PARIS — Pemerintah Indonesia dan Finlandia sepakat memperluas kerja sama strategis di berbagai sektor, mulai dari transformasi digital, hilirisasi industri mineral, hingga penguatan program makanan bergizi nasional.
Kesepakatan itu mengemuka dalam pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia Ville Tavio di sela OECD Ministerial Council Meeting 2026 di Paris, Prancis.
Airlangga mengatakan kedua negara berkomitmen mengoptimalkan potensi ekonomi dan teknologi yang dimiliki masing-masing untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Saat ini sekitar 30 perusahaan Finlandia telah menanamkan investasi di Indonesia, sementara lebih dari 200 perusahaan Finlandia terlibat dalam berbagai proyek strategis nasional.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan jaringan telekomunikasi generasi terbaru 5G dan 6G, komputasi kuantum, ekosistem semikonduktor, hingga pembangunan kota cerdas atau smart city.
Di sektor industri digital, perusahaan telekomunikasi Finlandia Nokia bersama mitranya NVIDIA saat ini terlibat dalam pembangunan pusat data di Indonesia. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan agenda transformasi digital dan penguatan infrastruktur teknologi nasional.
Selain itu, kolaborasi kedua negara juga mendukung program hilirisasi mineral yang menjadi salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Teknologi dari perusahaan Finlandia Metso telah digunakan dalam pembangunan fasilitas peleburan atau smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, yang memproduksi katoda tembaga berkualitas tinggi.
Indonesia berkomitmen penuh untuk memajukan manufaktur berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT). Namun, dalam membangun infrastruktur telekomunikasi, kita membutuhkan mitra penyedia teknologi yang tepercaya demi menjaga kedaulatan serta keamanan nasional,” kata Airlangga.
Ia juga berharap pasar Finlandia dan Uni Eropa semakin terbuka bagi produk katoda tembaga Indonesia yang dibutuhkan industri elektronika global.
Selain kerja sama teknologi dan industri, kedua negara turut membahas penguatan program makanan bergizi bagi anak sekolah. Finlandia dikenal sebagai salah satu negara yang telah menerapkan program makan siang gratis di sekolah sejak 1940-an.
Delegasi Indonesia sebelumnya telah melakukan kunjungan ke Finlandia untuk mempelajari sistem central kitchen atau dapur pusat yang dinilai mampu mendukung distribusi makanan secara efisien dalam skala besar.
Model tersebut kini menjadi salah satu referensi dalam pelaksanaan program makan bergizi nasional yang ditargetkan menjangkau hingga 80 juta penerima manfaat.
Pemerintah Finlandia menyatakan siap mendukung program tersebut, termasuk dengan memperkenalkan produsen peralatan dapur modern yang dapat membantu mengatasi tantangan distribusi makanan di wilayah terpencil dan kepulauan Indonesia.
Kedua negara juga sepakat menindaklanjuti sejumlah isu perdagangan, termasuk harmonisasi regulasi terkait tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.
Sebagai langkah lanjutan, pertemuan tingkat menteri antara Indonesia dan Finlandia dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 12 Oktober 2026 untuk mematangkan berbagai kerangka kerja sama yang telah disepakati.
Dalam kesempatan tersebut, Ville Tavio kembali menegaskan dukungan Finlandia terhadap proses aksesi Indonesia menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Finlandia juga menyatakan dukungan terhadap percepatan ratifikasi perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Turut mendampingi Airlangga dalam rangkaian kunjungan kerja di Paris dan Brussels antara lain Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional dan Investasi Edi Prio Pambudi.




































