Teknologi Undercooling Perkuat Penanganan Karhutla Gambut di Kalsel

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Polri Bersama Tim Gabungan Gunakan Cara Baru Hadapi Karhutla Gambut. (Dok: Istimewa)

Foto: Polri Bersama Tim Gabungan Gunakan Cara Baru Hadapi Karhutla Gambut. (Dok: Istimewa)

BANJARBARU – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan memasuki fase yang semakin mengandalkan pendekatan berbasis teknologi, Kamis (3/9/2026). Tantangan utama bukan hanya memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan panas dan bara yang tersimpan di bawah lapisan gambut benar-benar berhasil didinginkan sehingga tidak kembali memicu kebakaran.

Kondisi tersebut mendorong Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) bersama TNI, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, instansi teknis, dunia usaha, relawan, dan masyarakat menerapkan pola penanganan terpadu yang memadukan kekuatan personel dengan teknologi pendeteksi serta pendingin bawah permukaan.

Salah satu lokasi yang menjadi contoh penerapan metode tersebut berada di kawasan Pengayuan, Banjarbaru. Di wilayah ini, penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi penggunaan drone thermal, sistem pipa undercooling, serta cairan pemadam berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate (MES) yang dikembangkan Bidlabfor Polda Kalsel.

Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk karakter lahan gambut yang memiliki tantangan berbeda dibandingkan lahan biasa. Api dapat terlihat telah padam di permukaan, namun panas masih tersimpan di dalam lapisan gambut dan berpotensi menyebabkan bara kembali muncul.

Dalam penanganan konvensional, petugas umumnya mengandalkan pengamatan visual untuk mengetahui keberadaan api. Namun, pada lahan gambut, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan karena sumber panas tidak selalu tampak dari permukaan.

Karena itu, drone thermal digunakan untuk membantu petugas mendapatkan gambaran temperatur di lokasi secara lebih menyeluruh.

Teknologi tersebut digunakan sebelum dan sesudah proses pemadaman maupun pendinginan. Dengan demikian, petugas dapat membandingkan kondisi temperatur sebelum dan setelah penanganan.

Pada salah satu titik pengujian di kawasan Pengayuan, pemantauan awal menggunakan drone thermal mendeteksi temperatur tanah gambut mencapai sekitar 120 derajat Celsius.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk melakukan tindakan lanjutan. Petugas tidak hanya melakukan pembasahan dari permukaan, tetapi juga berupaya mendinginkan lapisan gambut yang berada di bawah tanah.

Sistem undercooling menjadi salah satu metode yang diterapkan untuk menjangkau sumber panas di bawah permukaan. Pipa ditancapkan hingga kedalaman sekitar dua meter ke dalam lapisan gambut.

Melalui pipa tersebut, cairan pemadam diinjeksi langsung menuju bagian bawah permukaan yang masih menyimpan panas.

Pada saat yang sama, petugas tetap melakukan penyiraman, pemadaman, dan pembasahan dari permukaan. Artinya, metode baru tersebut tidak menggantikan teknik konvensional, tetapi menjadi pelengkap untuk menjangkau sumber panas yang sulit diketahui hanya melalui pengamatan visual.

Pada titik pengujian tersebut, cairan kemudian diinjeksi melalui sistem pipa undercooling selama kurang lebih satu menit.

Setelah proses penanganan selesai, drone thermal kembali digunakan untuk memantau lokasi.

Hasil pemantauan menunjukkan temperatur pada titik yang sebelumnya terdeteksi panas turun ke kisaran 30 derajat Celsius. Titik panas yang sebelumnya terlihat juga tidak kembali terdeteksi pada pemantauan berikutnya.

Temuan tersebut menjadi salah satu indikator awal yang digunakan tim untuk mengevaluasi manfaat penerapan teknologi tersebut di lapangan.

Namun, efektivitas metode tetap perlu diuji dan dievaluasi secara berkelanjutan, mengingat karakter kebakaran gambut sangat dipengaruhi kondisi lahan, cuaca, kelembapan, kedalaman bara, serta faktor lingkungan lainnya.

Dari sisi kekuatan personel, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan melibatkan sumber daya dalam jumlah besar.

Sebanyak 3.030 personel Polda Kalsel menjadi bagian dari 11.681 personel gabungan yang disiapkan untuk menghadapi potensi karhutla di wilayah tersebut.

Pengerahan personel disesuaikan dengan tingkat kerawanan dan kebutuhan masing-masing wilayah. Strategi tersebut dilakukan agar kekuatan yang tersedia dapat diarahkan secara proporsional ke lokasi yang membutuhkan penanganan.

Khusus kawasan Pengayuan, sedikitnya 350 personel gabungan diterjunkan. Mereka berasal dari unsur Polri, TNI, BPBD, Dinas Perkebunan dan Peternakan, pihak perusahaan, serta unsur pendukung lainnya.

Para personel bekerja dalam tiga shift. Pola tersebut memungkinkan proses pemadaman, pembasahan, pendinginan, dan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan tanpa bergantung pada satu periode waktu tertentu.

Dengan sistem tersebut, penanganan tidak berhenti ketika api permukaan terlihat padam. Lokasi tetap dipantau untuk memastikan tidak terdapat sumber panas yang berpotensi berkembang kembali.

Salah satu bagian dari inovasi yang diterapkan adalah cairan pemadam berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate atau MES.

Formula tersebut dikembangkan oleh Bidlabfor Polda Kalsel untuk mendukung penerapan sistem undercooling. Dalam penggunaannya, sekitar 100 liter formula dapat dicampurkan dengan 12.000 liter air dalam satu kolam bioflok portable.

Kolam berkapasitas 12.000 liter tersebut diposisikan untuk mendekatkan sumber air ke lokasi penanganan. Air dan formula kemudian dapat dimanfaatkan untuk pembasahan permukaan maupun proses injeksi melalui pipa undercooling.

Penggunaan kolam portable juga menjadi bagian dari upaya menyesuaikan sarana dengan kondisi lapangan, terutama di kawasan yang membutuhkan dukungan pasokan air lebih dekat dengan titik karhutla.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa penggunaan teknologi dalam penanganan karhutla bukan dimaksudkan untuk menggantikan metode pemadaman yang selama ini dilakukan petugas.

Menurutnya, teknologi berfungsi menambah kemampuan tim dalam menghadapi karakteristik kebakaran gambut.

“Kita tidak hanya melihat apakah api di permukaan sudah padam. Kita juga perlu mengetahui apakah masih ada panas yang tersimpan di bawah tanah. Drone thermal membantu menemukan titik panas, kemudian sistem undercooling digunakan untuk melakukan pendinginan dari bawah,” ujar Trunoyudo.

Ia menjelaskan, metode konvensional tetap menjadi bagian penting dalam operasi lapangan.

“Metode konvensional tetap dilakukan. Cara baru ini menambah kemampuan tim, khususnya ketika menghadapi karakter gambut yang memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan,” lanjutnya.

Dengan pendekatan tersebut, petugas bekerja dari dua sisi sekaligus. Permukaan ditangani melalui pemadaman dan pembasahan, sementara bagian bawah gambut ditargetkan melalui sistem pendinginan.

Selain kekuatan personel, Polda Kalsel juga menyiapkan sejumlah sarana pendukung untuk menghadapi potensi karhutla.

Peralatan yang disiapkan antara lain empat drone, 16 kendaraan AWC, enam kendaraan SAR, 115 kendaraan roda dua, 33 kendaraan R4 double cabin, 14 kendaraan R4 single cabin, tujuh kendaraan R4 tangki, 19 kendaraan R6 truck, 31 mesin pompa, lima pompa apung, serta lima pompa portable.

Ketersediaan sarana tersebut dimaksudkan untuk mendukung mobilitas personel, distribusi air, pemadaman, pencarian titik panas, hingga proses pendinginan di lokasi yang sulit dijangkau.

Kekuatan tersebut kemudian dipadukan dengan koordinasi lintas instansi sehingga penanganan tidak hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga deteksi dini dan pencegahan.

Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., bersama Gubernur Kalimantan Selatan dan unsur Forkopimda meninjau langsung penerapan metode penanganan karhutla tersebut di kawasan Pengayuan pada Rabu, 2 September 2026.

Dalam peninjauan itu, pola penanganan dilakukan secara terpadu mulai dari patroli, pendeteksian titik panas, pemadaman, pembasahan, pendinginan, hingga pemantauan ulang.

Kawasan Pengayuan menjadi salah satu lokasi yang menunjukkan bagaimana teknologi dapat dipadukan dengan pengerahan personel dalam menghadapi kebakaran di lahan gambut.

Meski demikian, penerapan metode tersebut tetap membutuhkan evaluasi untuk memastikan teknologi dapat digunakan secara efektif, aman, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan operasi di berbagai karakter lahan.

Trunoyudo menegaskan bahwa ukuran keberhasilan inovasi bukan sekadar pada teknologi yang digunakan, melainkan manfaat nyata yang diberikan kepada petugas.

“Kita tidak ingin inovasi hanya menjadi demonstrasi. Ukurannya adalah apakah benar-benar membantu petugas. Apakah lebih mudah diterapkan, apakah titik panas lebih cepat diketahui, dan apakah proses pendinginan dapat dilakukan dengan lebih tepat. Itu yang terus kita evaluasi,” katanya.

Kapolda Kalsel juga menginstruksikan Bidlabfor Polda Kalsel untuk meningkatkan produksi formula cairan pemadam sekaligus menyiapkan standardisasi sistem pipa undercooling.

Standardisasi tersebut diarahkan agar metode yang dikembangkan dapat digunakan secara lebih luas oleh Satgas Karhutla di wilayah Kalimantan Selatan.

Pengembangan sistem tersebut tidak hanya diarahkan untuk menangani kebakaran yang telah terjadi. Teknologi pendeteksi panas juga diharapkan dapat membantu menemukan potensi kebakaran lebih dini sehingga sumber panas dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Dengan demikian, pendekatan penanganan karhutla bergerak dari sekadar respons terhadap api menuju sistem yang menggabungkan deteksi, respons cepat, pendinginan, pemantauan, dan pencegahan.

Trunoyudo menegaskan bahwa karhutla merupakan persoalan kompleks yang tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi.

“Personel sudah dikerahkan, sarana sudah disiapkan, dan kerja bersama terus berjalan. Sekarang kita perkuat dengan teknologi dan cara baru. Tujuannya sederhana: ketika ada panas, kita bisa lebih cepat menemukan; ketika ada bara, kita bisa lebih tepat mendinginkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Polri membutuhkan dukungan seluruh unsur dalam menghadapi karhutla, mulai dari TNI, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, instansi teknis, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat.

“Polri tidak bekerja sendiri. Ada TNI, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, instansi teknis, dunia usaha, relawan, dan masyarakat. Semua memiliki peran. Inovasi ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat kemampuan bersama dalam menghadapi karhutla,” katanya.

Penanganan karhutla di Kalimantan Selatan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api yang terlihat. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan tidak ada sumber panas tersembunyi yang kembali memicu kebakaran.

Karena itu, pola penanganan di Pengayuan memperlihatkan pentingnya menggabungkan kekuatan manusia, sarana pemadam, pemantauan teknologi, serta pendekatan pendinginan bawah permukaan.

Rangkaian penanganan mulai dari deteksi titik panas, pengerahan personel, pemadaman permukaan, pembasahan, pendinginan bawah tanah, pemantauan ulang, hingga pencegahan menjadi bagian dari strategi terpadu.

Penerapan drone thermal dan sistem undercooling dengan formula berbasis MES menjadi salah satu inovasi yang tengah diuji dan dikembangkan. Hasil awal berupa penurunan temperatur pada titik yang ditangani menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan berikutnya.

Dengan evaluasi yang konsisten dan sinergi lintas sektor, teknologi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai metode uji coba, tetapi dapat menjadi bagian dari kemampuan operasional dalam menghadapi karakteristik karhutla gambut yang sulit dipadamkan hanya dari permukaan.

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

KWI dan TNI AU Susun Roadmap MoU untuk Perkuat Pembinaan Rohani Prajurit Katolik
Pastikan Jembatan Garuda Berdaya Guna, Korem 081/DSJ Tinjau Infrastruktur di Madiun
Babinsa Mergayu Turun ke Sawah, Bantu Petani Bersihkan Gulma Padi
Brigjen TNI dr. Jonny Resmi Sandang Gelar Doktor dari UNAIR
Kapolda Jabar Bangun Kedekatan dengan Warga Lewat Jumat Keliling di Cimahi
Brigjen TNI (Mar) Pardosi Tekankan Respons Cepat dan Terukur Tangani Karhutla
65 Orang yang Diduga Hendak Picu Kericuhan dalam Demo di Amankan Polda Metro Jaya
Berbekal CCTV, Tim Tiger Tambora Ringkus Dua Pelaku Curanmor
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 19:10 WIB

Teknologi Undercooling Perkuat Penanganan Karhutla Gambut di Kalsel

Kamis, 3 September 2026 - 17:49 WIB

KWI dan TNI AU Susun Roadmap MoU untuk Perkuat Pembinaan Rohani Prajurit Katolik

Rabu, 2 September 2026 - 14:06 WIB

Pastikan Jembatan Garuda Berdaya Guna, Korem 081/DSJ Tinjau Infrastruktur di Madiun

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Babinsa Mergayu Turun ke Sawah, Bantu Petani Bersihkan Gulma Padi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:45 WIB

Brigjen TNI dr. Jonny Resmi Sandang Gelar Doktor dari UNAIR

Berita Terbaru

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan kompetensi tenaga kerja untuk menangkap peluang penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs yang diproyeksikan mencapai 5,3 juta hingga 9 juta lapangan kerja baru dalam 5-10 tahun ke depan.

Bisnis Ekonomi

Kemnaker Siapkan Kompetensi Tenaga Kerja Sambut 9 Juta Green Jobs

Kamis, 3 Sep 2026 - 08:43 WIB