Jakarta, okjakarta.com – Sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” merupakan sebuah sinetron dengan setting kehidupan masyarakat Betawi yang fenomenal.
Sinetron itu mencoba menampilkan sosok anak muda Betawi yang melenceng dari stereotypenya: malas dan kurang pendidikan. Tokoh Si Doel yang diperankan oleh Rano Karno, tidak seperti pemuda Betawi kebanyakan. Si Doel adalah anak terpelajar. Dia kuliah, dan babenya (diperankan oleh Benyamin S.) mengingkan Si Doel jadi “tukang insiyur”.
Dibesut dalam sebuah drama komedi yang segar dan memiliki pesan kuat, Si Doel memilili daya tarik tersendiri dari para tokoh di dalamnya.
Bukan hanya Si Doel. Di dalam rangkaian ceritanya juga ada tokoh-tokoh Betawi yang diperankan oleh beberapa seniman Betawi, di antaranya Mandra, Pak Tile, Bodong, dan pelawak Basuki.
“Seorang hari Cahyono yang bisa menemukan Karyo menemukan Atun, menemukan Pabendot, menemukan menemukan Rodiah, menemukan Pak Tile dan lain-lain. Hari Tjahjono juga yang menciptakan kampung di Si Doel,” ungkap Wagub DKI Jakarta, Rano Karno dalam diskusi terkait peluncuran buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, di Ruang Sastra HB Jassin, TIM Jakarta, Jum’at (11/9/2026) siang.
Diskusi juga menampilkan dua pembicara lain, yakni Penulis Fanny Jonathan Poyk, dan Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, dengan Moderator Kurniawan Junaedhie.
Dalam sambutannya Rano Karno yang menjadi pemeran utama, sutradara dan produser “Si Doel Anak Sekolahan” menambahkan, Harry Tjahjono menulis
skenario Si Doel hingga 78 episode sebelum memutuskan berhenti, karena merasa lelah.
Rano Karno memaparkan, ayahnyalah, aktor Soekarno M Noor, yang pertama mengenal Harry Tjahjono. Ketika itu ayahnya meminta Rano untuk membaca novel berjudul “Selamat Tinggal Duka”. Padahal ayahnya bukan seorang pembaca novel. Novel itu kemudian difilmkan, dan skenarionya ditulis oleh Sjumandjaya.
Rano sendiri ketika itu menganggap Harry Tjahjono sebagai penulis biasa yang tidak istimewa, sampai ia membaca sendiri novelnya.
“Begitu saya baca, saya bilang mau ketemu orang ini. Jadi Harry Tjahjono lebih dulu kenal sama bapak saya daripada saya. Begitu saya kenal dengan beliau, ada chemistry. Dia masih tinggal di Cepete di rumah petak kampung. Ingat sekali saya. Ruang tamunya kecil, duduk mungkin minggir ke tembok. Tapi isinya buku semua. Ternyata dia wartawan juga,” tutur Rano.
Dengan Rano Karno, Harry Tjahjono bukan saja menulis skenario, tapi juga menciptakan lagu hingga mencapai 30 judul.
“Saya dulu dengan Bang Rano sangat produktif dan sangat kreatif. Mungkin selain menulis skenario, juga menulis novel, puisi, novelet, saya juga dengan Bang Rano menulis 30 lagu ya. 30 lagu yang insya Allah nanti bulan Januari akan diremix. Waktu menulis Si Doel dulu pikiran saya dengan Bang Rano, kalau kita tidak menulis tentang Betawi Maka Betawi akan menjadi tamu di rumahnya sendiri,” kata Harry Tjahjono. (hw)



































