Jakarta, okjakarta.com – Setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Tua Jakarta, khususnya di sekitar Musium Fatahillah, pasti pernah melihat seliweran sepeda-sepeda onthel (sepeda tua) yang sudah dicat warna-warni oleh pemiliknya. Ada yang berwarna merah muda (pink), ungu, biru, putih, kuning atau oren.
Pengunjung yang menyewa biasanya memakai pula topi laken dari kulit imitasi untuk lelaki, dan topi anyaman berhias kembang berwarna putih, hingga mirip Noni Belanda. Topi-topi itu memang diberikan oleh para pemilik sepeda onthel, sebagai aksesoris pelengkap, sehingga penyewa akan merasakan sensasi tersendiri bila menaiki sepeda, atau sekedar untuk foto selfie.
Sepeda onthel merupakan alat transportasi yang cukup diminati wisatawan yang datang ke Kota Tua. Wisatawan bisa naik sepeda keliling Kota Tua selama 30 menit, dengan biaya sewa Rp.25 ribu. Di sekitar Musium Fatahillah terdapat 36 pemilik onthel sewaan. Jika setiap pemilik rata-rata memiliki 3 buah sepeda onthel, ada 100 lebih sepeda onthel di kawasan Musium Fatahillah.
Namun tidak semua pengunjung menyewa sepeda untuk menaikkannya. Ada yang menyewa sekedar untuk berfoto dengan sepeda, ada yang menyewa untuk pemotretan pre wedding.
“Sewanya tetap sama. Tapi kadang ada penyewa untuk pre wedding yang memberi bayaran lebih. Kadang ada yang ngasih limapuluh ribu atau lebih,” kata Sanim (64 tahun), pemilik 4 buah sepeda onthel sewaan di kawasan Musium Fatahillah.
Lelaki asal Mandiracan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat itu menuturkan, sejak tahun 2014 menjual jasa penyewaan sepeda onthel di Kota Tua. Sebelumnya ia menjadi sopir truk angkut barang di Pelabuhan Tanjung Priok. Tetapi karena usianya semakin lanjut, ia tak kuat lagi menjadi sopir, lalu beralih menyewakan sepeda onthel di Kota Tua.
Mulanya ia menyewa sepeda milik pengojek sepeda yang banyak beroperasi di Kota Tua. Belakangan ia mulai membeli sepeda sendiri. Karena banyak pengojek yang menjual sepedanya, sejak ojek online menjamur. Pengojek sepeda jelas kalah bersaing dengan ojek online. Penumpang lebih suka dengan ojek online yang lebih mudah dipesan dan lebih cepat sampai tujuan.
“Dulu belinya enam ratus ribu per sepeda. Masih murah. Sekarang sudah dua jutaan lebih,” tutur Sanim.
Sepeda onthel yang digunakan umumnya sepeda-sepeda perempuan buatan tahun 60-an, supaya bisa digunakan pula oleh wisatawan perempuan. Mulanya semua sepeda masih berwarna hitam. Tetapi atas usulan wisatawan, sepeda-sepeda itu lalu dicat warna-warni, dan ditambah aksesoris topi lebar. Terlihat indah.
“Beli topinya di Tanah Abang. Tiga puluh ribu per buah. Lebih murah lima ribu dibandingkan harga di Pasar Pagi,” kata Sanim.
Untuk menjadi penyewa sepeda di Kota Tua, Sanim mengaku lebih dulu mendapat penataran dari Destination Managemen Operation (DMO) Kementerian Pariwisata. Di bawah DMO itu masih ada lagi Local Wakling Group (LWG) yang mewadahi para pemilik sepeda.
Tahun 2014, tutur Sanim, ada perintah dari Presiden Jokowi agar tiap daerah memperkenalkan potensi wisatawan masing-masing. Tahun 2017 mereka diundang ke Kementerian Pariwisata, untuk diajarkan tata kelola pariwisata, dan cara menawarkan paket-paket wisata. Sejak itu Sanim dan kawan-kawan semakin mantap mencari rejeki dengan menyewakan sepeda di area Musium Fatahillah.
Sanim sendiri tinggal di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Ngontrak sebuah kamar untuk merebahkan badan. Isteri dan kedua anaknya tinggal di kampung. Jika ada uang lebih ia mengirimkan uang untuk keluarganya.
Tiap hari Sanim data ke Kota Tua, dan memajang 4 buah sepedanya di sekitar Musium Fatahillah, sejak pukul 09.00 hingga pukul 18.00.WIB. Jika ia pulang ke kontrakannya, sepeda dititipkan di sebuah gudang di kawasan Kota Tua, dengan membayar sewa Rp.7 ribu per sepeda per minggu.
Agar tidak menimbulkan kecemburuan dan sama-sama merasakan pahit-getirnya menjadi pemilik sepeda onthel untuk wisatawan, pemilik sepeda tidak menempati lapak yang sama. Setiap hari dirolling.
Kendati demikian, tutur Sanim, usaha penyewaan sepeda di Kota Tua tidak memberikan hasil yang berlebihan. “Hanya cukup untuk makan. Kalau lebihnya tidak adalah,” katanya.
Ketika ditemui Senin (22/7/2026) sore, Sanim mengaku baru dapat yang Rp.40 ribu, setelah menyewakan 2 buah sepeda. Seharusnya Rp.50 ribu, karena yang nyewa pelajar, cuma punya duit Rp.40 ribu, dia merelakannya.
Kelihatannya usaha yang dilakukan Sanim dan seluruh pemilik sepeda onthel sewaan di Kota Tua Enak. Dia tinggal duduk menunggu penyewa yang datang. Tiap minggu puluhan ribu orang datang ke Kota Tua, baik wisman maupun wisnus. Tapi tidak banyak yang datang untuk menyewa sepeda.
Sebagai kepala keluarga yang harus bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anak dan isterinya, Sanim harus menyisihkan penghasilannya untuk dikirim ke kampung. Apalagi kedua anaknya masih sekolah. Yang tertua masuk SMA dan yang kedua masuk SMP. Isteri Sanim yang menjadi buruh tani serabutan di kampungnya, memang telat melahirkan.
Kendati demikian Sanim tak mau menyerah. Di sisa usianya yang semakin senja, ia terus berusaha. Kemarin, dengan ramah ia menyapa setiap wisatawan yang lewat di depan lapak sewaan sepedanya. Tapi sepemantauan penulis, sampai matahari tenggelam, tidak ada lagi wisatawan yang menyewa sepedanya. (herman wijaya)




































