Musthafa Kasim: Desa Jadi Fokus Utama Pembangunan Nasional di Munas II PAPDESI 2026

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) PAPDESI Aceh yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Musthafa Kasim. (Dok-okj/fn)

Foto: Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) PAPDESI Aceh yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Musthafa Kasim. (Dok-okj/fn)

JAKARTA – Musyawarah Nasional (Munas) II Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (DPP PAPDESI) Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (11/5/2026), menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi aparatur pemerintahan desa dari seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut dihadiri para kepala desa, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAPDESI dari berbagai provinsi.

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) PAPDESI Aceh yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Musthafa Kasim, menyampaikan bahwa antusiasme peserta Munas II PAPDESI tahun ini sangat tinggi. Menurutnya, kehadiran para pengurus daerah dari seluruh Indonesia menunjukkan kuatnya semangat kolaborasi dan solidaritas antar aparatur desa.

“Semalam dari seluruh DPD di Indonesia sudah banyak yang hadir. Dari total 34 DPD, sebagian besar sudah berada di lokasi kegiatan, sementara lainnya masih dalam perjalanan karena kendala jadwal penerbangan dan transportasi,” ujar Musthafa Kasim kepada awak media di sela kegiatan Munas.

Ia menjelaskan, dalam forum internal yang berlangsung menjelang pembukaan Munas, mayoritas DPD memberikan dukungan secara aklamasi terhadap kepemimpinan yang dinilai mampu membangun komunikasi aktif dengan desa-desa di seluruh Indonesia. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan Munas II PAPDESI tidak terlepas dari dukungan berbagai kementerian yang memiliki keterkaitan langsung dengan pembangunan desa.

“Acara ini didukung banyak kementerian karena semua program kementerian muaranya ada di desa. Ada dukungan dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, Kementerian Kelautan dan Perikanan, hingga program koperasi desa. Jadi memang desa menjadi fokus pembangunan nasional saat ini,” katanya.

Musthafa menilai arah kebijakan pemerintah pusat saat ini semakin menunjukkan perhatian besar terhadap penguatan desa sebagai basis pembangunan nasional. Ia mencontohkan berbagai program tematik desa yang kini mulai dijalankan di sejumlah daerah, termasuk desa nelayan dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat terhadap desa juga menjadi bagian dari implementasi visi pembangunan Presiden Republik Indonesia yang menempatkan desa sebagai pilar utama penguatan ekonomi rakyat.

“Kami di daerah mendukung penuh program pemerintah pusat dan bekerja tegak lurus terhadap kebijakan nasional. Apa yang sudah baik akan terus ditingkatkan demi kemajuan desa,” ujarnya.

Selain membahas konsolidasi organisasi, Munas II PAPDESI juga menjadi forum strategis dalam membicarakan tantangan pembangunan desa, termasuk pengelolaan anggaran desa dan program Koperasi Merah Putih yang mulai dijalankan di sejumlah wilayah.

Musthafa mengungkapkan bahwa di Aceh terdapat tantangan tersendiri dalam implementasi program koperasi desa. Hal tersebut disebabkan kondisi aset dan fasilitas desa yang berbeda dibandingkan daerah lain.

“Di Aceh istilahnya bukan desa, tapi kampung. Banyak fasilitas di kampung bukan aset pemerintah desa, sehingga ada keterbatasan dalam pemanfaatan sarana untuk kegiatan tertentu,” jelasnya.

Ia juga menyinggung kekhawatiran sejumlah pemerintah desa terkait alokasi penggunaan anggaran yang semakin spesifik untuk mendukung program-program prioritas nasional. Namun demikian, menurutnya, pemerintah memastikan anggaran desa tidak berkurang, melainkan penggunaannya diarahkan pada sektor tertentu sesuai kebijakan pusat.

“Bukan anggarannya yang berkurang, tapi penggunaannya sudah diarahkan untuk program prioritas. Ini perlu dipahami bersama agar tidak menimbulkan salah persepsi di masyarakat,” katanya.

Dalam keterangannya, Musthafa turut menyoroti masih adanya kepala desa yang menghadapi persoalan hukum akibat kesalahan administratif dan kurangnya pemahaman dalam penggunaan anggaran desa. Karena itu, PAPDESI daerah aktif melakukan pendampingan dan advokasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Banyak kepala desa yang sebenarnya bekerja untuk masyarakat, tetapi terkadang terjadi miskomunikasi atau kesalahan pemahaman terhadap aturan penggunaan anggaran. Di sinilah pentingnya pendampingan dan komunikasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalaman di Aceh, ketika terjadi polemik terkait penggunaan anggaran desa yang sempat memicu protes masyarakat. Namun setelah dilakukan penjelasan dan advokasi oleh pengurus PAPDESI tingkat provinsi, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara baik.

Musthafa berharap Munas II PAPDESI 2026 dapat menghasilkan keputusan strategis yang memperkuat kapasitas aparatur desa sekaligus mempererat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun desa yang mandiri, transparan, dan berdaya saing.

“Kami berharap forum ini menjadi ruang memperkuat komunikasi dan memperjuangkan kepentingan desa secara nasional. Desa harus terus diperkuat karena desa adalah ujung tombak pelayanan masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Mubes XIII TP Sriwijaya Aklamasi Sultan B. Najamuddin sebagai Ketua Umum Periode 2026–2031
Uji Materiil MBG, Habib Syakur: Langkah BEM FHUI ke MK Cerminkan Demokrasi yang Dewasa dan Beradab
Habib Syakur Ajak Masyarakat Teladani Kepemimpinan Humanis Kapolri, Nilai Ziarah Kebangsaan Sarat Makna Moral
Pemuda Pencari Keadilan Laporkan Dugaan Penyimpangan Keuangan PT PLN ke Jampidsus Kejagung RI
AHY: Infrastruktur Harus Tekan Biaya Hidup dan Buka Peluang Ekonomi Masyarakat
PWNU Kaltara Luruskan Polemik Penetapan Tuan Rumah Muktamar NU 2026: Tidak Ada Penolakan terhadap Pesantren Lirboyo
Pasca Konbes Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026, Diharapkan Lahir Program Nyata untuk Penguatan Umat dan Bangsa
Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon Sampaikan Ucapan Milad untuk Presiden Ke-7 RI Joko Widodo
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:25 WIB

Mubes XIII TP Sriwijaya Aklamasi Sultan B. Najamuddin sebagai Ketua Umum Periode 2026–2031

Sabtu, 27 Juni 2026 - 01:38 WIB

Uji Materiil MBG, Habib Syakur: Langkah BEM FHUI ke MK Cerminkan Demokrasi yang Dewasa dan Beradab

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:39 WIB

Habib Syakur Ajak Masyarakat Teladani Kepemimpinan Humanis Kapolri, Nilai Ziarah Kebangsaan Sarat Makna Moral

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:47 WIB

Pemuda Pencari Keadilan Laporkan Dugaan Penyimpangan Keuangan PT PLN ke Jampidsus Kejagung RI

Kamis, 25 Juni 2026 - 00:43 WIB

AHY: Infrastruktur Harus Tekan Biaya Hidup dan Buka Peluang Ekonomi Masyarakat

Berita Terbaru