Jakarta — Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau Museum Song Terus di Kabupaten Pacitan, Sabtu (28/3), dan mendorong pengembangan museum tersebut sebagai pusat edukasi dan kebudayaan.
Dalam kunjungannya, Fadli menilai Museum Song Terus memiliki peran strategis dalam menyajikan narasi perjalanan panjang peradaban manusia di Nusantara, khususnya dari kawasan Goa Song Terus yang dikenal sebagai salah satu situs prasejarah penting di Indonesia.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut menyimpan bukti kesinambungan kehidupan manusia sejak ratusan ribu tahun lalu. Temuan arkeologi di lokasi itu diperkirakan mencapai usia hingga 300.000 tahun, termasuk penemuan manusia prasejarah yang dikenal sebagai Mbah Sayem yang berusia sekitar 8.500 tahun.
Di museum ini kita bisa menyaksikan rangkaian perjalanan peradaban manusia di Pacitan, dari masa awal hingga manusia modern,” ujar Fadli.
Menurutnya, penguatan fungsi museum perlu dilakukan melalui pengembangan fasilitas penunjang, seperti auditorium, pemutaran film 3D, hingga ruang pertunjukan seni budaya. Ia menegaskan museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai pusat literasi dan edukasi budaya.
Penelitian di kawasan Song Terus sendiri telah berlangsung sejak masa kolonial dan melibatkan sejumlah peneliti, termasuk Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald serta arkeolog Indonesia R.P. Suyono.
Museum Song Terus dibangun untuk mengangkat hasil penelitian arkeologi di kawasan karst Pacitan yang merupakan bagian dari bentang alam Gunung Sewu. Situs ini menyimpan berbagai temuan penting, mulai dari alat batu, sisa fauna, hingga bukti aktivitas manusia purba yang menunjukkan keberlanjutan hunian dalam jangka panjang.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut antara lain Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Wawan Yogaswara.
Fadli menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan Museum Song Terus sebagai pusat edukasi dan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Ia berharap museum ini dapat menjadi ruang aktif dalam pelestarian sekaligus pemanfaatan warisan budaya bagi masyarakat luas.




































