JAKARTA – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Industri Event Indonesia (Ivendo) yang digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (30/4/2026), menghasilkan sejumlah keputusan strategis untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri event nasional. Dari lebih dari 30 usulan program yang dihimpun dari pengurus pusat dan daerah, forum menyepakati delapan program utama yang akan dijalankan sebagai agenda nasional organisasi.
Dewan Pembina Ivendo, Mulkan Kamaludin, menyampaikan bahwa penyaringan program dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kebutuhan riil pelaku industri di berbagai daerah.
“Ada lebih dari 30 program yang diajukan, kemudian dipilih delapan program prioritas sebagai program nasional. Yang paling dekat adalah perayaan ulang tahun Ivendo ke-8 yang akan berlangsung sepanjang Mei,” ujarnya usai Rakernas.
Menurut Mulkan, seluruh program yang dirumuskan dalam Rakernas berorientasi pada solusi konkret bagi pelaku industri event, bukan sekadar respons normatif terhadap tantangan ekonomi. Ia menegaskan, sejak awal berdirinya, Ivendo mengedepankan semangat kemandirian dan kolaborasi ketimbang bergantung pada bantuan.
“Ivendo bukan organisasi yang mengeluh atau meminta-minta bantuan. Justru kami berupaya membantu pemerintah dengan menghadirkan solusi dari sisi pelaku industri. Apa yang bisa kami lakukan, kami kerjakan. Jika ada hal di luar kapasitas kami, itu yang kami harapkan dapat diintervensi oleh pemerintah,” jelasnya.
Rakernas juga mencatat adanya optimisme yang relatif kuat dari pelaku industri event terhadap prospek ekonomi 2026. Berdasarkan survei internal Ivendo, sekitar 60–65 persen pelaku industri menyatakan tetap optimistis, meskipun angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai di atas 80 persen.
Penurunan tingkat optimisme ini dinilai sebagai refleksi dari tekanan ekonomi global dan regional yang turut berdampak pada aktivitas industri event di dalam negeri. Mulkan mengakui, sebagian pelaku mengalami penurunan skala kegiatan, baik dari segi nilai proyek maupun frekuensi penyelenggaraan.
“Ada yang sebelumnya menangani event besar kini turun menjadi menengah, bahkan kecil. Ada juga yang jumlah kegiatannya berkurang. Tapi dengan penyesuaian itu, pelaku industri masih bisa bertahan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sekitar 30 persen responden survei mengaku terdampak cukup signifikan terhadap omzet, namun mayoritas tetap melihat peluang pemulihan seiring potensi peningkatan aktivitas pemerintah dan sektor swasta dalam beberapa bulan ke depan.
Salah satu isu krusial yang mengemuka dalam Rakernas adalah meningkatnya kehadiran pelaku industri event asing di pasar domestik, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Kehadiran pemain dari luar negeri, antara lain dari Korea Selatan, Tiongkok, dan Singapura, dinilai memperketat kompetisi di sektor ini.
Ivendo, kata Mulkan, tidak menolak kehadiran pelaku asing, namun menilai perlu adanya regulasi yang adil untuk menjaga keseimbangan ekosistem industri dalam negeri. Ia mencontohkan praktik di negara lain yang mewajibkan kolaborasi dengan pelaku lokal sebagai syarat operasional.
“Kami tidak meminta bantuan finansial. Yang kami butuhkan adalah regulasi. Misalnya, jika pelaku asing menggelar event di Indonesia, mereka wajib bekerja sama dengan pelaku lokal dengan persentase tertentu. Itu penting untuk menjaga keberlanjutan industri kita,” tegasnya.
Rakerna Ivendo 2026 juga menekankan pentingnya implementasi program secara merata hingga ke daerah. Dengan jaringan organisasi yang telah menjangkau berbagai provinsi dari Aceh hingga Sulawesi Utara, Ivendo menargetkan sinergi yang lebih kuat antara pusat dan daerah.
Mulkan menyebut, laporan dari pengurus daerah menunjukkan perkembangan yang relatif positif, meskipun menghadapi dinamika ekonomi yang tidak ringan. Oleh karena itu, kolaborasi lintas wilayah dan penguatan kapasitas pelaku lokal menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program nasional.
“Kami berharap seluruh kesepakatan Rakernas ini tidak hanya berhenti di pusat, tetapi benar-benar terealisasi di daerah. Kolaborasi harus diperkuat agar kegiatan-kegiatan yang solutif bisa dirasakan secara luas,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri event, Ivendo menaruh harapan pada peran pemerintah sebagai regulator untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif. Mulkan optimistis, dengan kebijakan yang tepat dan sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, sektor event dapat kembali tumbuh lebih kuat.
“Kami yakin pemerintah akan mulai kembali mendorong aktivitas di bulan-bulan ke depan. Dengan dukungan regulasi yang tepat, industri event Indonesia tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang dan bersaing secara global,” pungkasnya.
Rakernas ini menjadi penanda komitmen Ivendo dalam menjaga keberlangsungan industri event nasional melalui pendekatan kolaboratif, adaptif, dan berbasis solusi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































