Deolipa Yumara Soroti Kerusakan Raja Ampat: Hentikan Tambang Nikel, Ini Bukan Soal Izin Lagi Tapi Soal Akal Sehat

- Jurnalis

Senin, 9 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Praktisi Hukum Deolipa Yumara. (Dok/Fhm/Okj)

Foto: Praktisi Hukum Deolipa Yumara. (Dok/Fhm/Okj)

JAKARTA – Praktisi hukum dan seniman Deolipa Yumara angkat bicara mengenai polemik aktivitas tambang nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat. Ia menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar soal legalitas izin, melainkan tentang kelangsungan alam dan citra pariwisata Indonesia di mata dunia.

“Kalau kita mendengar Raja Ampat, asosiasinya itu bukan tambang, tapi keindahan karang, ikan, laut, dan pariwisata dunia. Ketika tambang masuk, langsung rusak semua bayangan itu,” kata Deolipa Eklusif kepada okjakarta.com, di Jakarta, Senin (9/6/25).

Menurutnya, aktivitas tambang yang merambah kawasan Raja Ampat, meskipun berizin, tetap tidak pantas dilanjutkan. Ia mempertanyakan mengapa tidak ada pertimbangan menyeluruh terhadap aspek pariwisata dan ekosistem yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

“Siapa yang memberikan izin? Apakah sudah memperhitungkan dampaknya terhadap alam dan pariwisata? Apa gunanya ada izin kalau merusak keindahan dan masa depan Raja Ampat?” katanya lantang.

Ia juga menyentil lemahnya koordinasi antara sektor pariwisata, sumber daya alam, dan pemerintah pusat dalam pengambilan keputusan soal izin tambang. Bahkan, ia menduga ada kelalaian struktural sejak beberapa tahun lalu, saat izin pertambangan mulai dikeluarkan.

“Ini bukan cuma soal hukum, ini soal moral dan akal sehat. Jangan hanya karena ada nikel, semua diambil. Lalu rusak alamnya, rusak nama Raja Ampat. Dunia akan mencatat ini sebagai kebodohan bersama.”

Deolipa juga menyoroti dampak sosial yang muncul. Menurutnya, ada masyarakat yang mendukung tambang karena mendapat keuntungan jangka pendek. Namun dampak jangka panjangnya jauh lebih berbahaya: kerusakan lingkungan, hilangnya potensi wisata, hingga rusaknya identitas budaya lokal.

“Masyarakat lokal mungkin dapat uang sebentar, tapi keindahan yang hilang tak bisa dikembalikan. Lama-lama, orang lupa Raja Ampat sebagai surga pariwisata. Mereka akan mengingatnya sebagai daerah tambang yang gagal menjaga alam.”

Ia mengusulkan agar tambang di wilayah sensitif seperti Raja Ampat dihentikan sepenuhnya, terlepas dari status perizinan yang sudah dikantongi perusahaan tambang.

“Tutup saja. Sudah rusak, sudah tercemar, biarkan sisa alam yang ada tetap lestari. Jangan sampai kita mewariskan kehancuran atas nama pembangunan,” tegasnya.

Sebagai seniman sekaligus pengacara, Deolipa menyatakan akan terlibat dalam kampanye perlindungan Raja Ampat, termasuk melalui jalur hukum dan kesenian. Ia juga mendorong pendampingan hukum bagi masyarakat lokal yang terdampak, terutama yang ingin menolak keberadaan tambang.

“Ini saatnya seniman bersuara, bukan lewat lagu, tapi lewat tindakan nyata. Kita akan minta pemerintah bertanggung jawab. Kalau perlu, kita turun langsung.”

Dengan kecepatan kerusakan yang terus berlangsung, Deolipa menutup pernyataannya dengan ajakan kepada publik dan pemerintah untuk segera bertindak sebelum semuanya terlambat.

Penulis : Fahmy Nurdin

Editor : Fahmy Nurdin

Berita Terkait

DJKI Gelar Layanan KI di CFD Serentak 33 Provinsi, Angkat Peran Strategis di Industri Olahraga
Peta Hukum Sengketa Ijazah Jokowi: Analisis Deolipa Yumara, dari Status Rismon hingga Potensi Risiko Pidana Roy Suryo
Hari Kartini di Ancol: Perempuan Ambil Peran Kunci di Sektor Pariwisata
Deklarasi Politik Menuju 2029 Menguat, DPP Partai Golongan Berkarya Indonesia Klaim Dukungan Hampir 35 Provinsi
AHY Tegaskan Komitmen Pemerataan Infrastruktur saat Halalbihalal Pawitandirogo
Refleksi Kartini 2026, Cornelia Agatha: Menjaga Api Perjuangan Perempuan di Tengah Tantangan Zaman
Malam Refleksi Kartini 2026: “Suara Yang Tak Pernah Padam” Menghidupkan Semangat Perjuangan Perempuan Indonesia
Menko PMK: Nilai Nyepi Kian Relevan di Tengah Dunia yang Semakin Bising
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 09:41 WIB

DJKI Gelar Layanan KI di CFD Serentak 33 Provinsi, Angkat Peran Strategis di Industri Olahraga

Kamis, 23 April 2026 - 06:46 WIB

Peta Hukum Sengketa Ijazah Jokowi: Analisis Deolipa Yumara, dari Status Rismon hingga Potensi Risiko Pidana Roy Suryo

Rabu, 22 April 2026 - 09:56 WIB

Hari Kartini di Ancol: Perempuan Ambil Peran Kunci di Sektor Pariwisata

Selasa, 21 April 2026 - 16:51 WIB

Deklarasi Politik Menuju 2029 Menguat, DPP Partai Golongan Berkarya Indonesia Klaim Dukungan Hampir 35 Provinsi

Selasa, 21 April 2026 - 08:47 WIB

AHY Tegaskan Komitmen Pemerataan Infrastruktur saat Halalbihalal Pawitandirogo

Berita Terbaru

Foto: Munjirin Festival Walet Emas 2026 Jadi Ajang Silaturahmi Akbar Warga Kebumen di Jakarta Timur.

Wali Kota Jakarta Pusat

Munjirin Apresiasi Festival Walet Emas 2026, Perkuat Persaudaraan Perantau Kebumen

Minggu, 26 Apr 2026 - 23:40 WIB

Foto: Gubernur DKI Tegaskan Komitmen Pendidikan Gratis

Mertopolitan

Sekolah Swasta Gratis di Jakarta Resmi Jalan, Ini Rinciannya

Minggu, 26 Apr 2026 - 19:53 WIB