JAKARTA – Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Utara (Kaltara) H. Alwan Saputra, S.Pi., M.M., menegaskan pentingnya Muktamar Nahdlatul Ulama sebagai momentum strategis untuk menyelesaikan berbagai dinamika internal organisasi sekaligus menentukan arah kepemimpinan ke depan. Hal itu disampaikannya usai menghadiri pertemuan para ketua PWNU se-Indonesia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).
Dalam keterangannya, Alwan menyebut pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi penting bagi seluruh pengurus wilayah untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada jajaran pimpinan pusat, termasuk Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
“Berbagai persoalan dan konflik internal yang selama ini menguras energi hingga ke tingkat bawah harus segera diselesaikan. Muktamar yang direncanakan berlangsung pada Agustus mendatang diharapkan menjadi titik terang bagi konsolidasi organisasi,” ujarnya.
Menurut Alwan, dinamika internal yang terjadi belakangan telah berdampak pada menurunnya produktivitas organisasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya Muktamar sebagai forum tertinggi dalam tubuh NU untuk merumuskan solusi yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Ia berharap seluruh pemegang mandat suara dari berbagai tingkatan kepengurusan dapat hadir dan menggunakan haknya secara bertanggung jawab dalam memilih kepemimpinan baru.
“Harapan kami, Muktamar ini benar-benar menjadi ajang demokrasi organisasi yang sehat, sehingga melahirkan kepengurusan yang mampu membawa NU ke arah yang lebih baik,” katanya.
Alwan juga menyinggung relevansi nilai-nilai keagamaan dalam momentum satu abad NU. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang munculnya pembaharu (mujaddid) setiap 100 tahun, yang menurutnya selaras dengan kondisi NU saat ini yang telah memasuki usia satu abad.
“NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Dengan usia yang telah mencapai 100 tahun, kami meyakini akan muncul pemimpin pembaharu yang mampu membawa NU lebih maju,” ujarnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan yang dibutuhkan bukan hanya kuat dalam aspek keagamaan, tetapi juga memiliki kapasitas dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebangsaan.
Terkait munculnya sejumlah nama yang disebut-sebut atau telah menyatakan diri siap maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU, Alwan menilai hal tersebut sebagai dinamika yang wajar dalam organisasi besar.
“Semakin banyak calon, semakin baik. Nanti akan terseleksi secara alamiah melalui dukungan struktural, administrasi, dan kompetensi di arena Muktamar,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada calon resmi karena seluruh proses akan ditentukan dalam forum Muktamar.
Lebih jauh, Alwan menekankan bahwa aspek keikhlasan menjadi kunci utama dalam memimpin NU. Ia mengingatkan bahwa organisasi yang didirikan para ulama tersebut memiliki tujuan luhur untuk kepentingan umat dan bangsa, bukan kepentingan politik praktis.
“NU ini bukan organisasi biasa. Didirikan oleh para kiai dengan keikhlasan tinggi untuk kemaslahatan umat dan negara. Maka pemimpin ke depan harus memiliki integritas dan niat yang lurus,” tegasnya.
Selain aspek kepemimpinan, Alwan juga menyoroti pentingnya penguatan ekonomi organisasi. Ia menilai, ke depan NU perlu dipimpin oleh figur yang memiliki visi kewirausahaan agar mampu mengelola potensi ekonomi secara optimal, termasuk sektor sumber daya alam.
Ia menyinggung potensi pengelolaan sumber daya di wilayah Kalimantan, khususnya yang bernilai strategis, agar dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga NU secara luas.
“Kalau dikelola dengan baik dan profesional, potensi ekonomi tersebut bisa menjadi sumber kesejahteraan bagi warga NU, bukan hanya di daerah tetapi secara nasional,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Alwan mengajak seluruh warga NU dan umat Islam di Indonesia untuk mendoakan agar Muktamar mendatang menghasilkan kepemimpinan terbaik.
“Kami berharap akan lahir pemimpin yang mampu membawa NU menjadi lebih baik, lebih sejahtera, dan tetap menjadi pilar penting dalam menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya.
Muktamar NU yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang dipandang sebagai momentum krusial dalam menentukan arah organisasi ke depan, di tengah tantangan internal dan eksternal yang semakin kompleks.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































