JAKARTA – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menekankan pentingnya pelaku UMKM memperkuat fundamental usaha dan menguasai pasar domestik sebelum memperluas bisnis ke pasar global melalui ekspor.
Hal itu disampaikan Maman dalam kegiatan Kopdar Ekspor di Jakarta, Kamis (3/9). Menurutnya, ekspor merupakan peluang penting bagi UMKM untuk meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar. Namun, ekspansi ke pasar internasional harus dibarengi kesiapan usaha dan kekuatan di pasar dalam negeri.
“Boleh kita support teman-teman untuk ekspor, 100 persen kita dukung. Tetapi pastikan kualitas produk mereka di domestik juga sudah kuat. Jangan sampai kita ekspor satu kali, setelah itu tidak berlanjut,” ujar Maman.
Maman mengatakan pasar domestik menjadi ruang penting bagi UMKM untuk menguji kualitas dan konsistensi produk, meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki tata kelola usaha, serta memahami kebutuhan konsumen.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika UMKM masuk ke pasar internasional yang memiliki tingkat persaingan dan standar lebih kompleks.
“Tidak ada pengusaha di mana pun yang tidak memulai dari pasar lokal mereka. Kita sering belum apa-apa sudah memikirkan ekspor, tetapi lupa memperkuat pasar domestik,” katanya.
Maman menegaskan penguatan pasar domestik dan ekspor bukan merupakan dua agenda yang bertentangan. Keduanya harus berjalan beriringan agar UMKM memiliki ketahanan usaha di dalam negeri sekaligus mampu meningkatkan daya saing di pasar global.
Ia menyebut besarnya pasar domestik Indonesia sebagai kekuatan yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku UMKM. Penguasaan pasar dalam negeri diharapkan dapat menjadi pijakan bagi UMKM untuk meningkatkan skala produksi sebelum memperluas pemasaran ke berbagai negara.
“Pasar domestik adalah benteng pertahanan kita. Kita boleh keluar untuk ekspor, tetapi jangan sampai benteng kita sendiri kosong dan dikuasai produk dari luar,” ujar Maman.
Tekankan Manajemen Keuangan
Selain penguasaan pasar, Maman menyoroti pentingnya penguatan manajemen keuangan sebagai bagian dari fundamental bisnis UMKM.
Menurut dia, akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas produksi harus diikuti kemampuan mengelola keuangan secara disiplin. Hal tersebut diperlukan agar pertumbuhan usaha tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan.
Untuk memperluas akses pelaku UMKM terhadap layanan pengembangan usaha, Kementerian UMKM menghadirkan SAPA UMKM sebagai sistem layanan terintegrasi.
Melalui SAPA UMKM, pelaku usaha dapat mengakses berbagai layanan, antara lain verifikasi usaha, legalitas dan sertifikasi, pembiayaan, peningkatan kapasitas, pembukuan digital, hingga akses pemasaran.
Maman mengatakan kehadiran SAPA UMKM ditujukan untuk mendekatkan layanan pemerintah dengan pelaku usaha di berbagai daerah.
“SAPA UMKM kami hadirkan supaya pengusaha UMKM di seluruh Indonesia tidak harus datang ke Jakarta untuk mendapatkan akses layanan pemerintah. Pemerintah harus hadir dalam setiap proses tumbuh dan berkembangnya usaha mereka,” katanya.
SMESCO Petakan UMKM Siap Ekspor
Sejalan dengan penguatan akses pasar, Kementerian UMKM juga terus memperkuat peran SMESCO sebagai lembaga layanan pemasaran UMKM, termasuk dalam memetakan kesiapan pelaku usaha untuk menembus pasar internasional.
Direktur Utama SMESCO Doddy Akhmadsyah Matondang mengatakan pihaknya memiliki sekitar 100 ribu data UMKM yang terus dipetakan berdasarkan kesiapan dan potensi pengembangannya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 267 UMKM telah teridentifikasi siap memasuki pasar ekspor.
“Dari sekitar 100 ribu data UMKM yang ada di SMESCO, saat ini sudah terpetakan 267 UMKM yang siap ekspor. Melalui kegiatan seperti Kopdar Ekspor ini, kami berharap jumlah tersebut terus bertambah, baik dari sisi jumlah maupun variasi produk,” ujar Doddy.
Selain pemetaan, SMESCO juga melakukan pendekatan secara aktif kepada pelaku UMKM untuk mengidentifikasi kebutuhan dan potensi pengembangan usaha.
Hingga saat ini, sebanyak 1.083 UMKM telah dihubungi secara langsung. Dari jumlah tersebut, 551 UMKM teridentifikasi memiliki potensi untuk dikembangkan, termasuk untuk mendapatkan fasilitasi menuju pasar ekspor.
Doddy mengatakan sejumlah tantangan yang masih dihadapi UMKM untuk memasuki pasar global meliputi aspek pemasaran, pembiayaan, dan perizinan.
Karena itu, menurutnya, kesiapan ekspor perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari penguatan fundamental usaha hingga pembukaan akses pasar.
“Kami berkomitmen menyediakan end-to-end services bagi UMKM, mulai dari akses pemasaran, pembiayaan hingga perizinan, sehingga semakin banyak UMKM Indonesia yang siap dan mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan,” katanya.




































