JAKARTA – Dalam rangka memperingati World Sleep Day yang jatuh pada 13 Maret 2026 serta Hari Tuberkulosis Sedunia pada 24 Maret 2026, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengeluarkan dua pernyataan resmi yang menyoroti persoalan kesehatan tidur dan tuberkulosis (TB) sebagai tantangan besar kesehatan masyarakat di Indonesia dalam Zoom Meeting bersama awak media, pada Selasa (3/2/2026).
Melalui dua momentum global tersebut, PDPI menekankan bahwa gangguan tidur dan TB bukan semata persoalan klinis, melainkan juga berdampak sosial dan ekonomi yang luas, sehingga membutuhkan pendekatan komprehensif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
World Sleep Day 2026: Waspadai Obstructive Sleep Apnea yang Kerap Terabaikan
Mengusung tema “Sleep Well, Live Better”, PDPI mengingatkan pentingnya tidur berkualitas sebagai fondasi kesehatan jangka panjang. Gangguan tidur, menurut organisasi ini, memengaruhi kualitas, durasi, dan pola tidur seseorang, serta berdampak pada produktivitas dan keselamatan.
Secara umum, gangguan tidur terbagi dalam beberapa kelompok, antara lain insomnia, gangguan napas saat tidur, hipersomnia, parasomnia, restless leg syndrome, serta gangguan ritme sirkadian.
Salah satu yang paling sering terjadi namun kurang disadari adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA). Kondisi ini terjadi akibat sumbatan berulang pada saluran napas bagian atas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat (apnea) atau napas dangkal (hipopnea), bahkan bisa terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam.
Gejala dan Faktor Risiko
Gejala utama OSA meliputi:
• Mendengkur keras
• Henti napas saat tidur
• Terbangun dengan rasa tercekik
• Kantuk berlebihan di siang hari
• Sakit kepala pagi hari
• Penurunan konsentrasi
• Mudah marah atau perubahan suasana hati
Faktor risiko utama mencakup laki-laki, obesitas, lingkar leher besar, usia lanjut, perempuan pascamenopause, serta kelainan anatomi saluran napas.
Dampak Serius terhadap Kesehatan
PDPI menegaskan, OSA berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, obesitas, gangguan mental, hingga impotensi. Selain itu, kantuk berlebihan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas akibat microsleep.
Secara global, gangguan tidur diperkirakan dialami 30–45 persen populasi dewasa. Untuk OSA, data internasional menunjukkan sekitar satu miliar orang di dunia mengalami OSA derajat ringan hingga berat. Namun, sekitar 80 persen kasus belum terdiagnosis.
Di Indonesia, data nasional masih terbatas. Meski demikian, berbagai studi lokal menunjukkan prevalensi OSA cukup tinggi pada kelompok obesitas, penderita hipertensi resisten, diabetes tipe 2, serta pekerja dengan tuntutan konsentrasi tinggi seperti pengemudi.
Tantangan dan Strategi Nasional
Beberapa tantangan utama di Indonesia antara lain rendahnya kesadaran masyarakat bahwa mendengkur dapat berbahaya, keterbatasan fasilitas diagnostik seperti polisomnografi, biaya terapi yang belum sepenuhnya terjangkau, serta minimnya skrining rutin di layanan primer.
Sebagai langkah strategis, PDPI menyatakan akan:
• Mengintensifkan edukasi publik tentang pentingnya tidur sehat
• Melatih tenaga kesehatan dalam deteksi dini OSA
• Mengembangkan jejaring layanan sleep medicine
• Mengadvokasi skrining OSA dalam tata laksana penyakit kronik
• Memperkuat kolaborasi multidisiplin dengan spesialis jantung, neurologi, THT, penyakit dalam, psikiatri, pediatri, dan kedokteran gigi
PDPI menegaskan bahwa tidur berkualitas merupakan investasi kesehatan bangsa.
Hari Tuberkulosis Sedunia 2026: Indonesia Masih Peringkat Kedua Dunia
Pada momentum World TB Day 2026 bertema “Yes! We Can End TB: Lead by Countries, Powered by People!”, PDPI menyoroti beban TB nasional yang masih sangat tinggi.
Berdasarkan laporan global terbaru dari World Health Organization (WHO), diperkirakan terdapat 10,7 juta kasus TB di dunia dengan lebih dari 1,2 juta kematian setiap tahun. Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1,1 juta kasus baru per tahun.
Data nasional 2025 menunjukkan lebih dari 600.000 kasus telah terdeteksi dan tercatat dalam sistem nasional. Namun angka ini masih belum mencapai estimasi target penemuan kasus tahunan, menandakan masih adanya kesenjangan deteksi.
TB: Beban Sosial dan Ekonomi
TB paling banyak menyerang usia produktif, sehingga berdampak langsung pada stabilitas ekonomi keluarga dan produktivitas nasional. Meski pengobatan ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional, pasien masih menghadapi biaya tidak langsung seperti transportasi, nutrisi, serta kehilangan pendapatan.
PDPI menilai pendekatan biomedis saja tidak cukup. Dukungan sosial-ekonomi, penguatan gizi, dan pengurangan stigma menjadi komponen penting dalam eliminasi TB.
Ancaman TB Resisten Obat
TB Resisten Obat (TB-RO) menjadi tantangan serius. Pengobatan yang tidak tuntas dan keterlambatan diagnosis resistensi memperbesar risiko krisis kesehatan baru. TB-RO membutuhkan terapi lebih lama, lebih kompleks, dan lebih mahal.
PDPI menekankan pentingnya penguatan deteksi molekuler, integrasi pembiayaan TB-RO dalam sistem kesehatan nasional, serta keberlanjutan dukungan pemerintah.
Strategi Prioritas 2026
Mengacu pada enam pesan kunci WHO, PDPI mendukung langkah strategis berikut:
• Skrining aktif pada populasi berisiko tinggi (kontak serumah, ODHIV, pasien diabetes, lansia, anak-anak, penghuni lingkungan padat, pesantren, barak militer)
• Penguatan Tes Cepat Molekuler sebagai standar pemeriksaan awal
• Investigasi kontak dan perluasan Terapi Pencegahan TB (TPT)
• Pemantauan ketat untuk mencegah putus obat
• Penguatan sistem pencatatan dan pelaporan nasional
Pesan untuk Masyarakat
PDPI mengingatkan bahwa TB dapat disembuhkan. Masyarakat diminta segera memeriksakan diri jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, keringat malam, atau kelelahan.
“TB bukan aib dan bukan kutukan. TB adalah penyakit medis yang dapat disembuhkan bila ditangani dengan benar,” tegas PDPI.
Komitmen PDPI
Sebagai organisasi profesi dokter spesialis paru, PDPI berkomitmen untuk:
• Mendukung kebijakan nasional berbasis bukti ilmiah
• Mengembangkan penelitian gangguan tidur dan TB
• Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan
• Mengedukasi masyarakat secara berkelanjutan
• Berperan aktif dalam percepatan eliminasi TB 2030
Melalui dua momentum kesehatan global ini, PDPI menyerukan gerakan kolektif nasional.
“Indonesia mampu meningkatkan kualitas kesehatan tidur masyarakat dan mengakhiri TB, bila kita bergerak bersama dengan komitmen dan aksi nyata,” demikian pernyataan resmi Pengurus Pusat PDPI yang diwakili oleh, Dr. dr. Irawati Djaharuddin, Sp.P(K), Prof. Dr. dr. Allen Widsyanto, Sp.P, dan dr. I Desak Putu Agung Krisdanti, Sp.P(K) dalam zoom meeting bersama awak media di Jakarta.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin



































