JAKARTA – Dunia hiburan Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok legendarisnya. Aktor dan komedian senior Zainal Abidin, yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Diding Boneng, meninggal dunia pada Senin (3/8/2026) pukul 06.04 WIB di kediamannya setelah berjuang melawan penyakit asma yang telah mengganggu kondisi kesehatannya dalam beberapa waktu terakhir.
Kepergian Diding Boneng meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan sesama seniman, serta masyarakat yang selama puluhan tahun mengenal dirinya sebagai komedian dengan karakter khas dan penuh keceriaan di layar kaca maupun layar lebar.
Pihak keluarga mengungkapkan bahwa sebelum wafat, Diding Boneng sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama kurang lebih tiga pekan akibat gangguan asma yang dideritanya. Selama menjalani perawatan, kondisi kesehatannya sempat menunjukkan perkembangan positif sehingga tim medis mengizinkannya untuk kembali ke rumah.
Namun, harapan keluarga agar kesehatannya terus membaik tidak berlangsung lama. Sekitar sepekan setelah kembali ke rumah, penyakit asma yang dideritanya kembali kambuh dan menyebabkan sesak napas yang semakin berat.
Adik bungsu almarhum, Zaenal Wahyudin atau yang akrab disapa Bambang, menjelaskan bahwa kondisi sang kakak sempat stabil setelah keluar dari rumah sakit sebelum akhirnya kembali mengalami penurunan.
“Kurang lebih tiga minggu dirawat di rumah sakit. Setelah kondisinya membaik beliau diperbolehkan pulang. Namun sekitar satu minggu lebih berada di rumah, asmanya kambuh lagi dan mengalami sesak napas,” ujar Bambang saat ditemui di rumah duka, Senin.
Menurut Bambang, keluarga telah berupaya memberikan pendampingan penuh kepada Diding Boneng selama hari-hari terakhir kehidupannya. Anak-anak almarhum, saudara, serta anggota keluarga lainnya bergantian menemani agar ia tidak merasa sendirian menghadapi kondisi kesehatannya.
“Iya, memang sudah dua hari terakhir kami semua bergantian menemani. Anak-anaknya juga selalu berada di samping beliau bersama keluarga,” tuturnya.
Di tengah perjuangannya melawan penyakit, Diding Boneng juga sempat menyampaikan pesan yang kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga. Bambang mengungkapkan bahwa sang kakak tidak menginginkan keluarga berjauhan dan berharap seluruh anggota keluarga tetap berkumpul di rumah.
“Beliau hanya berpesan supaya semua kumpul-kumpul saja di rumah. Selama beberapa hari terakhir memang beliau tidak ingin ditinggal sendirian dan meminta keluarga tetap berada di dekatnya,” kata Bambang.
Pesan sederhana tersebut kini menjadi momen yang paling dikenang keluarga sebagai bentuk kasih sayang dan kedekatan Diding Boneng terhadap orang-orang tercinta hingga akhir hayatnya.
Beberapa bulan sebelum meninggal dunia, kondisi rumah Diding Boneng sempat menjadi perhatian masyarakat setelah viral di media sosial karena mengalami kerusakan. Berbagai pihak kemudian memberikan bantuan melalui program bedah rumah sehingga tempat tinggalnya dapat direnovasi.
Menurut Bambang, proses renovasi rumah berlangsung sekitar dua bulan lalu. Setelah seluruh pekerjaan selesai, Diding Boneng sempat menikmati kembali rumah yang telah diperbaiki tersebut selama kurang lebih dua pekan sebelum kondisi kesehatannya kembali menurun.
“Alhamdulillah setelah rumah selesai diperbaiki, beliau sempat tinggal lagi di sini sekitar dua minggu,” ujarnya.
Bagi keluarga, momen tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri karena almarhum masih sempat kembali menempati rumah yang telah direnovasi berkat perhatian berbagai pihak.
Kepergian Diding Boneng menambah daftar tokoh seni Indonesia yang telah berpulang, sekaligus meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan dunia hiburan nasional. Selama berkarier, ia dikenal sebagai komedian dengan gaya humor yang khas, sederhana, dan mampu menghibur berbagai kalangan masyarakat.
Jenazah Diding Boneng disemayamkan di rumah duka sebelum direncanakan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan, setelah pelaksanaan salat Asar.
Kepergian Diding Boneng menjadi kehilangan besar bagi industri hiburan Indonesia. Di balik sosoknya yang selalu menghadirkan tawa, keluarga mengenang perjuangan panjang almarhum menghadapi penyakit yang dideritanya serta kebersamaan yang terus dijaga hingga detik-detik terakhir kehidupannya.
Kisah tersebut menjadi pengingat akan pentingnya dukungan keluarga bagi seseorang yang tengah menghadapi kondisi kesehatan yang berat, sekaligus menjadi warisan kenangan dari seorang seniman yang telah memberikan warna tersendiri bagi dunia komedi Indonesia.
Editor: Fahmy Nurdin




































