya.

Dalam perjalanan rumah tangganya, Rita pernah mengalami perceraian dengan suami pertama saat dirinya tengah mengandung dua bulan anak kelima.

Dari pernikahan pertama, ia dikaruniai lima orang anak, sedangkan dari pernikahan kedua yang berlangsung pada 2006, ia memperoleh satu orang anak laki-laki.

Dengan demikian, Rita merupakan ibu dari enam orang anak, terdiri atas empat laki-laki dan dua perempuan.

Suami keduanya meninggal dunia pada 13 Desember 2024, sehingga kini Rita menjalani kehidupannya sebagai seorang ibu sekaligus nenek.

Saat ini Rita telah memiliki tujuh orang cucu dan tengah menantikan kelahiran cucu kedelapan dari anak ketiganya yang menurut informasi akan menjalani persalinan melalui operasi Caesar.

Di usia 60 tahun, ia mengaku lebih banyak memikirkan masa depan anak-anak serta cucu-cucunya dibandingkan kepentingan pribadinya.

Menurut Rita, pendidikan agama menjadi bekal terpenting yang ingin diwariskan kepada keluarganya.

“Saya hanya ingin anak-anak saya menjadi orang yang baik, menjalankan salat dengan baik, menjalankan agamanya dengan baik. Soal rezeki saya percaya Allah yang mengatur,” katanya.

Ia mengaku bersyukur karena anak-anaknya kini menjalankan ajaran Islam dan terus belajar memperbaiki kualitas ibadah.

Menjelang usia senja, Rita memiliki harapan sederhana.

Ia ingin menjalani sisa hidupnya dengan tenang, istiqamah dalam beribadah, serta meninggalkan keluarga dalam keadaan memiliki bekal agama yang baik.

“Saya ingin hidup tenang sampai akhir hayat. Yang paling saya harapkan adalah anak-anak saya bisa menjalankan ibadah dengan baik. Kalau suatu saat saya sudah tidak ada, saya ingin mereka tetap menjadi orang yang menjaga agamanya dan menjalani hidup dengan baik,” tuturnya.

Bagi Rita, kebahagiaan bukan semata-mata diukur dari materi, melainkan dari ketenangan hati, kekuatan iman, serta keberhasilan mendidik anak-anak agar menjadi pribadi yang berakhlak dan taat beribadah.

Kisah perjalanan hidup Rita Elsita menunjukkan bahwa proses menemukan keyakinan merupakan perjalanan yang sangat personal. Melalui pengalaman belajar, refleksi, dan pencarian makna hidup yang panjang, ia memutuskan memeluk Islam pada tahun 2001 dan hingga kini berusaha menjaga komitmennya untuk menjalankan ajaran yang diyakininya, sembari tetap menghormati keberagaman keyakinan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Kanjeng Yoga Panjatkan Doa Keselamatan Bangsa di Bawah Purnama Gunung Padang
Pakar Spiritual Ungkap Terawangan 2026: Ancaman Energi Api hingga Potensi Bencana, Publik Diminta Waspada Tanpa Panik
Aktor Laga Ricky Hosada Ungkap Kesaksian Iman dan Kisah Duka Kehilangan Istri Tercinta
Haul ke-220 Syekh Arsyad Al-Banjari: Lautan Jamaah Padati Matraman, Spirit Ulama Besar Ditegaskan di Tengah Riuh Kota
Iman, Pengorbanan dan Toleransi: Video Jumat Agung Erdi Surbakti Sentuh Kesadaran Publik
Penutupan Gema Ramadhan Cakung Barat Jadi Momentum Perkuat Spiritualitas dan Solidaritas Warga
Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H, Fastco Parking Resmikan Area Parkir dan Santuni Anak Yatim di Pondok Cina Depok
Santri Pesantren Salafiyah Tarbiyatul Falah Al-Malikiyyah Berbagi Bubur Kacang, Sambut Ngaji Sambil Menanti Berbuka
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:48 WIB

Mencari Kebenaran, Menemukan Keyakinan: Kisah Spiritual Rita Elsita Memeluk Islam

Rabu, 1 Juli 2026 - 15:25 WIB

Kanjeng Yoga Panjatkan Doa Keselamatan Bangsa di Bawah Purnama Gunung Padang

Rabu, 29 April 2026 - 17:40 WIB

Pakar Spiritual Ungkap Terawangan 2026: Ancaman Energi Api hingga Potensi Bencana, Publik Diminta Waspada Tanpa Panik

Kamis, 23 April 2026 - 22:45 WIB

Aktor Laga Ricky Hosada Ungkap Kesaksian Iman dan Kisah Duka Kehilangan Istri Tercinta

Minggu, 12 April 2026 - 20:30 WIB

Haul ke-220 Syekh Arsyad Al-Banjari: Lautan Jamaah Padati Matraman, Spirit Ulama Besar Ditegaskan di Tengah Riuh Kota

Berita Terbaru