Jakarta – Sejumlah tokoh muda Tanah Abang menyampaikan dukungan terhadap kinerja Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Arifin, di tengah munculnya berbagai kritik yang beredar di media sosial. Mereka menilai penilaian terhadap seorang pejabat publik semestinya didasarkan pada fakta dan capaian kerja, bukan sekadar opini atau persepsi yang berkembang.
Salah satu tokoh yang menyampaikan pandangannya adalah tokoh muda Tanah Abang sekaligus pengacara muda Jakarta, H. Okis Bangkit, SH. Menurutnya, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Namun, kritik sebaiknya disampaikan secara objektif, berimbang, dan berlandaskan kondisi nyata di lapangan.
“Kalau ada yang mengkritik kinerja Pak Wali Kota, itu hak setiap warga. Namun akan lebih baik jika kritik tersebut disampaikan berdasarkan fakta dan secara langsung. Pak Arifin adalah sosok yang terbuka terhadap masukan, terutama yang bersifat membangun,” ujar Okis.
Okis menilai berbagai tudingan yang menyebut Arifin hanya mengedepankan pencitraan di media sosial tidak sejalan dengan realitas yang terjadi selama masa kepemimpinannya. Menurut Okis, Arifin aktif turun langsung ke lapangan sekaligus merealisasikan sejumlah program pembangunan dan pelayanan publik yang manfaatnya telah dirasakan masyarakat.
Okis menyebut, Selasa malam menjadi bukti kalau Wali Kota selaluu terjun langsung ketemu tatap muka dengan masyarakat yang ada di Jakarta Pusat, memberikan solusi permasalahan di wilayah, Setiap acara tatap muka di hari Selasa malam Pak Arifin, Wali Kota Jakpus, selalu memberikan no telepon pribadi nya ke pada masyarakat yang hadir, untuk masyarakat bisa mengadu melalui telepon seluler nya.
Di bidang infrastruktur, misalnya, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat berhasil merealisasikan pengaspalan Jalan Pasar Baru Barat dan Jalan Karet Bivak pada Desember 2025. Kedua ruas jalan tersebut sebelumnya telah lama menjadi keluhan warga karena kondisinya yang rusak.
Pada sektor sosial, Pemkot Jakarta Pusat menjalankan program bedah rumah di Jalan Sukabumi pada Juli 2025. Program serupa kembali dilaksanakan bagi warga terdampak kebakaran di kawasan Bungur, Kecamatan Senen, pada Januari 2026 sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Upaya penataan kawasan juga terus dilakukan. Salah satunya melalui penataan kawasan Kebon Kacang pada 30 Mei 2026 yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan permukiman. Saat ini, Pemerintah Kota Jakarta Pusat juga tengah melakukan penataan kawasan Jati Petamburan.
Dalam bidang pendidikan, Okis menilai Arifin menunjukkan kepedulian dengan mendatangi langsung rumah Ananda Rafa dan Ananda Aulia yang sempat terancam putus sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keduanya tetap memperoleh akses pendidikan.
Selain menjalankan berbagai program pembangunan, Arifin juga dikenal rutin melakukan pemantauan wilayah. Setiap Rabu pagi, ia bersepeda menyusuri sejumlah ruas jalan di Jakarta Pusat guna memantau kebersihan lingkungan sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan cepat.
Menurut Okis, aktivitas Wali Kota yang kerap dipublikasikan melalui media sosial tidak semestinya dipandang sebagai pencitraan semata. Ia menilai media sosial justru menjadi sarana transparansi pemerintahan, mempercepat respons terhadap aduan masyarakat, sekaligus menyampaikan informasi mengenai berbagai program pemerintah.
“Yang terpenting bukan seberapa sering seorang kepala daerah muncul di media sosial, tetapi apakah di balik itu ada kerja nyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangan kami, Pak Arifin telah membuktikan hal tersebut melalui berbagai program yang sudah berjalan,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan H. Bardata, putra tokoh legendaris Tanah Abang, Bang Yusuf Muhi atau Bang Ucu. Ia menilai kritik yang disampaikan secara berlebihan terhadap Wali Kota Jakarta Pusat bisa saja dipengaruhi oleh pihak-pihak yang kepentingannya terganggu atau tidak menginginkan perubahan di Jakarta Pusat.
Meski demikian, Bardata menegaskan bahwa kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari proses evaluasi pemerintahan. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan kritik yang sehat, beretika, objektif, serta didasarkan pada fakta di lapangan.
“Kami bukan anti-kritik. Justru kritik sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi. Namun, kritik harus disampaikan dengan etika, objektif, dan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Warga Jakarta Pusat tentu dapat menilai sendiri bagaimana kinerja Pak Wali Kota selama ini,” tutupnya.
Penulis/Editor: HELMI AR




































