CEBU — Negara-negara ASEAN mewaspadai risiko perlambatan ekonomi kawasan akibat dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu gangguan rantai pasok energi serta lonjakan harga komoditas dan pangan.
Isu tersebut menjadi fokus dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) yang digelar di Dusit Thani Mactan Cebu, Filipina, Jumat (8/5).
Filipina selaku Ketua ASEAN 2026 menyoroti dampak perang di Selat Hormuz terhadap stabilitas ekonomi kawasan, terutama terkait pasokan energi dan produk berbahan dasar minyak mentah.
Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Maria Cristina Aldeguer-Roque selaku pimpinan rapat meminta pandangan para Menteri Ekonomi ASEAN untuk merespons potensi gangguan ekonomi akibat konflik global tersebut.
Dalam forum itu, lembaga riset Jepang Economic Research Institute for ASEAN and East Asia memaparkan usulan penguatan ketahanan ekonomi regional melalui koordinasi kebijakan industri di kawasan ASEAN.
Sementara itu, Kepala Ekonomi ASEAN+3 Macroeconomic Research Office, Dong He menyebut kebijakan domestik Amerika Serikat dan konflik geopolitik telah memicu disrupsi suplai energi serta pestisida ke kawasan ASEAN.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga energi dan transportasi hingga memicu tekanan inflasi tertinggi sejak pandemi Covid-19.
AMRO juga memperingatkan ASEAN menghadapi risiko stagflasi atau perlambatan ekonomi disertai lonjakan harga yang dinilai menjadi tekanan terkuat sejak 2011.
Asian Development Bank atau Asian Development Bank turut mengusulkan penguatan ketahanan energi dan pangan melalui kerja sama konkret antara badan-badan ASEAN dan sektor swasta.
ADB juga menyatakan kesiapan memberikan dukungan pembiayaan untuk menjaga stabilitas pasar saham ASEAN dari tekanan gejolak global.
Di sisi lain, Sekretariat ASEAN mengusulkan skema ASEAN CORE (Coordinated Response for Enduring Resilience) sebagai langkah respons cepat memperkuat ketahanan kawasan.
Skema tersebut mencakup penguatan institusi, integrasi ekonomi dan keuangan, ketahanan energi dan pangan, serta penguatan rantai pasok maritim.
Mewakili Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai ASEAN perlu memperkuat ketahanan regional untuk menghadapi dampak perang dan konflik global.
Untuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antar anggota ASEAN dengan mitra strategis,” ujar Airlangga.
Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan energi kawasan, serta percepatan implementasi kerja sama regional seperti ASEAN Power Grid dan ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security.
Selain itu, Airlangga mendorong penguatan perdagangan intra-ASEAN dan optimalisasi berbagai perjanjian perdagangan bebas guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan di tengah ketidakpastian global.




































