Keluarga Korban Anak KB Tanggapi Hasil Otopsi: Proses Hukum Harus Tegakkan Keadilan Anak

- Jurnalis

Sabtu, 7 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Tim Hukum Martin Lukas Simanjuntak & Partners. (Dok/Fhm/Okj)

Foto: Tim Hukum Martin Lukas Simanjuntak & Partners. (Dok/Fhm/Okj)

JAKARTA – Menyusul konferensi pers yang digelar oleh Polda Riau pada Rabu (4/6), terkait hasil otopsi anak berinisial KB yang meninggal dunia di lingkungan sekolah di Kabupaten Indragiri Hulu, tim kuasa hukum keluarga korban menyampaikan sikap tegas dan resmi. Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Hukum Martin Lukas Simanjuntak & Partners, Jakarta, Sabtu (7/6/25). Tim pengacara menekankan pentingnya penegakan keadilan yang berpihak pada hak anak dan keluarga korban.

“Kami menegaskan bahwa dalam sistem perlindungan anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, setiap anak berhak atas perlindungan dari kekerasan fisik, kejahatan seksual, maupun bentuk kekerasan lainnya di lingkungan satuan pendidikan,” tegas Martin Lukas Simanjuntak, kuasa hukum keluarga KB.

Menurut pihak keluarga, kejadian ini tidak bisa dianggap selesai hanya dengan kesimpulan medis semata. Fakta bahwa kejadian bermula di sekolah mengindikasikan adanya potensi kelalaian institusi pendidikan dalam memberikan perlindungan maksimal terhadap peserta didik.

“Lingkungan sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat yang harus menjamin keselamatan fisik dan psikis anak. Maka dari itu, lembaga pendidikan juga harus dimintai pertanggungjawaban,” imbuh Martin.

KPAI Minta Proses Berkeadilan dan Pemulihan Korban

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang turut hadir secara daring dalam konferensi pers, menyatakan duka mendalam kepada keluarga korban dan menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga di Riau sejak 2 Juni.

“Kami telah menghubungi pihak Polres, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten, dan melakukan pengumpulan informasi awal. Kami menekankan agar proses hukum dilakukan secara transparan, independen, cepat, dan adil, serta mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak,” ujar Komisioner KPAI, Dian Sasmita.

KPAI juga merekomendasikan agar proses hukum tidak berhenti pada hasil medis, tetapi harus tetap mempertimbangkan kemungkinan adanya kelalaian sistemik. Selain itu, dukungan pemulihan psikososial bagi keluarga korban, terutama bagi adik korban yang masih kecil, harus menjadi perhatian serius negara.

Sorotan atas Hasil Otopsi

Sebelumnya, Polda Riau merilis hasil otopsi yang menyatakan bahwa korban meninggal akibat infeksi sistemik akibat pecahnya usus buntu, dan memar yang ditemukan tidak berkaitan langsung dengan kematian.

Namun, pihak keluarga menilai bahwa temuan ini belum cukup menjelaskan secara menyeluruh kronologi dan kemungkinan penyebab kekerasan sebelum kematian.

“Kami menghargai hasil medis, tapi fakta bahwa anak mengalami memar dan sempat dibawa ke tukang urut menunjukkan bahwa perlu penyelidikan lebih dalam. Kami meminta agar kasus ini tidak disimpulkan terburu-buru,” tambah Martin.

Tuntutan Keluarga dan Langkah Lanjutan

Tim kuasa hukum menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, termasuk menyiapkan pelaporan atas dugaan kelalaian dan kemungkinan tindak kekerasan terhadap anak.

“Keadilan bagi almarhum KB bukan hanya tentang siapa pelaku, tetapi tentang bagaimana negara memastikan tidak ada lagi anak yang menjadi korban di sekolah. Ini tentang pertanggungjawaban moral dan hukum,” ujar Martin.

Tim hukum juga menyerukan kepada masyarakat dan media untuk mengawal kasus ini dengan objektivitas dan empati. Konferensi pers ditutup dengan ajakan untuk terus mendorong penguatan sistem perlindungan anak di seluruh satuan pendidikan, khususnya di daerah tertinggal.

Penulis : Fahmy Nurdin

Editor : Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Nusakambangan Bertransformasi, Lahan Penjara Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan
Re -LUN Seret Nama Darmawan Prasodjo, Meteran Pintar Rp5 Triliun Jadi Sorotan, Re-LUN Minta Kejagung Telusuri Dugaan Suap di PLN
KemenHAM Jabar Kawal Pemenuhan Hak Korban Dugaan Penyekapan Selama Dua Tahun
Pelaku Penganiayaan Balita di Bekasi hingga Kini Belum Ditangkap, Sang Ibu Minta KDM Bertindak
Imigrasi Operasikan 306 Autogate, Cegah Pungli dan Percepat Pemeriksaan Penumpang
Tiga WN China Dideportasi Imigrasi Surabaya karena Manipulasi Data Visa
Kasus Perampokan Menteng Ternyata Rekayasa, Polisi Ungkap Dugaan Percobaan Pembunuhan oleh Rekan Korban
Enam WNA Pembuat Onar hingga Overstay Dideportasi dari Bali, Terancam Blacklist Seumur Hidup
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:03 WIB

Nusakambangan Bertransformasi, Lahan Penjara Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:54 WIB

Re -LUN Seret Nama Darmawan Prasodjo, Meteran Pintar Rp5 Triliun Jadi Sorotan, Re-LUN Minta Kejagung Telusuri Dugaan Suap di PLN

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:27 WIB

KemenHAM Jabar Kawal Pemenuhan Hak Korban Dugaan Penyekapan Selama Dua Tahun

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:21 WIB

Pelaku Penganiayaan Balita di Bekasi hingga Kini Belum Ditangkap, Sang Ibu Minta KDM Bertindak

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:52 WIB

Imigrasi Operasikan 306 Autogate, Cegah Pungli dan Percepat Pemeriksaan Penumpang

Berita Terbaru

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus mengawal pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di pondok pesantren sebagai upaya memperluas akses layanan kesehatan bagi santri sekaligus mendukung percepatan Program Prioritas Kerja Nasional (PKPN) bidang kesehatan.

Bisnis Ekonomi

Kemenko PMK Kawal Cek Kesehatan Gratis untuk 10 Ribu Santri di Lampung

Senin, 22 Jun 2026 - 13:34 WIB