Dari Mitos ke Layar Lebar, FFHoror IX Mengupas Wajah Baru Film Horor Indonesia

- Jurnalis

Sabtu, 19 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Festival Film Horor (FFHoror) IX yang digelar di JTown Food & Entertainment Center, Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Jumat, 18 September 2026. (Istimewa)

Foto: Festival Film Horor (FFHoror) IX yang digelar di JTown Food & Entertainment Center, Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Jumat, 18 September 2026. (Istimewa)

JAKARTA – Film horor Indonesia tidak lagi semata-mata dipandang sebagai genre yang bertujuan menghadirkan rasa takut kepada penonton. Di balik kisah mistis, kemunculan makhluk supranatural dan berbagai adegan menegangkan, film horor juga dapat menjadi ruang untuk merefleksikan budaya, tradisi, spiritualitas, mitologi serta dinamika kehidupan masyarakat.

Perspektif tersebut mengemuka dalam Festival Film Horor (FFHoror) IX yang digelar di JTown Food & Entertainment Center, Jalan Jatinegara Timur, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Jumat (18/9/2026).

Salah satu agenda utama festival adalah diskusi bertajuk “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia”. Diskusi menghadirkan praktisi perfilman, produser sekaligus penulis skenario Budi Sumarno dan sutradara Hasto Broto sebagai narasumber. Jalannya diskusi dipandu Didang Prajasasmita, jurnalis senior sekaligus pengamat film.

Rangkaian kegiatan diawali penampilan grup musik 7Dunia yang membawakan tiga lagu. Pertunjukan tersebut menjadi pembuka suasana festival sebelum peserta memasuki pembahasan mengenai perkembangan film horor Indonesia dari perspektif budaya, kreativitas hingga industri.

Dalam diskusi tersebut, Budi Sumarno menjelaskan bahwa film horor Indonesia memiliki perjalanan yang panjang. Perkembangannya tidak terlepas dari cerita rakyat, mitos, ritual, kepercayaan masyarakat hingga berbagai bentuk pertunjukan tradisional yang kemudian mengalami transformasi menjadi karya sinematik.

Menurut Budi, salah satu karakter yang menarik dari film horor Indonesia adalah sinkretisme, yakni pertemuan dan pengolahan berbagai unsur budaya, tradisi, kepercayaan lokal dan agama yang kemudian menghasilkan konstruksi cerita baru.

Mitos yang berasal dari berbagai daerah, kata dia, tidak selalu dipindahkan secara utuh ke dalam film. Para penulis skenario dan sutradara melakukan proses kreatif dengan menggabungkan mitologi lokal dengan kehidupan modern, tradisi masyarakat, unsur spiritualitas maupun konflik manusia.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman budaya, pendekatan tersebut membuat film horor berpotensi menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan berbagai aspek kebudayaan kepada masyarakat.

Tradisi leluhur, sejarah lokal, tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai sakral hingga praktik ritual dapat menjadi bagian dari latar maupun konflik dalam cerita.

Namun, daya tarik film horor menurut Budi tidak berhenti pada upaya menciptakan rasa takut.

Rasa ingin tahu penonton terhadap misteri, identitas makhluk yang muncul, penyebab terjadinya teror serta bagaimana konflik akhirnya diselesaikan juga menjadi bagian penting yang membuat sebuah film horor menarik untuk diikuti.

Dalam paparannya, Budi juga menguraikan tiga pendekatan atau subgenre horor modern yang berkembang dalam perfilman.

Pertama, Apocalyptic Horror, yakni cerita horor yang berangkat dari ancaman kehancuran dunia atau peradaban.

Kedua, Demonic Horror, yang menempatkan iblis, setan atau entitas supranatural sebagai sumber ancaman utama.

Ketiga, Psychological Horror, yang membangun ketegangan melalui trauma, paranoia, rasa bersalah maupun gangguan terhadap persepsi manusia.

Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa horor tidak harus selalu bergantung pada kemunculan sosok hantu. Ketakutan dapat dibangun melalui situasi, konflik psikologis, kepercayaan, simbol, lingkungan maupun persoalan manusia.

Budi menilai perkembangan tersebut turut memperluas ruang kreatif sineas Indonesia.

Film horor, dalam perspektif itu, dapat menjadi medium hiburan sekaligus membawa penonton mengenal budaya, sejarah, tradisi, kepercayaan serta berbagai persoalan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Sementara itu, sutradara Hasto Broto menyoroti persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni pembagian tanggung jawab antara aspek kreatif dan bisnis dalam produksi film.

Menurut Hasto, ketika produser telah menentukan sebuah genre atau proyek film untuk diproduksi, sutradara memiliki tanggung jawab utama untuk menerjemahkan cerita tersebut ke dalam karya sinematik dengan kualitas terbaik.

Ia menilai seorang sutradara harus berkonsentrasi pada storytelling, penyutradaraan pemain, pembangunan suasana hingga aspek visual.

Sementara persoalan mengenai strategi bisnis, pemasaran dan bagaimana film dapat menjangkau penonton merupakan bagian yang harus dikelola dari sisi produksi dan produser.

Hasto juga mengingatkan bahwa kualitas sebuah film dan keberhasilan komersial merupakan dua persoalan yang tidak selalu berjalan secara otomatis.

Sebuah film yang mendapatkan perhatian besar di media sosial, misalnya, belum tentu secara langsung membuat masyarakat datang ke bioskop. Sebaliknya, keberhasilan sebuah film juga dipengaruhi oleh banyak faktor di luar proses kreatif semata.

Karena itu, menurutnya, tidak ada kepastian sejak awal bahwa sebuah karya akan berhasil secara komersial.

Hasto menegaskan bahwa kekuatan utama film horor tetap berada pada kemampuan sineas membangun rasa takut dan ketegangan.

Namun, sumber ketakutan tersebut dapat berasal dari berbagai hal, termasuk mitos, tradisi, spiritualitas maupun konflik antarmanusia.

Ia juga mengingatkan bahwa perfilman Indonesia memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada genre horor.

Berbagai film nasional juga mengangkat persoalan pendidikan, kemanusiaan dan isu sosial, termasuk kehidupan penyandang disabilitas.

Dengan demikian, film menurut Hasto merupakan medium yang memiliki ruang ekspresi luas. Film dapat memberikan hiburan dan ketegangan sekaligus membawa pesan sosial maupun nilai-nilai kemanusiaan.

Diskusi kemudian berkembang ketika Ketua Dewan Juri FFHoror, Ncank Mail, menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara karya film dan budaya lokal.

Menurut Ncank Mail, setiap film merupakan hasil dari proses kreatif. Karena itu, sebuah karya tidak lahir dari ruang yang sepenuhnya objektif. Perspektif pembuat film dan perspektif penonton dapat berbeda dalam memahami cerita yang sama.

Ia juga menilai belum terdapat formula tunggal yang dapat menjamin sebuah film pasti berhasil.

Sineas, menurutnya, perlu memiliki kepekaan dalam membaca perkembangan masyarakat dan pasar, tetapi pada saat yang sama tetap memperhatikan kualitas cerita serta proses produksinya.

Ncank Mail juga mempertanyakan perspektif yang semestinya menjadi pijakan utama dalam proses pembuatan film: apakah sudut pandang penulis skenario, sutradara, produser atau penonton sebagai penerima akhir sebuah karya.

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika semakin banyak film horor Indonesia mengambil inspirasi dari mitos, cerita rakyat dan tradisi lokal.

Salah satu pembahasan penting dalam diskusi FFHoror IX adalah mengenai posisi film sebagai medium pelestarian mitologi Nusantara.

Penggunaan mitos dan cerita rakyat dalam film dapat membuka kesempatan bagi generasi baru untuk mengenal kembali berbagai cerita yang berkembang di masyarakat.

Namun, proses adaptasi ke layar lebar juga menghadirkan pertanyaan mengenai perubahan makna.

Ncank Mail menyoroti kemungkinan terjadinya perubahan atau distorsi ketika mitologi tertentu diolah menjadi cerita film. Proses kreatif memang memberikan ruang bagi sineas untuk melakukan interpretasi, tetapi pemahaman terhadap konteks budaya menjadi salah satu aspek yang penting ketika mengangkat tradisi atau kepercayaan masyarakat sebagai sumber cerita.

Persoalan tersebut menjadi semakin menarik karena film horor memiliki kemampuan menjangkau masyarakat dalam skala luas. Interpretasi yang muncul di layar dapat memengaruhi cara sebagian penonton memahami kembali mitos atau tradisi yang menjadi sumber cerita.

Fenomena berkembangnya film horor Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika industri perfilman.

Cerita mengenai mitos, spiritualitas dan kepercayaan lokal memiliki kekuatan sebagai sumber gagasan karena berangkat dari pengalaman budaya yang dekat dengan kehidupan sebagian masyarakat.

Di sisi lain, unsur budaya tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi kreatif dan komersial industri film dalam menemukan cerita yang berbeda serta menarik perhatian penonton.

Perkembangan ini membuka ruang diskusi yang lebih luas: apakah kebangkitan film horor berbasis budaya menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap persoalan spiritualitas dan kepercayaan, atau sekaligus menunjukkan adanya peluang pasar bagi cerita yang memanfaatkan ketakutan berbasis budaya.

Jawabannya tidak sederhana karena keberhasilan sebuah film tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kualitas cerita, penyutradaraan, akting, produksi, promosi, distribusi hingga respons penonton.

Diskusi FFHoror IX pada akhirnya memperlihatkan bahwa film horor dapat dibaca dari berbagai sudut.

Dari sisi budaya, ia dapat menjadi ruang untuk mengangkat mitologi, tradisi dan identitas lokal. Dari sisi kreatif, horor menawarkan beragam pendekatan untuk membangun ketegangan dan konflik. Sementara dari sisi industri, genre tersebut menjadi bagian dari ekosistem bisnis perfilman yang membutuhkan strategi produksi, pemasaran dan distribusi.

Perdebatan mengenai sinkretisme, tanggung jawab terhadap budaya lokal dan hubungan antara kualitas karya dengan keberhasilan komersial menunjukkan bahwa perkembangan film horor Indonesia tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar rasa takut yang mampu diciptakan.

Lebih jauh, genre ini menjadi salah satu ruang pertemuan antara budaya, kreativitas, teknologi, pasar dan perubahan sosial.

FFHoror IX pun menjadi ruang dialog yang mempertemukan praktisi perfilman, sutradara, produser, jurnalis, komunitas dan penonton untuk melihat genre horor dari perspektif yang lebih luas.

Pada akhirnya, film horor tidak hanya dapat ditempatkan sebagai tontonan untuk menghadirkan ketakutan, tetapi juga sebagai medium yang merekam, menafsirkan dan memperkenalkan kembali beragam wajah budaya serta kehidupan masyarakat Indonesia.

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Dirjen Hubla Muhammad Masyhud Sampaikan Ucapan Selamat kepada Sri Suwanto
Mahasiswa UI Bikin Buku untuk Dampingi Anak Penyintas Bencana Hadapi Duka
Prof. Tubagus Bahrudin Pimpin Rapat Pleno Perdana PT Palma Global Indonesia
Genap 13 Tahun, Aeyra Shahira Pilih Rayakan Ulang Tahun Bersama Sahabat di Dunia Fantasi
Pramono Anung Tak Ingin Pemberitaan Tentang Jakarta Dilebih-lebihkan
Gema Tadarus 2026 Warnai HUT ke-41 Dufan, 1.000 Anak Yatim dan Dhuafa Nikmati Wahana Gratis
Raih Juara 1 Pentas Seni HUT RI ke-81, Anak-Anak RT 006 Cipinang Cempedak Dapat Apresiasi Liburan ke Atlantis Ancol
Polri Ajak Masyarakat Jaga Ketertiban Saat Penyampaian Aspirasi di Depan Gedung MPR/DPR RI
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 16:35 WIB

Dari Mitos ke Layar Lebar, FFHoror IX Mengupas Wajah Baru Film Horor Indonesia

Rabu, 16 September 2026 - 13:24 WIB

Dirjen Hubla Muhammad Masyhud Sampaikan Ucapan Selamat kepada Sri Suwanto

Selasa, 15 September 2026 - 14:26 WIB

Mahasiswa UI Bikin Buku untuk Dampingi Anak Penyintas Bencana Hadapi Duka

Selasa, 15 September 2026 - 10:54 WIB

Prof. Tubagus Bahrudin Pimpin Rapat Pleno Perdana PT Palma Global Indonesia

Minggu, 13 September 2026 - 17:41 WIB

Genap 13 Tahun, Aeyra Shahira Pilih Rayakan Ulang Tahun Bersama Sahabat di Dunia Fantasi

Berita Terbaru