JAKARTA – Di tengah citra institusi kepolisian yang kerap identik dengan ketegasan dan hirarki komando, sosok Asep Hendradiana justru menghadirkan warna berbeda. Perwira tinggi Polri berpangkat Inspektur Jenderal itu dinilai memiliki pendekatan kepemimpinan yang humanis, responsif, dan dekat dengan masyarakat lintas latar belakang.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Fahmy, seorang jurnalis media online yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk wilayah Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (13/4/2026). Dalam keterangannya, Fahmy menuturkan bahwa ia merasakan langsung karakter kepemimpinan Irjen Asep, meski hubungan keduanya terbilang belum lama terjalin.
“Beliau itu sosok yang sangat rendah hati, tidak membeda-bedakan orang. Bahkan komunikasi via WhatsApp pun selalu direspons cepat,” ujar Fahmy.
Pengalaman personal Fahmy menjadi salah satu potret konkret. Saat anaknya mengalami gangguan kesehatan kulit dan membutuhkan penanganan dokter spesialis yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS, Fahmy mencoba berkomunikasi dengan Irjen Asep. Respons yang diterima di luar ekspektasi.
Dalam percakapan tersebut, Irjen Asep langsung mengarahkan agar pasien dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I Pusdokkes Polri di Kramat Jati untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Ia bahkan meminta agar rujukan segera disiapkan dan menjadikan kasus tersebut sebagai atensi.
Tak berhenti di situ, ketika Fahmy menyampaikan bahwa penyakit tersebut juga menular kepada anggota keluarganya, Irjen Asep kembali merespons dengan sigap, mengindikasikan kemungkinan penyakit menular seperti cacar dan menekankan pentingnya penanganan segera di rumah sakit.
Respons cepat dan empati yang ditunjukkan tersebut dinilai mencerminkan sisi lain dari seorang jenderal bintang dua, bukan hanya sebagai pemimpin struktural, tetapi juga figur yang hadir secara personal dalam persoalan kemanusiaan.
Namun demikian, dalam perspektif berimbang, pengalaman individual seperti ini tetap perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Pelayanan kesehatan di lingkungan Polri, khususnya melalui fasilitas seperti RS Bhayangkara, pada prinsipnya memang dirancang untuk memberikan layanan optimal kepada anggota Polri dan masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. Akses dan prosedur tetap menjadi bagian penting dalam sistem pelayanan tersebut.
Secara karier, Irjen. Pol. Dr. dr. Asep Hendradiana, Sp.An-TI., Subsp.IC(K)., M.Kes. memiliki rekam jejak panjang di bidang kedokteran kepolisian. Lulusan Sekolah Perwira (Sepa) tahun 1993 ini mengawali kariernya di lingkungan Dinas Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Barat, sebelum menapaki berbagai posisi strategis.
Ia pernah menjadi bagian dari tim dokter kepresidenan pada 2014, serta dipercaya sebagai dokter pribadi Wakil Presiden pada 2016, posisi yang menuntut profesionalisme tinggi dan kepercayaan penuh dari pimpinan negara.
Kariernya terus menanjak dengan jabatan sebagai Sekretaris Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Sespusdokkes) Polri pada 2019, hingga kemudian dipercaya menjadi Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I R. Said Sukanto pada 2020.
Tonggak penting terjadi pada 13 April 2022, ketika ia resmi diangkat sebagai Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokkes) Polri melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/747/IV/KEP/2022 yang ditandatangani oleh Asisten SDM Polri Wahyu Widada. Dalam posisi ini, Irjen Asep memegang kendali strategis atas sistem layanan kesehatan Polri secara nasional.
Dari sisi akademik, kiprahnya juga terbilang kuat. Ia menyelesaikan pendidikan dokter di Universitas Padjadjaran, menempuh spesialis anestesi, hingga subspesialis intensive care. Tak berhenti di bidang medis, ia juga meraih gelar doktor di bidang ilmu hukum pada 2024, menunjukkan pendekatan multidisipliner dalam pengabdiannya.
Kombinasi antara kompetensi profesional dan pendekatan personal menjadi ciri yang kerap disematkan kepada Irjen Asep. Di satu sisi, ia merupakan figur teknokrat kesehatan dengan pengalaman panjang. Di sisi lain, ia dinilai mampu menjaga sentuhan kemanusiaan dalam menjalankan peran kepemimpinannya.
Di tengah tuntutan reformasi pelayanan publik, terutama di sektor kesehatan dan institusi penegak hukum, figur seperti ini menjadi sorotan. Bukan hanya soal kebijakan dan struktur, tetapi juga bagaimana respons cepat, empati, dan keterbukaan dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi.
Meski demikian, tantangan ke depan tetap besar. Konsistensi pelayanan, pemerataan akses, serta transparansi sistem menjadi indikator utama yang akan terus diuji. Sosok pemimpin, sekuat apa pun karakternya, pada akhirnya akan dinilai dari dampak nyata yang dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Dalam konteks itu, kisah sederhana yang dialami Fahmy mungkin hanyalah satu fragmen kecil, namun cukup untuk menggambarkan bahwa di balik seragam dan pangkat, ada sisi kemanusiaan yang tetap bekerja.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin



































