Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan edukasi penggunaan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) tidak bisa semata dibebankan kepada orang tua dan guru. Ia menyebut pengembang teknologi juga harus memikul tanggung jawab yang sama.
Hal itu disampaikan Pratikno dalam peringatan Safer Internet Day 2026 bertajuk Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI di Kantor Kemenko PMK, Rabu (11/2).
Penggunaan teknologi digital dan AI tidak ada pilihan, harus digunakan. Karena itu, tanggung jawab pengembang teknologi menjadi sangat penting,” kata Pratikno.
Ia mengingatkan keberhasilan edukasi digital bukan diukur dari banyaknya panduan yang dibuat, melainkan sejauh mana panduan tersebut benar-benar digunakan oleh guru, orang tua, dan anak-anak.
Targetnya bukan Anda sudah membuat panduan, tetapi sejauh mana orang Indonesia menggunakannya. Bukan hanya dibuat, tapi digunakan,” ujarnya.
Pratikno menekankan pembangunan manusia Indonesia bertujuan mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan tangguh, sehat secara fisik, mental, moral, sosial, dan spiritual. Menurutnya, kecerdasan tanpa kesehatan mental dan karakter kuat akan kehilangan makna di tengah disrupsi digital.
Ia juga mengajak platform digital global untuk berperan lebih aktif menciptakan teknologi yang mendukung edukasi secara masif dan berkelanjutan.
“Kami di pemerintah sangat berkepentingan karena urusan pembangunan manusia semuanya terdisrupsi teknologi digital dan AI,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Hubungan Pemerintahan dan Kebijakan Publik YouTube Asia Tenggara Danny Ardianto menyampaikan komitmen perusahaan dalam melindungi anak di ruang digital.
Ia menyebut YouTube kini menjadi ruang pembelajaran yang dipercaya 96 persen guru di Indonesia dan terus diperkuat melalui kolaborasi dengan Kemenko PMK, termasuk lewat inisiatif AKSI Digital.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengungkapkan sekitar 41 persen anak usia dini telah mengakses internet tanpa pendampingan optimal dari orang tua.
Menurut Woro, Kemenko PMK mendorong pengurangan screen time dan peningkatan green time melalui Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga yang akan dimulai pada Ramadan mendatang.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Warsito mengatakan gerakan bijak berdigital harus menjadi budaya, bukan sekadar program.
Regulasi sudah disiapkan, namun ekosistem dan kolaborasi multipihak menjadi kunci,” ujar Warsito.
Konten kreator Parentalk.id Ario Pratomo menilai pendekatan terhadap anak di ruang digital tidak cukup hanya dengan pembatasan. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping.
Anak bukan hanya dibatasi, tetapi perlu ditemani,” kata Ario.
Hal senada disampaikan Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM Tjhin Wiguna. Ia menjelaskan kontrol diri anak secara biologis belum berkembang sempurna sehingga membutuhkan pendampingan.
Pola asuh digital yang tepat adalah orang tua menjadi co-user, bukan solo user,” ujarnya.
Dalam rangka Safer Internet Day 2026, Kemenko PMK bersama Mendukbangga, Menteri PPPA, Google, dan YouTube meluncurkan AKSI Digital (Anak & Keluarga Sigap Digital), termasuk Program Percontohan Youth Champions dan seri konten edukasi yang melibatkan 10 kreator.
Melalui Google.org, Google juga menyalurkan dana US$5 juta untuk mendukung kesejahteraan digital anak muda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan target menjangkau lebih dari 300 ribu remaja, orang tua, dan guru.




































