Kader SOKSI Pertanyakan SK Kemenkumham untuk Versi Misbakhun, Minta Pembatalan

- Jurnalis

Jumat, 12 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ketua Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI, Riko Heryanto. (Dok-Istimewa)

Foto: Ketua Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI, Riko Heryanto. (Dok-Istimewa)

JAKARTA – Polemik dualisme kepemimpinan di tubuh Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) kembali mencuat setelah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) cq Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) menerbitkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan atas nama SOKSI versi Misbakhun pada 2 September 2025.

Terbitnya SK tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan kader SOKSI, mengingat sejak Musyawarah Nasional (Munas) SOKSI 2017, kepengurusan resmi SOKSI telah dipimpin oleh Ketua Umum Ali Wongso Sinaga dan terdaftar secara legal di Kemenkumham.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI, Riko Heryanto, menilai penerbitan SK itu janggal dan sarat dengan dugaan penyalahgunaan wewenang. Ia menegaskan bahwa Misbakhun sebelumnya bukan bagian dari SOKSI, melainkan memimpin organisasi lain bernama Depinas SOKSI.

“Bagaimana mungkin organisasi bernama Depinas SOKSI tiba-tiba berubah dalam SK Kementerian Hukum menjadi Organisasi SOKSI? Jelas ini merupakan pengambilalihan paksa nama organisasi,” tegas Riko dalam konferensi pers di Kantor Depinas SOKSI, Epicentrum, Jakarta, Kamis (11/9/2025).

Menurutnya, perubahan nama organisasi dalam SK Kemenkumham tanpa proses hukum yang sah adalah ironi besar. “Tidak mungkin nama organisasi bisa berubah hanya karena pembaruan struktur kepengurusan. Anehnya, hal ini justru bisa disahkan oleh Kemenkumham cq Dirjen AHU,” katanya.

Atas kejanggalan itu, Riko mendesak agar Kemenkumham segera membatalkan SK Dirjen AHU terkait SOKSI versi Misbakhun. Ia menilai langkah tersebut penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum dan menjaga wibawa lembaga negara.

“Dengan pembatalan itu, Kemenkumham dapat menunjukkan komitmen menjaga kepastian hukum dan tidak memberi ruang pada praktik penyalahgunaan wewenang,” ujar Riko.

Riko menjelaskan, polemik bermula ketika Misbakhun yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal Depinas SOKSI pada 2020, mendaftarkan organisasinya ke Kemenkumham dengan nama mirip SOKSI. Pendaftaran itu kemudian menimbulkan kebingungan publik dan kader, karena menimbulkan kesan seolah-olah terdapat dua organisasi SOKSI yang sah.

Padahal, lanjutnya, organisasi yang sah adalah SOKSI yang dipimpin Ali Wongso Sinaga, sebagaimana tercatat resmi di Kemenkumham.

Riko yang juga merupakan calon legislatif DPR RI dari Partai Golkar pada Pemilu 2024 ini menyesalkan langkah Misbakhun yang juga kader partai berlambang pohon beringin tersebut.

“Tidak boleh menggunakan cara akal-akalan dan manipulatif demi tujuan pribadi. Kalau mau memimpin organisasi, lakukan secara legal. Jangan merusak marwah organisasi,” katanya.

Lebih jauh, Riko mengingatkan para politisi dan pejabat negara agar belajar dari berbagai gelombang demonstrasi besar di Indonesia maupun di luar negeri. Ia mencontohkan kasus demonstrasi besar di Nepal yang berujung kerusuhan, pembakaran, dan aksi kekerasan terhadap pejabat negara.

“Rakyat sekarang sudah melek, mereka bisa melihat dengan jelas segala bentuk penyalahgunaan wewenang. Jadi tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Kalau kebiasaan itu tidak dihapuskan, bangsa ini akan terus dilanda keresahan,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Riko meminta agar SK Kemenkumham cq Dirjen AHU yang mengesahkan kepengurusan SOKSI versi Misbakhun ditinjau ulang.

“SK itu jelas-jelas mengindikasikan dugaan penyalahgunaan wewenang dan memaksakan kehendak. Demi keadilan, etika, dan kepastian hukum, sudah seharusnya dibatalkan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Polda Metro Jaya Kerahkan 4.547 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa di Sejumlah Titik Strategis Jakarta
Pelayanan SPKT Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Ade Rahmat: Cepat dan Profesional
Aksi Unjuk Rasa di Monas Berlangsung Tertib, Polda Metro Jaya Pastikan Situasi Jakarta Tetap Kondusif
Patroli Humanis Brimob Polda Metro Jaya Jaga Kondusivitas Kabupaten Bekasi
Diduga Beraksi Berkelompok, Komplotan Pencopet di PRJ Kemayoran Diburu Polisi
Polri Bagikan Makanan Ringan kepada Massa Aksi Mahasiswa BEM UBK, Kedepankan Pendekatan Humanis dalam Pengamanan
Demo Mahasiswa di Bundaran HI Tanpa Surat Resmi, Polisi Tetap Kedepankan Pengamanan Humanis
Sambut HUT Jakarta ke-499, Ancol Gratiskan Tiket Masuk untuk Warga Ber-KTP Jakarta Selama Tiga Hari
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:50 WIB

Polda Metro Jaya Kerahkan 4.547 Personel Gabungan Amankan Aksi Unjuk Rasa di Sejumlah Titik Strategis Jakarta

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:49 WIB

Pelayanan SPKT Polda Metro Jaya Tuai Apresiasi, Ade Rahmat: Cepat dan Profesional

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:42 WIB

Aksi Unjuk Rasa di Monas Berlangsung Tertib, Polda Metro Jaya Pastikan Situasi Jakarta Tetap Kondusif

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:13 WIB

Patroli Humanis Brimob Polda Metro Jaya Jaga Kondusivitas Kabupaten Bekasi

Senin, 15 Juni 2026 - 18:35 WIB

Diduga Beraksi Berkelompok, Komplotan Pencopet di PRJ Kemayoran Diburu Polisi

Berita Terbaru

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya mendeportasi tiga warga negara (WN) China berinisial YJ, CN, dan LJ setelah terbukti memanipulasi data untuk memperoleh visa kunjungan bisnis dan pra investasi di Indonesia.

Hukum & Kriminal

Tiga WN China Dideportasi Imigrasi Surabaya karena Manipulasi Data Visa

Sabtu, 20 Jun 2026 - 07:41 WIB