Sorotan DPRD DKI: Tingginya NRW PAM Jaya Dinilai Gerus Potensi Pendapatan Daerah

- Jurnalis

Rabu, 22 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Rapat Kerja Komisi B DPRD DKI Jakarta. Evaluasi Kinerja PAM Jaya bersama BUMD. (Dok-Instagram/@novapaloh)

Foto: Rapat Kerja Komisi B DPRD DKI Jakarta. Evaluasi Kinerja PAM Jaya bersama BUMD. (Dok-Instagram/@novapaloh)

JAKARTA – Komisi B DPRD DKI Jakarta menyoroti tingginya tingkat kehilangan air atau non-revenue water (NRW) pada PAM Jaya yang dinilai berpotensi menggerus pendapatan perusahaan daerah tersebut secara signifikan. Isu ini mencuat dalam rapat evaluasi kinerja yang digelar bersama jajaran manajemen PAM Jaya, Selasa (21/4/2026).

Ketua Komisi B, Nova Harivan Paloh, mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dipaparkan, terdapat selisih mencolok antara volume air yang diproduksi dan yang berhasil dibukukan sebagai pendapatan. Dari total sekitar 700.000 meter kubik air siap distribusi, sebanyak 320.000 meter kubik atau sekitar 46 persen masuk kategori NRW.

“Kalau angka 320.000 meter kubik itu dikalikan dengan tarif yang berlaku saat ini, potensi pendapatan yang hilang sangat besar, hampir setengahnya. Ini tentu menjadi perhatian serius,” ujar Nova dilansir berbagai sumber, Rabu (22/4).

Dalam rapat tersebut, Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, memberikan penjelasan bahwa NRW tidak sepenuhnya identik dengan kebocoran air akibat kerusakan pipa. Ia menegaskan bahwa definisi NRW mencakup seluruh air yang belum tercatat sebagai pendapatan (unbilled water), termasuk komponen teknis seperti cadangan air dalam sistem distribusi.

“Tidak semua NRW itu kebocoran. Ada air yang memang disiapkan sebagai buffer stock di dalam jaringan pipa dan reservoir untuk menjaga stabilitas layanan kepada pelanggan,” jelasnya.

Arief menambahkan, dengan panjang jaringan pipa di Jakarta yang mencapai sekitar 13.000 kilometer serta kapasitas reservoir yang besar, keberadaan cadangan air menjadi kebutuhan teknis yang tidak dapat dihindari. Air tersebut belum menghasilkan pendapatan, tetapi berperan penting dalam menjaga kontinuitas distribusi.

Meski demikian, Arief tidak menampik bahwa faktor kebocoran fisik tetap menjadi kontributor utama NRW, terutama mengingat sebagian infrastruktur perpipaan yang sudah menua.

Menanggapi penjelasan tersebut, Komisi B DPRD menilai perlu adanya pendalaman lebih lanjut untuk memastikan validitas data dan interpretasi NRW yang disampaikan oleh manajemen PAM Jaya. DPRD bahkan membuka opsi untuk melibatkan konsultan independen.

“Kami perlu menghadirkan pihak independen agar bisa menguji apakah konsep dan data yang disampaikan ini memang sesuai dengan kondisi di lapangan,” kata Nova.

Menurutnya, penjelasan bahwa NRW mencakup cadangan air merupakan perspektif baru yang belum sepenuhnya dipahami oleh legislatif. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih komprehensif, termasuk pemetaan distribusi NRW di berbagai wilayah Jakarta.

“Pertanyaan mendasarnya, air sebanyak itu sebenarnya berada di mana? Ini yang harus kita telusuri secara detail,” tambahnya.

Komisi B juga menekankan pentingnya penetapan target penurunan NRW secara bertahap. Tingginya angka kehilangan air dinilai berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan dan potensi kontribusinya terhadap pendapatan daerah.

“Kami akan terus memantau dan mendorong agar angka NRW bisa ditekan. Ini penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus pendapatan perusahaan,” tegas Nova.

Selain isu NRW, DPRD juga menyoroti capaian aset PAM Jaya yang belum memenuhi target dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). Hingga saat ini, total aset perusahaan tercatat sekitar Rp6 triliun, masih di bawah target Rp8 triliun yang ditetapkan untuk 2025. DPRD masih menunggu hasil audit menyeluruh untuk memastikan kondisi tersebut.

Di tengah sorotan tersebut, Arief menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan survei independen, tingkat kepuasan pelanggan PAM Jaya saat ini telah melampaui 80 persen.

“Bagi masyarakat, yang terpenting adalah air tersedia, kualitasnya baik, dan layanan terus meningkat. NRW menjadi pekerjaan rumah internal kami yang akan terus diperbaiki,” ujarnya.

Perdebatan mengenai NRW antara DPRD dan PAM Jaya mencerminkan tantangan klasik dalam pengelolaan air perkotaan, menjaga keseimbangan antara kebutuhan teknis operasional dan efisiensi finansial. Dengan potensi kehilangan pendapatan yang besar, transparansi data dan evaluasi independen menjadi kunci untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar berbasis kondisi riil di lapangan.

Ke depan, hasil audit serta kemungkinan keterlibatan konsultan independen akan menjadi penentu arah kebijakan pengelolaan air di Jakarta, sekaligus menjawab pertanyaan mendasar, sejauh mana NRW merupakan keniscayaan teknis, dan seberapa besar yang sebenarnya bisa ditekan.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Satu Forum, Beragam Generasi: Warga Tomang Asli Kembali Bersilaturahmi
PB Asosiasi Tambang Nusantara Tunjuk Jainudin Karim sebagai Anggota Kehormatan
PIPAS Bawa Karya Warga Binaan ke Kriyanusa 2026, Bidik Pasar Nasional hingga Mendunia
BARA JP Soroti Finalitas Putusan MK dalam Permohonan PHPU 2026
Polda Metro Jaya Apresiasi Peserta Aksi, Arus Lalu Lintas Jakarta Berangsur Normal
Polri untuk Demokrasi, Polda Metro Jaya Siagakan 26.386 Personel Jaga Jakarta Tetap Kondusif
The Jakmania Apresiasi Polda Metro Jaya, Laga Persija-Persib Berlangsung Aman dan Lancar
Tak Hanya Pengamanan, Polisi Berikan Pelayanan Peserta UNRAS di DPR RI
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 16:39 WIB

Satu Forum, Beragam Generasi: Warga Tomang Asli Kembali Bersilaturahmi

Minggu, 27 September 2026 - 11:11 WIB

PB Asosiasi Tambang Nusantara Tunjuk Jainudin Karim sebagai Anggota Kehormatan

Sabtu, 26 September 2026 - 16:28 WIB

PIPAS Bawa Karya Warga Binaan ke Kriyanusa 2026, Bidik Pasar Nasional hingga Mendunia

Jumat, 25 September 2026 - 13:12 WIB

BARA JP Soroti Finalitas Putusan MK dalam Permohonan PHPU 2026

Kamis, 24 September 2026 - 18:52 WIB

Polda Metro Jaya Apresiasi Peserta Aksi, Arus Lalu Lintas Jakarta Berangsur Normal

Berita Terbaru

Foto: Kebersamaan mewarnai kegiatan Wargi Mibanda Aksi (WMA) #02 yang digelar Ti Wargi Pikeun Wargi (TWPW) di Panti Asuhan Bukit Karmel, Megamendung, Kabupaten Bogor.

Pendidikan

Satu Pohon, Puluhan Harapan: Cerita Hangat dari WMA #02

Senin, 28 Sep 2026 - 09:22 WIB