JAKARTA – Sejarah baru tercipta bagi dunia balap Indonesia. Pebalap muda Tanah Air, Veda Ega Pratama, sukses menorehkan prestasi monumental dengan finis di posisi ketiga pada ajang Moto3 Grand Prix Goiania, Brasil 2026.
Dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (24/3/2026), hasil ini sekaligus menjadikannya pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium di level Grand Prix, sebuah pencapaian yang selama ini hanya menjadi mimpi dalam sejarah motorsport nasional.
Balapan yang berlangsung dramatis tersebut diwarnai insiden hingga pengibaran bendera merah (red flag), memaksa jalannya lomba dihentikan sementara dan dilanjutkan dengan sprint singkat. Namun di tengah situasi penuh tekanan itulah, Veda menunjukkan mentalitas dan determinasi luar biasa.
Start Kuat, Sempat Terlempar dari Persaingan Depan
Mengawali lomba dari posisi keempat, Veda langsung tampil agresif sejak lampu start dipadamkan. Ia berhasil merangsek ke posisi tiga di tikungan pertama, menempel ketat barisan depan yang dihuni Joel Esteban, Valentin Perrone, dan Hakim Danish.
Namun ketatnya persaingan di kelas Moto3 membuat posisi Veda tak stabil. Memasuki lap-lap awal, ia sempat turun ke posisi empat, lalu terlempar hingga posisi kesembilan pada lap keenam. Dominasi motor KTM di barisan depan serta manuver agresif para rival seperti David Almansa membuat Veda harus berjuang keras di tengah rombongan besar.
Insiden dan Red Flag Ubah Jalannya Lomba
Memasuki pertengahan lomba, duel sengit terjadi di garis depan antara Maximo Quiles dan para pesaingnya. Namun situasi berubah drastis setelah insiden yang melibatkan Almansa memicu penghentian balapan di penghujung lap ke-14.
Race direction memutuskan mengibarkan red flag, dan sesuai regulasi, lomba dilanjutkan dengan restart sejauh lima lap. Dalam posisi ini, Quiles memimpin start ulang, sementara Veda harus memulai dari posisi ke-10—tantangan berat dalam waktu yang sangat singkat.
Comeback Spektakuler di Sprint 5 Lap
Pada sesi restart inilah Veda menunjukkan kualitasnya sebagai rising star. Menggunakan ban soft, ia langsung melesat ke posisi enam hanya dalam beberapa tikungan awal.
Perlahan namun pasti, Veda mulai menyalip satu per satu rivalnya. Pada lap ketiga, ia bertahan di posisi enam sebelum kembali naik. Lap keempat menjadi momentum penting saat ia berhasil melewati pesaing dan naik ke posisi empat, membuka peluang podium.
Puncaknya terjadi di lap terakhir. Dengan perhitungan matang dan keberanian tinggi, Veda melakukan manuver krusial yang membawanya finis di posisi ketiga. Sebuah comeback impresif yang langsung mencuri perhatian dunia.
Sementara itu, Maximo Quiles keluar sebagai pemenang balapan.
Podium Bersejarah dan Awal Musim Menjanjikan
Hasil ini tidak hanya penting bagi Veda secara pribadi, tetapi juga menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia di ajang Grand Prix. Untuk pertama kalinya, Merah Putih berkibar di podium balap dunia kelas Moto3.
Di klasemen sementara musim 2026, Quiles memimpin dengan 45 poin, sementara Veda langsung menempati posisi kedua dengan 27 poin, sebuah capaian luar biasa bagi seorang rookie.
Keluarga Tak Menyangka, Mimpi Jadi Kunci
Di balik keberhasilan ini, terdapat kisah sederhana namun penuh makna. Ayah Veda, Sudarmono, mengaku tak menyangka anaknya mampu meraih podium secepat ini.
Dalam keterangannya kepada Kompas TV, Sudarmono mengungkapkan bahwa target awal hanya sekadar meraih poin.
“Awalnya kami realistis, berharap bisa dapat poin saja. Veda masih rookie, jam terbangnya juga belum banyak. Tapi ternyata bisa podium, ini di luar dugaan,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa Veda sendiri sempat terkejut dengan hasil tersebut saat berkomunikasi usai balapan.
Namun di balik itu semua, Sudarmono menegaskan bahwa keberhasilan ini berakar dari mimpi besar yang ditanamkan sejak kecil.
“Kuncinya itu mimpi. Dari kecil dia ingin balapan di Grand Prix, bahkan ingin lebih dari Moto3. Dia juga disiplin sekali dalam latihan, baik fisik maupun mental,” katanya.
Fokus Konsistensi ke Depan
Meski telah mencatat sejarah, keluarga tetap menekankan pentingnya konsistensi. Sudarmono berharap Veda tidak cepat puas dan terus mengasah kemampuan di setiap seri.
Dengan awal musim yang menjanjikan, peluang Veda untuk terus bersaing di papan atas terbuka lebar. Jika mampu menjaga performa, bukan tidak mungkin Indonesia akan kembali menyaksikan lebih banyak momen bersejarah di lintasan balap dunia.
Keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia kini mulai diperhitungkan di kancah balap internasional dan nama Veda Ega Pratama berada di garis depan perubahan tersebut.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































