JAWA TIMUR – Semangat pengabdian dan komitmen terhadap organisasi kembali ditunjukkan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Papua Pegunungan. Di tengah keterbatasan anggaran dan minimnya dukungan pendanaan, para pengurus tetap berjuang menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Kediri, Jawa Timur.
Kehadiran delegasi PWNU Papua Pegunungan dalam forum tertinggi organisasi tersebut menjadi simbol kesungguhan warga Nahdliyin di Tanah Papua dalam menjaga eksistensi organisasi sekaligus memperkuat kontribusi Nahdlatul Ulama dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Perjalanan yang ditempuh para pengurus tidaklah mudah. Mereka harus berangkat dari Wamena menuju Jayapura dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara. Dari Jayapura, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Surabaya melalui Bandara Juanda sebelum akhirnya tiba di Kediri, lokasi pelaksanaan Munas dan Konbes NU.
Awalnya, PWNU Papua Pegunungan merencanakan mengirimkan enam orang delegasi untuk mengikuti agenda nasional tersebut. Namun karena keterbatasan kemampuan keuangan organisasi serta tingginya biaya transportasi dari Papua menuju Jawa Timur, jumlah peserta yang akhirnya dapat diberangkatkan hanya empat orang.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para pengurus untuk tetap hadir dalam forum yang dinilai sangat penting bagi arah perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama ke depan. Bagi mereka, keikutsertaan dalam Munas dan Konbes merupakan bentuk tanggung jawab organisasi sekaligus sarana menyampaikan aspirasi masyarakat Papua Pegunungan di tingkat nasional.
Ketua PWNU Papua Pegunungan, H. Abdul Qahar Yelipele, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa kehadiran delegasi dari wilayah paling timur Indonesia tersebut merupakan bukti nyata bahwa Nahdlatul Ulama tetap hadir dan terus bergerak membangun kehidupan masyarakat yang damai, toleran, dan harmonis di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama yang ada di Papua.
“Walaupun menghadapi berbagai keterbatasan, kami tetap berusaha hadir karena Munas dan Konbes NU merupakan forum strategis yang menentukan arah perjuangan organisasi. Ini adalah bentuk pengabdian kami kepada umat dan bangsa,” ujarnya.
PWNU Papua Pegunungan menilai bahwa Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat kerukunan antarumat beragama di Papua. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU selama ini dikenal konsisten menjalankan fungsi sosial, pendidikan, keagamaan, dan kebangsaan yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Di Papua Pegunungan yang memiliki karakter masyarakat majemuk, NU berupaya menjadi jembatan dialog dan penguat persaudaraan antarsesama anak bangsa. Melalui pendekatan moderasi beragama, NU terus mengembangkan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Kehadiran PWNU Papua Pegunungan dalam Munas dan Konbes juga menjadi momentum untuk memperkuat jaringan organisasi serta memperluas sinergi dengan berbagai elemen bangsa dalam membangun Papua yang aman dan sejahtera.
Dalam kesempatan tersebut, PWNU Papua Pegunungan menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap organisasi-organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang selama ini turut berperan menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Menurut mereka, sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan daerah, khususnya di Papua Pegunungan yang masih menghadapi berbagai tantangan sosial dan geografis.
PWNU Papua Pegunungan menegaskan bahwa pemerintah perlu hadir sebagai pelayan seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun golongan. Prinsip keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
“Kami berharap pemerintah terus membangun komunikasi yang baik dengan seluruh lembaga keagamaan serta memberikan ruang yang setara bagi semua komponen masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Dengan demikian, cita-cita mewujudkan Papua sebagai tanah damai, tanah harapan, dan tanah masa depan bagi generasi penerus dapat terwujud,” ungkap salah satu tokoh Muslim Papua yang juga menjabat sebagai Ketua PWNU Papua Pegunungan.
Nahdlatul Ulama selama ini dikenal sebagai organisasi yang memainkan peran sentral dalam menjaga tradisi Islam Nusantara yang moderat dan inklusif. Melalui prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), NU mengembangkan dakwah yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap budaya lokal.
Dalam praktiknya, NU menerapkan nilai-nilai Tawasuth (moderat), Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (adil) sebagai landasan dalam membangun kehidupan beragama yang damai. Pendekatan tersebut memungkinkan Islam berkembang secara harmonis di tengah keberagaman budaya yang ada di Indonesia, termasuk di Tanah Papua.
Selain itu, NU juga memiliki sejarah panjang dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran NU dalam perjuangan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad serta kontribusinya dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia.
Karena itu, PWNU Papua Pegunungan menegaskan bahwa NU akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga persatuan nasional, memperkuat moderasi beragama, serta membangun kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera.
Di akhir pernyataannya, PWNU Papua Pegunungan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persaudaraan dan memperkuat dialog dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut mereka, perbedaan suku, budaya, dan agama bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama demi masa depan Papua yang lebih baik.
“Mari kita jaga Papua dengan hati yang tulus, memperkuat persaudaraan, mengedepankan dialog, dan membangun kebersamaan demi Papua yang aman, damai, adil, dan sejahtera untuk semua.”
Dengan semangat khidmat, kebersamaan, dan pengabdian, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Papua Pegunungan menegaskan akan terus melanjutkan perjuangan dalam melayani umat, menjaga persatuan bangsa, serta berkontribusi bagi terwujudnya Papua yang aman, damai, dan bermartabat.
Sebagaimana filosofi yang hidup di tengah masyarakat Jayawijaya dan Wamena, “Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo”, yang berarti “Hari Ini Lebih Baik dari Hari Kemarin”, semangat tersebut menjadi motivasi bagi PWNU Papua Pegunungan untuk terus bergerak membangun peradaban, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat Papua serta Indonesia secara keseluruhan.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































