JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, memperkuat langkah promosi potensi daerah melalui penyelenggaraan Festival Bulungan Berkarya di Sarinah, Kamis (30/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam memperkenalkan produk unggulan daerah sekaligus memperluas akses pasar UMKM melalui kemitraan lintas sektor.
Festival yang melibatkan mitra strategis seperti Sawit Watch, Pilar Nusantara, dan manajemen Sarinah tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Bulungan Syarwani, S.Pd., M.Si., bersama Wakil Bupati Kilat, A.Md., perwakilan Kementerian UMKM, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Syarwani menegaskan bahwa kehadiran produk Bulungan di Sarinah merupakan hasil proses panjang yang telah dibangun selama lebih dari dua tahun. Ia menyebut interaksi intensif dengan Sarinah menjadi kunci agar produk lokal dapat tampil di pusat perbelanjaan yang dikenal sebagai etalase produk Indonesia.
“Bagi kami, Sarinah bukan sekadar ruang komersial, tetapi simbol kepercayaan bahwa produk asli daerah memiliki kualitas dan daya saing. Ini peluang besar untuk memperkaya keberagaman produk Indonesia,” ujar Syarwani.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk kementerian terkait, mitra pembangunan, serta organisasi masyarakat sipil yang telah mendorong terwujudnya kolaborasi tersebut.
Secara umum, Syarwani memaparkan profil Kabupaten Bulungan sebagai wilayah yang memiliki luas sekitar 13.000 km² dengan 74 desa dan lebih dari 160 ribu penduduk. Keberagaman etnis, termasuk suku Dayak, Tidung, Bulungan, dan dominasi pendatang dari Jawa, menjadi kekuatan sosial dalam pembangunan daerah.
Ia menekankan bahwa pemerintah daerah mengusung visi “Bulungan Berdaulat dan Unggul melalui Pembangunan Hijau Berkelanjutan”. Visi tersebut diterjemahkan dalam 15 program prioritas, salah satunya penguatan kolaborasi dengan mitra pembangunan melalui skema Mitra Bulungan.
“Semangat gotong royong dan persatuan menjadi fondasi kami. Kami tidak lagi bicara soal perbedaan, tetapi bagaimana seluruh elemen masyarakat bersama-sama membangun daerah,” tegasnya.
Dalam konteks ekonomi, Syarwani mengungkapkan bahwa sektor UMKM menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Bulungan yang mencapai 5,54 persen. Saat ini terdapat sekitar 12.000 pelaku usaha yang terus didorong naik kelas melalui berbagai program pemerintah.
Upaya tersebut mencakup:
• Fasilitasi legalitas usaha melalui Nomor Induk Berusaha (NIB),
• Pendampingan standar higienitas dan kualitas produk,
• Dukungan pembiayaan melalui program Kredit Mesra dengan bunga rendah,
• Bantuan sarana usaha, termasuk penyediaan gerobak bagi pedagang.
“Pemerintah hadir tidak hanya dalam bentuk regulasi, tetapi juga solusi konkret, mulai dari perizinan hingga akses modal,” jelasnya.
Salah satu produk unggulan yang ditampilkan dalam festival adalah olahan cokelat dari desa-desa di Bulungan. Pemerintah daerah sebelumnya telah menyalurkan puluhan ribu bibit kakao dan kini mulai menuai hasil produksi.
Syarwani menekankan pentingnya penguatan hilirisasi, termasuk peningkatan kualitas pascapanen agar produk mampu bersaing di pasar nasional.
Di sisi lain, program berbasis desa juga diperkuat melalui alokasi anggaran berbasis ekologi, yang mengintegrasikan isu lingkungan, pengelolaan sampah, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kabupaten Bulungan juga tengah mengembangkan kawasan seluas sekitar 600 ribu hektare yang mengedepankan keseimbangan antara konservasi dan aktivitas ekonomi masyarakat. Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk mitra pembangunan dan lembaga konservasi.
Menurut Syarwani, pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pelestarian lingkungan.
Dalam upaya memperluas akses pasar, pemerintah daerah juga mendorong pembentukan Koperasi Merah Putih di seluruh desa. Hingga saat ini, dari 74 desa, sebagian besar telah membentuk koperasi dengan progres operasional yang terus berjalan.
Koperasi tersebut diharapkan menjadi agregator produk UMKM, sehingga mempermudah distribusi dan pemasaran, termasuk ke pasar modern seperti Sarinah.
Menutup sambutannya, Syarwani mengundang seluruh mitra, termasuk manajemen Sarinah dan kementerian terkait, untuk hadir dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Bulungan pada 12 Oktober 2026. Ia berharap momentum tersebut dapat semakin memperkuat kolaborasi dalam pengembangan UMKM dan promosi potensi daerah.
Festival Bulungan Berkarya tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga simbol keberhasilan kolaborasi antara pemerintah daerah, mitra strategis, dan pelaku usaha. Di tengah tantangan ekonomi dan tuntutan keberlanjutan, pendekatan kolaboratif yang diusung Kabupaten Bulungan menunjukkan bahwa penguatan ekonomi lokal dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan hadir di pusat perdagangan nasional seperti Sarinah, produk-produk Bulungan diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas, sekaligus mempertegas identitas daerah sebagai bagian dari kekayaan ekonomi dan budaya Indonesia.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































