PBNU Dipimpin Ulama Mantan Pelaut, Pengamat: Momentum Tegaskan Indonesia Bangsa Maritim

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Pengamat Maritim Soroti Kepemimpinan Gus Kikin di PBNU

Foto: Pengamat Maritim Soroti Kepemimpinan Gus Kikin di PBNU

JAKARTA — Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 dinilai menjadi momentum bagi NU untuk memperluas perhatian terhadap sektor maritim dan ekonomi biru.

Pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (ISC), DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, menilai latar belakang Gus Kikin sebagai ulama sekaligus mantan pelaut menjadi modal unik dalam memimpin organisasi sebesar NU.

Menurutnya, pengalaman di dunia pelayaran membentuk sejumlah karakter kepemimpinan yang relevan untuk mengelola organisasi dengan jaringan luas seperti NU. Di antaranya disiplin, ketepatan membaca arah, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menjaga kerja sama seluruh awak untuk mencapai tujuan bersama.

“Pengalaman Gus Kikin sebagai pelaut dan pengelola usaha maritim menjadi kekuatan tersendiri bagi organisasi sebesar NU. Struktur NU yang membentang luas dari pesisir hingga pedalaman membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berakar pada tradisi pesantren, tetapi juga memiliki keahlian manajerial modern serta kecakapan membaca dinamika lingkungan strategis,” kata Hakeng di Jakarta, Selasa (8/9).

Gus Kikin diketahui memiliki latar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Ia juga pernah menjalani praktik pelayaran di kapal niaga sebelum melanjutkan karier profesional di perusahaan pelayaran milik negara, PT Djakarta Lloyd.

Pada 1988, saat berusia 30 tahun, Gus Kikin dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon. Setelah berkarier di dunia profesional, ia kemudian terjun lebih jauh ke dunia usaha dengan mendirikan perusahaan di bidang pelayaran.

Hakeng menilai pengalaman tersebut membuat Gus Kikin memiliki pemahaman mengenai tata kelola bisnis, logistik, perdagangan, manajemen risiko hingga rantai pasok.

Ia mengatakan kapasitas tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk mendorong penguatan kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

“Gus Kikin memiliki kapasitas unik sebagai jembatan yang menghubungkan dunia pesantren, ekonomi umat, dan sektor maritim. Kehadiran ulama dengan latar belakang pelaut memberikan warna baru yang segar dalam kepemimpinan organisasi keagamaan,” ujarnya.

Hakeng juga menilai NU memiliki ruang besar untuk ikut mendorong pemanfaatan potensi ekonomi biru Indonesia. Sebagai negara kepulauan, menurutnya, pembangunan nasional tidak semestinya hanya berorientasi pada sektor daratan.

Ia berharap kepemimpinan Gus Kikin dapat memperluas perspektif NU terhadap persoalan kebangsaan, termasuk isu kedaulatan maritim dan pembangunan ekonomi berbasis kelautan.

“Kita sangat menunggu peran aktif NU di bawah kepemimpinan Gus Kikin untuk memberikan warna positif dan arah baru bagi kebaikan bangsa Indonesia ke depan, khususnya dalam mempertegas kembali jati diri kita sebagai bangsa maritim yang kuat, mandiri, dan berdaya saing global,” katanya.

Mantan nakhoda kapal super tanker itu turut menggambarkan kepemimpinan organisasi dengan analogi sebuah kapal yang berlayar di tengah samudra.

Menurut Hakeng, seorang nakhoda harus mampu membaca perubahan arus dan menghadapi gelombang tanpa kehilangan arah menuju tujuan.

“Laut tidak selalu tenang. Ada gelombang, badai, dan perubahan arus. Seorang nakhoda sejati harus mampu menjaga kapal tetap berada pada jalur pelayaran tanpa pernah kehilangan arah tujuan,” ujarnya.

Hakeng optimistis perpaduan nilai-nilai kepesantrenan dengan pengalaman profesional Gus Kikin di sektor maritim dapat menghasilkan kebijakan organisasi yang lebih konkret, baik bagi warga Nahdliyin maupun masyarakat luas.

Ia pun menyampaikan selamat atas terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU. Hakeng berharap kepemimpinan baru tersebut dapat menjadi ruang konsolidasi dan rekonsiliasi nasional sekaligus menghimpun potensi umat untuk mendorong kemajuan Indonesia.

“Semoga kepemimpinan baru PBNU mampu menggalang seluruh potensi umat demi kemajuan Indonesia dan mewujudkan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai bangsa maritim terbesar di dunia,” tutur Hakeng.

(Helmi AR)

Berita Terkait

Pemerintah Luncurkan PLTS 100 GWp, Potensi Hemat APBN Rp73,9 Triliun per Tahun
Polri Kerahkan 322 Personel ke Empat Provinsi, Perkuat Pencegahan Karhutla Berbasis Masyarakat
Wacana Pilpres 2029 Bergulir, Tubagus Bahrudin Diusung dalam Narasi Indonesia Adil dan Makmur
Gabungan Petani Nusantara Indonesia Deklarasikan Dukungan kepada Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029
Hadapi Abu Vulkanik, Habib Syakur Ajak Masyarakat Perkuat Doa, Ikhtiar dan Istisqa
Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, Mendagri Imbau Pemda Terdampak Tingkatkan Kewaspadaan
Ribuan Pedagang Kaki Lima Deklarasikan Dukungan untuk Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029
Wamen UMKM Ungkap 3 Kunci agar Produk Lokal Tembus Pasar Global
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 12:24 WIB

PBNU Dipimpin Ulama Mantan Pelaut, Pengamat: Momentum Tegaskan Indonesia Bangsa Maritim

Senin, 7 September 2026 - 17:41 WIB

Pemerintah Luncurkan PLTS 100 GWp, Potensi Hemat APBN Rp73,9 Triliun per Tahun

Senin, 7 September 2026 - 14:50 WIB

Polri Kerahkan 322 Personel ke Empat Provinsi, Perkuat Pencegahan Karhutla Berbasis Masyarakat

Senin, 7 September 2026 - 12:22 WIB

Gabungan Petani Nusantara Indonesia Deklarasikan Dukungan kepada Tubagus Bahrudin Menuju Pilpres 2029

Senin, 7 September 2026 - 11:51 WIB

Hadapi Abu Vulkanik, Habib Syakur Ajak Masyarakat Perkuat Doa, Ikhtiar dan Istisqa

Berita Terbaru