Pemda Kuningan Buka Status Tanah Eks Pendopo Bupati, Sultan Sepuh: Statusnya Cuma Hak Pakai, Lalu Siapa Pemiliknya?

- Jurnalis

Rabu, 2 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih Syarif Maulana Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja-Kiri. (Dok-Istimewa)

Foto: Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih Syarif Maulana Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja-Kiri. (Dok-Istimewa)

KUNINGAN – Polemik kepemilikan tanah eks Pendopo Bupati Kuningan kembali mengemuka setelah Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan secara resmi mengungkap status hukum aset tersebut. Melalui akun resmi BPKAD, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kuningan, Deden Kurniawan SE., M.Si., menyatakan bahwa tanah di Jalan Siliwangi No. 88 Kuningan tersebut berstatus Hak Pakai dan tercatat dalam neraca aset daerah.

Tanah itu mencakup tiga bidang:

• Kantor Sekretariat Daerah seluas 15.823 m² (Sertifikat No. 20, tertanggal 20 September 1990, ID Barang: 47817).

• Lapangan parkir seluas 2.430 m² (Sertifikat No. 33, tertanggal 24 September 2009, ID Barang: 47818).

• Taman seluas 477 m² (Sertifikat No. 57, tertanggal 6 Januari 2022, ID Barang: 68616).

Namun pernyataan resmi Pemda ini langsung ditanggapi tegas oleh Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih Syarif Maulana Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, yang selama ini menyuarakan klaim bahwa tanah tersebut merupakan bagian dari wilayah adat Kesultanan Cirebon.

“Statusnya cuma hak pakai kan? Lalu siapa pemiliknya?” kata Sultan Sepuh saat dikonfirmasi media dari Jakarta, Rabu (2/7/2025).

“Kalau memang tanah negara, kenapa statusnya tidak hak milik negara? Kan dalam konstitusi sudah jelas, negara tidak memiliki tanah, hanya menguasai dan mengelola,” sambungnya.

Ia mempertanyakan keberadaan historis negara dibanding Kesultanan Cirebon, serta menyoroti tidak adanya izin atau royalti atas penggunaan nama leluhur Kesultanan, Pangeran Purbawisesa Langlangbuana, yang kini menjadi nama resmi Gedung Pendopo Kuningan.

“Itu simbolik lho, nama leluhur kami dipakai. Tapi apakah pernah ada kompensasi kepada ahli waris? Jangan sampai gedung itu disewakan ke pihak ketiga hanya untuk kepentingan bisnis,” tegas Sultan Heru.

Sultan Sepuh juga menekankan pentingnya sinergi antara Pemda dan Keraton dalam pelestarian budaya dan warisan leluhur, termasuk wacana besar menghidupkan kembali Seren Taun Keraton di Kabupaten Kuningan, yang menurutnya dulu menjadi bagian dari budaya daerah semasa kepemimpinan Pangeran Arya Kemuning.

Dari sisi hukum, Sultan Heru mengacu pada berbagai regulasi yang menurutnya mendukung eksistensi tanah adat dan ulayat, antara lain:

• Pasal 18B ayat 2 UUD 1945

• Pasal 3 UUPA No. 5 Tahun 1960

• PP No. 224 Tahun 1961

• PP No. 18 Tahun 2021

• Permen ATR/BPN No. 14 Tahun 2024

• PP No. 24 Tahun 1997

• Sertifikat Hak Milik Adat (SHMA)

“Negara mengakui hukum adat. Jadi jangan debatkan legalitas tanah ulayat,” ujar Sultan, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Negara Perintis Kemerdekaan RI (LNPKRI/DAN RI) — lembaga resmi yang menaungi para Raja dan Sultan se-Nusantara sejak 1964.

Dikenal sebagai figur yang low-profile namun aktif, Sultan Heru juga dikenal luas sebagai pendukung Presiden RI Prabowo Subianto dan salah satu duta pemberantasan korupsi di lingkungan keraton.

Kini masyarakat menanti, apakah Pemerintah Daerah Kuningan akan membuka pintu harmonisasi dengan pihak Kesultanan Cirebon atau terus mempertahankan klaim sepihak atas aset bersejarah ini. Polemik ini membuka diskusi lebih luas tentang hubungan negara dan warisan kerajaan Nusantara dalam tata kelola aset daerah.

“Sudahlah, tinggal disinergikan dan diharmonisasikan saja. Mau sampai kapan gontok-gontokan?” pungkas Sultan Heru.

Penulis : Fahmy Nurdin

Editor : Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Fadli Zon Dorong Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Data Ekonomi Kebudayaan
Fadli Zon Dorong Vila Bung Hatta dan Riung Gunung Jadi Penggerak Ekonomi Budaya
Memutus Budaya KKN dengan Membangun Kepribadian dalam Kebudayaan
Menteri Kebudayaan: Keberagaman dan Budaya Jadi Akar Kekuatan Bangsa
Ketua Umum MASL Hadiri Upacara HUT RI ke-81 di Istana, Bawa Pesan Pelestarian Budaya Sunda
Hari Masyarakat Adat Sedunia, Tiga Pilar Sumedang Soroti Ancaman Degradasi Kedaulatan Adat
Hari Masyarakat Adat Sedunia, Andy Java: Lindungi Mereka untuk Selamatkan Masa Depan
Raden Rafiq Hakim Radinal Resmi Dikukuhkan Sebagai Wawali Kerajaan Galuh Ciamis
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:38 WIB

Fadli Zon Dorong Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Data Ekonomi Kebudayaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Fadli Zon Dorong Vila Bung Hatta dan Riung Gunung Jadi Penggerak Ekonomi Budaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:12 WIB

Memutus Budaya KKN dengan Membangun Kepribadian dalam Kebudayaan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:42 WIB

Menteri Kebudayaan: Keberagaman dan Budaya Jadi Akar Kekuatan Bangsa

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:09 WIB

Ketua Umum MASL Hadiri Upacara HUT RI ke-81 di Istana, Bawa Pesan Pelestarian Budaya Sunda

Berita Terbaru

Foto: Dua pria yang diduga terlibat dalam aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) diamankan Tim Tiger Unit Reskrim Polsek Tambora, Jakarta Barat.

TNI & POLRI

Berbekal CCTV, Tim Tiger Tambora Ringkus Dua Pelaku Curanmor

Rabu, 26 Agu 2026 - 13:57 WIB