TANGERANG – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mendorong industri konstruksi nasional terus meningkatkan daya saing melalui inovasi, penggunaan produk dalam negeri, serta pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan AHY saat membuka IndoBuildTech Expo 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2026).
Menurut AHY, sektor konstruksi merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional karena secara konsisten masuk dalam lima besar penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sekaligus menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Ketika sektor konstruksi tumbuh sehat, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja dan bergeraknya roda perekonomian,” ujar AHY.
Ia menegaskan pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing nasional, serta mendorong pemerataan pembangunan hingga ke berbagai daerah.
AHY mengatakan pertumbuhan industri konstruksi akan menjadi penopang berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari pembangunan tiga juta rumah, jalan, jembatan, jaringan irigasi, hingga Sekolah Rakyat. Karena itu, ekosistem konstruksi nasional dinilai harus semakin kuat, kompetitif, dan mampu menghasilkan infrastruktur berkualitas.
“Kita tidak hanya ingin membangun lebih banyak, tetapi juga membangun lebih baik, lebih berkualitas, lebih berdampak, dan untuk semua,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, AHY juga mengapresiasi meningkatnya kualitas produk konstruksi dalam negeri. Saat meninjau area pameran, ia menilai semakin banyak produk karya anak bangsa yang memiliki standar internasional dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang terus meningkat.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa industri nasional semakin siap bersaing di pasar global sekaligus mendukung kemandirian sektor konstruksi Indonesia.
Pemerintah, lanjut AHY, akan terus menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui regulasi yang memberikan kepastian hukum, kemudahan investasi, serta berbagai insentif bagi pelaku industri.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur ke depan harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim. Penggunaan material yang lebih kuat, tahan terhadap bencana, dan memiliki daya tahan tinggi menjadi salah satu syarat penting agar infrastruktur memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Ke depan kita harus semakin adaptif menghadapi krisis iklim. Infrastruktur yang dibangun harus semakin tangguh dan resilient terhadap berbagai potensi bencana,” ujarnya.
AHY menilai IndoBuildTech Expo 2026 bukan sekadar pameran industri, melainkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, arsitek, akademisi, hingga investor dalam mempercepat inovasi sektor konstruksi nasional.
Pameran yang diikuti sekitar 500 tenant tersebut didominasi oleh peserta dari industri dalam negeri, sementara sisanya berasal dari sejumlah negara seperti Tiongkok, Singapura, Vietnam, Kanada, dan beberapa negara lainnya. Kehadiran peserta internasional diharapkan memperkuat transfer teknologi, memperluas jejaring bisnis, serta meningkatkan daya saing industri konstruksi Indonesia di tingkat global.
Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Banten, Shri Chandra Satryotomo, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun ekosistem konstruksi yang inovatif dan berkelanjutan.
Menurutnya, sinergi antara arsitek, industri material bangunan, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah akan menghasilkan pembangunan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga menghadirkan ruang hidup yang lebih baik bagi masyarakat.




































