JAKARTA – Upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap bahaya perundungan (bullying) kembali diwujudkan melalui jalur perfilman nasional. Sebuah film layar lebar berjudul “Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu” tengah dipersiapkan sebagai bagian dari Kampanye Nasional Stop Bullying, dengan membawa pesan tentang pentingnya empati, persahabatan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama.
Film tersebut dirancang bukan sekadar sebagai karya hiburan, melainkan sebagai media edukasi yang diharapkan mampu mengajak masyarakat memahami bahwa pencegahan bullying merupakan tanggung jawab bersama. Penyelenggara menilai persoalan perundungan tidak dapat diselesaikan hanya oleh lingkungan sekolah maupun keluarga, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu bullying menjadi perhatian publik seiring munculnya berbagai kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan maupun ruang digital. Kondisi tersebut mendorong semakin banyak kampanye sosial serta karya perfilman yang mengangkat pentingnya menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak dan remaja.
Melalui film ini, penyelenggara dalam siaran pers yang diterima redaksi, Selasa (4/8/2026) mengajak berbagai kalangan, mulai dari tenaga pendidik, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelaku industri kreatif, dunia usaha, komunitas, pemerintah, hingga masyarakat luas untuk membangun budaya saling menghormati dan menolak segala bentuk perundungan.
Menurut tim kreatif, film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan secara lebih dekat kepada masyarakat. Karena itu, kisah yang dihadirkan dalam “Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu” diharapkan mampu menggugah kesadaran publik agar berani menghentikan tindakan bullying di berbagai lingkungan, baik di sekolah, keluarga, tempat kerja, maupun media sosial.
Cerita dalam film tersebut mengangkat nilai-nilai persahabatan, kepedulian, toleransi, serta penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Melalui alur yang emosional, film ini ingin menegaskan bahwa setiap anak Indonesia memiliki hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, didengar, serta memperoleh kasih sayang tanpa rasa takut menjadi korban perundungan.
Film layar lebar ini merupakan karya Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, yang bertindak sebagai pencetus ide cerita, penulis skenario, sekaligus produser. Sementara kursi sutradara dipercayakan kepada Rd. Beben Firmansyah Arianatareja, putra dari sutradara senior H. Maman Firmansyah. Posisi Executive Producer diemban oleh Rd. Sandy Tumiwa, S.H.
Selain memproduksi film tersebut, Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja menyampaikan komitmennya untuk terus menghadirkan karya-karya perfilman yang mengangkat tema pendidikan, sosial, budaya, dan kemanusiaan. Dalam mewujudkan agenda tersebut, ia berencana menggandeng rumah produksi yang dinilai memiliki pengalaman, profesionalisme, dan kapasitas di industri perfilman nasional agar mampu menghasilkan film-film berkualitas yang memberikan nilai edukatif sekaligus memperkuat perkembangan industri kreatif Indonesia.
Penyelenggara juga menyampaikan bahwa konsep film memperoleh sambutan positif dari sejumlah pihak. Salah satunya, menurut penyelenggara, Wakil Ketua DPR RI Prof. Sufmi Dasco Ahmad memberikan respons positif setelah menerima pemaparan mengenai konsep cerita serta mini trial film yang mengangkat tema Stop Bullying.
Selain itu, penyelenggara menyebut film ini turut memperoleh dukungan dari sejumlah perusahaan, di antaranya BSI, Telkom Indonesia, PLN, dan Pertamina. Informasi mengenai bentuk dukungan tersebut belum dijelaskan lebih lanjut dalam keterangan yang disampaikan.
Di tingkat daerah, proses open casting yang digelar di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, disebut mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Penyelenggara menyatakan kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur masyarakat, tokoh daerah, pejabat pemerintah, serta peserta dari beragam latar belakang yang ingin terlibat dalam produksi film tersebut.
Antusiasme tersebut dinilai menunjukkan besarnya harapan masyarakat agar perfilman nasional dapat menjadi salah satu sarana efektif dalam membangun pendidikan karakter serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda.
Lebih jauh, Kampanye Nasional Stop Bullying diharapkan berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Melalui kolaborasi lintas sektor, penyelenggara berharap tercipta budaya yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai, memperkuat karakter generasi muda, dan membangun Indonesia yang lebih inklusif, beradab, serta berdaya saing.
Penyelenggara menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Mereka mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menjadi pembiar ketika melihat tindakan perundungan, melainkan hadir sebagai pelindung dan bagian dari solusi.
“Masa depan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini. Tidak ada tempat bagi bullying dalam kehidupan bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Saatnya kita berdiri bersama, menjadi pelindung, bukan pembiar,” demikian pesan yang disampaikan dalam kampanye tersebut.
Melalui semangat “Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu”, penyelenggara berharap film ini mampu menjadi inspirasi nasional dalam memperkuat pendidikan karakter, menumbuhkan budaya saling menghargai, serta mengajak seluruh elemen bangsa berpartisipasi aktif mewujudkan Indonesia yang bebas dari perundungan demi masa depan anak-anak yang lebih aman, sehat, dan bermartabat.
Editor: Fahmy Nurdin



































