Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Guncang Warga: Diduga Bom Rakitan Dibuat Siswa, Polisi Dalami Motif dan Kondisi Psikologis Pelaku

- Jurnalis

Sabtu, 8 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Masjid SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pasca ledakan, pada Jumat (7/11/2025) siang. (Dok-Istimewa)

Foto: Masjid SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pasca ledakan, pada Jumat (7/11/2025) siang. (Dok-Istimewa)

JAKARTA – Peristiwa ledakan yang mengguncang SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11/2025) siang masih menyisakan kepanikan mendalam bagi siswa, guru, dan warga sekitar. Suara ledakan yang terdengar berulang kali membuat banyak warga sempat mengira terjadi ledakan gardu listrik atau tabung gas, sebelum akhirnya diketahui berasal dari lingkungan sekolah.

Salah satu keluarga siswa SMAN 72 menceritakan secara langsung bagaimana kerasnya dentuman tersebut terdengar hingga ke rumah mereka yang berjarak sekitar 700 meter dari lokasi kejadian.

“Tanteku kemarin dengar ledakan, rumahku beda RT RW sama sekolah, kira-kira 700 meter jaraknya. Awalnya dikira gardu listrik yang meledak, soalnya keras banget sampai kedengeran jelas dari rumah,” ujar seorang warga yang juga kerabat siswa sekolah tersebut.

Tak lama setelahnya, keluarga mulai menyadari bahwa suara itu berasal dari arah sekolah. Menurut kesaksian mereka, ledakan terdengar sebanyak tiga kali di lokasi berbeda.

“Ledakannya kedengeran dua kali di rumah. Tapi adikku yang di sekolah bilang ada tiga ledakan. Pertama di masjid, kedua di kantin, dan ketiga di pintu belakang sekolah,” tuturnya.

Sang adik yang merupakan siswa kelas XI SMAN 72 sempat menyaksikan langsung kepanikan yang terjadi setelah ledakan pertama.

“Begitu bunyi ledakan pertama, adikku langsung lari ke arah satpam depan. Pas masih di sekitar masjid, dia dengar ledakan kedua. Baru sampai pos satpam, muncul lagi ledakan ketiga,” jelasnya.

Lebih mengejutkan, keluarga tersebut mengaku sempat melihat foto benda yang diduga sebagai bom rakitan yang digunakan pelaku.

“Bentuknya kayak botol saus atau kayak botol teh pucuk. Bagian atasnya dipotong, terus diisi kayak mesin petasan sama sumbu-sumbu,” ungkap narasumber.

Temuan itu sejalan dengan hasil pemeriksaan awal kepolisian di lapangan. Polisi menemukan beberapa botol plastik berisi cairan kimia dan sumbu api yang diduga kuat dirakit secara manual.

Berdasarkan penyelidikan awal, bahan peledak tersebut diduga dibuat oleh pelaku yang juga siswa kelas XII SMAN 72.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Dwi Jatmiko membenarkan bahwa tim Gegana telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan sterilisasi dan penyisiran area sekolah.

“Seluruh area sekolah sudah diamankan. Kami tengah memeriksa sisa material ledakan untuk mengetahui jenis dan tingkat bahaya bahan peledak yang digunakan,” ujarnya kepada wartawan, Jumat malam.

Polisi juga masih menunggu kondisi pelaku yang dikabarkan mengalami luka serius akibat ledakan, untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Dugaan awal menyebutkan pelaku merakit tiga bom kecil menggunakan bahan sederhana yang mudah diperoleh dari pasaran, seperti cairan pembersih, serbuk logam, dan sumbu petasan.

“Motif sementara masih kami dalami. Namun indikasi awal mengarah pada faktor pribadi dan tekanan lingkungan. Kami tidak menemukan keterkaitan dengan jaringan terorisme,” tambah Dwi.

Insiden tersebut menyebabkan beberapa siswa mengalami luka. Salah satu korban dikabarkan mengalami luka parah dan dilarikan ke Rumah Sakit Islam Jakarta Utara. “Teman adikku sempat luka parah tapi sekarang sudah sadar,” kata sumber yang sama.

Sementara itu, siswa-siswa lainnya dipulangkan segera setelah kejadian dalam keadaan panik. “Adikku langsung disuruh pulang tanpa pakai sepatu. Sabtu baru balik lagi ke sekolah buat ambil barang-barangnya,” imbuhnya.

Kasus ini menjadi sorotan nasional karena terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi pelajar.

Sejumlah pemerhati pendidikan menilai peristiwa ini merupakan alarm keras bagi sekolah dan keluarga untuk lebih memperhatikan kondisi psikologis anak didik.

Pakar psikologi pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Ratri Puspitasari, menilai bahwa ledakan di SMAN 72 harus menjadi momentum introspeksi bersama.

“Fenomena ini bisa berakar dari tekanan emosional, perundungan, atau rasa tidak diterima di lingkungan sekolah. Pendampingan psikologis harus menjadi prioritas, bukan hanya akademik,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa sekolah perlu membangun sistem deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa, termasuk tanda-tanda stres berat atau isolasi sosial.

“Anak yang merasa sendirian bisa mencari perhatian dengan cara ekstrem. Ini yang harus diantisipasi,” ujarnya.

Pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta memastikan bahwa aktivitas belajar di SMAN 72 akan dihentikan sementara hingga proses investigasi selesai.

Petugas kepolisian bersama Tim Inafis dan Pusat Laboratorium Forensik masih mengumpulkan bukti material serta memeriksa rekaman CCTV di sekitar sekolah.

Hingga Sabtu malam, garis polisi masih terpasang di beberapa titik lokasi ledakan. Suasana sekolah tampak sepi, hanya dijaga petugas keamanan dan aparat kepolisian yang masih berjaga.

Peristiwa di SMAN 72 Kelapa Gading ini menjadi pengingat betapa rentannya lingkungan pendidikan terhadap potensi ancaman dari dalam.

Di balik tembok sekolah, bisa jadi tersimpan tekanan dan masalah yang belum terungkap. Kasus ini diharapkan membuka mata semua pihak untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental remaja, sebelum tragedi serupa kembali terjadi.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Polda Metro Jaya Kerahkan 4.547 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa di Sejumlah Titik Strategis Jakarta
Pelayanan SPKT Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Ade Rahmat: Cepat dan Profesional
Aksi Unjuk Rasa di Monas Berlangsung Tertib, Polda Metro Jaya Pastikan Situasi Jakarta Tetap Kondusif
Patroli Humanis Brimob Polda Metro Jaya Jaga Kondusivitas Kabupaten Bekasi
Diduga Beraksi Berkelompok, Komplotan Pencopet di PRJ Kemayoran Diburu Polisi
Polri Bagikan Makanan Ringan kepada Massa Aksi Mahasiswa BEM UBK, Kedepankan Pendekatan Humanis dalam Pengamanan
Demo Mahasiswa di Bundaran HI Tanpa Surat Resmi, Polisi Tetap Kedepankan Pengamanan Humanis
Sambut HUT Jakarta ke-499, Ancol Gratiskan Tiket Masuk untuk Warga Ber-KTP Jakarta Selama Tiga Hari
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:50 WIB

Polda Metro Jaya Kerahkan 4.547 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa di Sejumlah Titik Strategis Jakarta

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:49 WIB

Pelayanan SPKT Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Ade Rahmat: Cepat dan Profesional

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:42 WIB

Aksi Unjuk Rasa di Monas Berlangsung Tertib, Polda Metro Jaya Pastikan Situasi Jakarta Tetap Kondusif

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:13 WIB

Patroli Humanis Brimob Polda Metro Jaya Jaga Kondusivitas Kabupaten Bekasi

Senin, 15 Juni 2026 - 18:35 WIB

Diduga Beraksi Berkelompok, Komplotan Pencopet di PRJ Kemayoran Diburu Polisi

Berita Terbaru

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya mendeportasi tiga warga negara (WN) China berinisial YJ, CN, dan LJ setelah terbukti memanipulasi data untuk memperoleh visa kunjungan bisnis dan pra investasi di Indonesia.

Hukum & Kriminal

Tiga WN China Dideportasi Imigrasi Surabaya karena Manipulasi Data Visa

Sabtu, 20 Jun 2026 - 07:41 WIB