Sambut HUT Ke-81 RI, Nusantara Centre Dorong RUU Perekonomian Nasional

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Nusantara Centre bersama Universitas Nusantara dan sejumlah mitra meluncurkan kampanye bertajuk

Foto: Nusantara Centre bersama Universitas Nusantara dan sejumlah mitra meluncurkan kampanye bertajuk

Jakarta ~ Kini kita menuju 81 tahun usia republik. Bukan usia muda, walau belum terlalu tua. Tentu, setiap angka penambahan bukanlah sekadar hitungan matematika, melainkan representasi dari pengalaman, pembelajaran, dan pertumbuhan diri. Usia menjadi cermin dari perjalanan intelektual, spiritual, sosial, kapital dan emosional sebuah negara dalam mengarungi semesta.

Di usia ini, apa yang belum berdentum? Kami di Nusantara Centre (dengan dukungan penuh dari Ethos, Banrehi dan Universitas Nusantara) menjawab, “alpanya kesentosaan bersama dikarenakan tenggelamnya epistemik ekopol pancasila.” Catatan dan hasil riset jelas sekali menggambarkan hal tersebut. Bagaimana menyikapinya, itu yang jadi kegelisahan kita bersama.

Karena alasan-alasan itulah, kami memperingati proklamasi ke-81 Republik Indonesia dengan meluncurkan buku “Pemikiran Soemitro,” dan mengadakan simposium bertema “urgensi undang-undang perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial dalam menata bangsa menuju Indonesia emas 2045.”

Agar sukses, viral dan berdentum serta menyadarkan kita semua pentingnya undang-undang tersebut serta terciptanya ekopol berdaulat sehingga negara dan warganya sentosa, kami mengundang 17 (aktivis), 8 (penulis) dan 45 (tokoh nasional) dari berbagai profesi.

Ketujuh belas aktivis tersebut adalah: Zulham, Akbar, Ihsan, Aisyah Loklomin, Naryana Indra, Achmad Chairul Amri, Hanifah Luthfiyah, Ibong Sjahroezah, Dienny Tjokro, Muhammad Isyam, Subhan, Harsya Maulana, Akbar Ramadhan, Halimatusakdiah, Dwi Apriyanto, Budhi Haryadi dan Arie Musclihudin.

Sedangkan kedelapan penulis produktif yang terlibat adalah: Anang Fahmi, Mikail Adam, Firdaus Syamsu, Agus Rizal, Yaya Sunaryo, Ryo Disastro, Irma Syuryani, dan Asyari Muchtar.

Sementara 45 tokoh nasional adalah: Didin S. Damanhuri, Hendrasmo, Mukit Hendrayatno, Fuad Bawazier, Siti Fadilah Supari, Jumhur Hidayat, Taruna Ikrar, Dedi Setiadi, Angel Damayanti, Bambang Wiwoho, Asep Saefudin, Endin Nasrudin, Ahmad Sodik, Anter Venus, Budi Djatmiko, Viva Yoga Mauladi, Vivi Yulaswati, Afriansyah Noor, Ateng Karsoma, Sri Eko Galgendu, Suyuti Asyatri, Tony Hasyim, Ki Darmaningtyas, Prijanto, Tedjo Edi, Kivlan Zen, Nurrachman Oerip, Heppy Trenggono, Isra Ramli, MS Kaban, Hatta Taliwang, Bastari, Firdaus Djuwaid, Dita Caroline, Jhonnes Marbun, Ery Ratmono, Radhar Tribaskoro, Syanief, Setyo Wibowo, Ishak Tuasikal, Achmad Nur Hidayat, Wati Salam Imhar, Abdulloh Kautsar Badawi, Muhammad Khazim, Kirdi Putra, Lily Sastriyanti dan Yudi Pratama.

Tentu, 17 aktivis, 8 penulis dan 45 tokoh nasional bukan hanya mewakili simbol proklamasi 17/8/1945 tetapi juga menandakan kesadaran baru: kebangkitan ekopol pancasila. Mereka bukan hanya sudah membaca buku Soemitro, naskah akademik dan RUUPN, serta artikel berkala, tetapi juga punya tekad yang sama: mendaulatkan ekopol kita sesegera mungkin.

Ini penting, karena negara, baru dapat disebut bermartabat apabila mampu menguasai produksi, teknologi, pasar, dan pembiayaan ekonominya sendiri. Negara yang tidak mengendalikan pasar domestiknya akan sulit menjadi pemain utama di pasar internasional. Negara yang hanya menjual bahan mentah juga akan terus berada pada posisi tawar yang lemah dalam percaturan ekonomi global. Itu negara yang dijajah di alam modern.

Maka dari itu, perhelatan peluncuran buku Pemikiran Soemitro dan Simposium RUU Perekonomian Nasional, layak menjadi hari kebangkitan ekonomi nasional yang tidak berhenti sebagai seremoni penuh pidato dan diskusi, melainkan aksi nyata: pikiran, ucapan, pidato, tulisan, legislasi ataupun peraturan dan realisasi di lapangan: dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tentu saja, kemerdekaan yang sesungguhnya tidak hanya ditandai oleh berkibarnya bendera Merah Putih, tetapi juga oleh kemampuan kita menguasai kekayaan alamnya sendiri, melindungi pelaku usaha nasional, membangun industri yang kuat, menciptakan kemakmuran yang merata, serta memastikan negara hadir sebagai pengarah utama pembangunan dan keadilan.

Jika semangat itu benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang konsisten, maka 4 Agustus tidak hanya akan dikenang sebagai sebuah momentum ekopol nasional, melainkan sebagai awal kebangkitan Indonesia untuk merebut kembali kedaulatan ekopolnya.

Acara ini sepenuhnya didukung oleh PT. Hamasa Jakarta dan diselenggarakan pada hari Selasa 4 Agustus 2026 di RRI Jakarta, mulai pukul 13.00 WIB.(*)

Berita Terkait

Majelis Adat Sumedanglarang Desak Transparansi Geothermal, Tolak Berkas dan Tinggalkan Forum
Ribuan Warga Tumpah Ruah di Gebyar Budaya Sunter Jaya, 26 Perguruan Silat Unjuk Aksi
Abang Kevin dan None Dhita Dinobatkan sebagai Abang None Jakarta Pusat 2026
Liza Maria: Kreativitas Anak Indonesia Harus Dibina agar Mampu Bersaing di ASEAN
Rd. Sandy Tumiwa Dampingi PYM Dipertuan Agung DAN-RI dalam Silaturahmi Strategis dengan Wakil Ketua DPR RI
Kemenbud Gandeng Danantara Perkuat Ekosistem Budaya, Siapkan Tiga Museum Baru
Fadli Zon Resmikan Pameran Nusa Wastra 2026, Dorong Kain Tradisional Jadi Kekuatan Budaya Indonesia
Kemenbud Bahas Kerja Sama Budaya RI-Maroko, Soroti Kolaborasi Musik Tradisional
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Sambut HUT Ke-81 RI, Nusantara Centre Dorong RUU Perekonomian Nasional

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:34 WIB

Majelis Adat Sumedanglarang Desak Transparansi Geothermal, Tolak Berkas dan Tinggalkan Forum

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:23 WIB

Ribuan Warga Tumpah Ruah di Gebyar Budaya Sunter Jaya, 26 Perguruan Silat Unjuk Aksi

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:56 WIB

Abang Kevin dan None Dhita Dinobatkan sebagai Abang None Jakarta Pusat 2026

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:20 WIB

Liza Maria: Kreativitas Anak Indonesia Harus Dibina agar Mampu Bersaing di ASEAN

Berita Terbaru