Hendri Yudi Tegaskan Putusan MK Larang Polisi Aktif Duduki Jabatan Sipil Berlaku Serta-Merta

- Jurnalis

Minggu, 16 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Hendri Yudi, S.H., M.H., alumni Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI Angkatan ke-219, Senior Partner Kantor Hukum Akhyari Hendri & Partners. (Dok-Istimewa)

Foto: Hendri Yudi, S.H., M.H., alumni Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI Angkatan ke-219, Senior Partner Kantor Hukum Akhyari Hendri & Partners. (Dok-Istimewa)

JAKARTA – Senior Partner Kantor Hukum Akhyari Hendri & Partners, Hendri Yudi, S.H., M.H., menegaskan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai larangan anggota Polri aktif menduduki jabatan sipil bersifat final dan langsung berlaku tanpa menunggu revisi undang-undang. Pernyataan tersebut ia sampaikan menanggapi Putusan MK Nomor 114/PUU-XXIII/2025 yang menghapus celah hukum penugasan polisi aktif ke jabatan sipil.

Hendri, yang juga alumni Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI Angkatan ke-219, menilai kepastian hukum atas putusan MK wajib dihormati oleh seluruh lembaga negara, termasuk Polri.

“Putusan MK itu putusan hukum dan mengikat. Menurut undang-undang, putusan MK berlaku seketika begitu palu diketok. Tidak ada alasan untuk menunda,” ujar Hendri dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/11/2025).

Dikatakan Hendri, bahwa putusan MK bersifat final dan binding. “Dapat kita ketahui bahwa konsep final and binding pada putusan Mahkamah Konstitusi yang kemudian menjadi pilar penting pada Sistem Hukum Indonesia dapat memberikan kepastian hukum, memastikan kepatuhan, serta mempengaruhi kebijakan publik secara signifikan,” ucapnya.

Menurut Hendri, keberlakuan putusan MK berada pada derajat hukum tertinggi yang tidak dapat dinegosiasikan. Karena itu, setiap anggota Polri aktif yang tengah menjabat posisi sipil harus segera melepaskan jabatannya.

“Kalau kita masih mengakui negara ini sebagai negara hukum dan negara demokrasi konstitusional, maka proses penghentian jabatan itu harus segera diatur kembali. Tidak bisa ditunda,” tegasnya.

Ia menambahkan, implementasi putusan MK tidak memerlukan perubahan UU lebih dulu. MK, kata dia, mempunyai kewenangan untuk membatalkan norma yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945, termasuk penjelasan pasal yang selama ini memungkinkan penugasan polisi aktif di jabatan sipil.

“Putusan MK tidak perlu menunggu revisi undang-undang. Begitu diputus, norma yang dibatalkan langsung tidak berlaku. Ketentuan mengenai penugasan dari Kapolri sudah gugur otomatis,” jelas Hendri.

Meski demikian, Hendri menekankan bahwa pelaksanaan putusan MK bukan berada dalam lingkup kewenangan Komisi Reformasi Polri. Menurutnya, tim reformasi Polri hanya bersifat administratif dan bertugas memberi rekomendasi kepada Presiden.

“Keputusan reformasi Polri itu administratif. Mereka menyampaikan rekomendasi ke Presiden, bukan eksekutor terhadap putusan MK,” ujarnya.

Putusan MK Nomor 114/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan Ketua MK Suhartoyo pada Kamis (14/11) menghapus frasa “atau tidak berdasarkan pengugasan dari Kapolri” dalam Penjelasan Pasal 28 ayat (3) UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri.

Putusan itu mempertegas ketentuan pada pasal tersebut yang menyatakan bahwa: Anggota Polri hanya dapat menduduki jabatan di luar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian.

Dengan demikian, seluruh bentuk penugasan oleh Kapolri yang selama ini menjadi dasar pengisian jabatan sipil oleh polisi aktif dinyatakan tidak lagi memiliki kekuatan hukum mengikat.

MK dalam putusannya mengabulkan permohonan uji materi yang diajukan advokat Syamsul Jahidin dan mahasiswa Christian Adrianus Sihite secara keseluruhan. Para pemohon menilai keberadaan frasa tersebut membuka ruang konflik kepentingan dan bertentangan dengan prinsip profesionalisme kepolisian

Putusan MK ini membawa implikasi langsung terhadap penataan struktur jabatan yang selama ini ditempati anggota Polri aktif, baik di kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah. Pihak pemerintah kini dituntut menyusun mekanisme transisi yang tertib, cepat, dan sesuai koridor hukum.

Pengamat hukum menilai putusan ini memperkuat upaya pemisahan peran sipil dan kepolisian demi menjaga independensi aparat penegak hukum serta mencegah potensi konflik kepentingan di ruang birokrasi.

Pernyataan Hendri Yudi menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki ruang abu-abu dalam pelaksanaan putusan MK. Dengan sifatnya yang final dan mengikat, larangan polisi aktif menduduki jabatan sipil menjadi aturan yang wajib dipatuhi, sekaligus menandai babak penting reformasi penataan institusi penegak hukum di Indonesia.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Tubagus Bahrudin Sampaikan Ucapan Selamat kepada Dudung Abdurachman sebagai Menko Polkam
Kriyanusa 2026, Sumsel Jadi Ikon Utama Pameran Kriya di JCC Senayan
DPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Calon Kapolri, Bawa Gagasan Polisi Bersama Masyarakat
Tubagus Bahrudin Sampaikan Selamat kepada Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia
Calon Presiden RI 2029, Tubagus Bahrudin Sampaikan Ucapan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026
KADIN dan Industri Bangun Ekosistem Hilirisasi Komoditas Unggulan Sulteng
Manipulasi Pelat Nomor Jadi Tantangan Penegakan Hukum di Era ETLE
Kemnaker Masukkan Teknisi Ponsel dalam Inaskill 2026 untuk Pertama Kali
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Tubagus Bahrudin Sampaikan Ucapan Selamat kepada Dudung Abdurachman sebagai Menko Polkam

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:04 WIB

Kriyanusa 2026, Sumsel Jadi Ikon Utama Pameran Kriya di JCC Senayan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:19 WIB

DPR Setujui Suyudi Ario Seto Jadi Calon Kapolri, Bawa Gagasan Polisi Bersama Masyarakat

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Tubagus Bahrudin Sampaikan Selamat kepada Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Calon Presiden RI 2029, Tubagus Bahrudin Sampaikan Ucapan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Berita Terbaru

Foto: Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin bersama warga memanen singkong di lingkungan RW 09, Jalan Radar Utara, Pangkalan Jati, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Jumat (2/10/2026).

Wali Kota Jakarta Pusat

Panen Singkong dan Petai, Munjirin Dorong Ketahanan Pangan dari Lingkungan Warga

Jumat, 2 Okt 2026 - 23:59 WIB

Foto: Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin meninjau pelaksanaan kegiatan Gerebek Lumpur di kawasan Kali Sunter, RW 09 Radar Utara, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Jumat (2/10/2026).

Wali Kota Jakarta Pusat

Lumpur Setebal 2 Meter Dikeruk, Pemkot Jaktim Siapkan Kali Sunter Hadapi Hujan

Jumat, 2 Okt 2026 - 23:35 WIB