JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk fenomena pamer kekayaan atau flexing yang kian banal di media sosial, rumah produksi Rollink Action siap menggebrak layar lebar dengan sebuah premis yang menggelitik nurani. Melalui film horor misteri terbaru bertajuk “Aku Harus Mati”, sutradara Hestu Saputra mencoba membedah sisi gelap ambisi manusia modern yang terjebak di antara validasi semu dan jeratan utang.
Dalam acara konferensi pers yang digelar di Jakarta (26/03), film ini diperkenalkan bukan sekadar sebagai tontonan yang menjual jumpscare, melainkan sebuah kritik sosial yang dibalut dalam narasi klenik dan mistis.
Kejatuhan Akibat Haus Validasi
Film ini berpusat pada karakter Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terpesona oleh gemerlap kehidupan kota besar. Demi menjaga citra sukses, Mala terperosok ke dalam lubang utang yang membuatnya diburu oleh debt collector. Dalam pelariannya kembali ke panti asuhan masa kecilnya, ia justru menemukan bahwa ada rahasia jauh lebih gelap yang menantinya—sebuah perjanjian iblis yang menuntut pengorbanan nyawa.
Irsan Yapto, selaku Executive Producer, menekankan bahwa film ini adalah cermin bagi masyarakat saat ini.
”Banyak orang mencari cara instan untuk terlihat berhasil. Kami ingin mengajak penonton berpikir: apakah kesuksesan yang kita lihat di layar ponsel itu hasil kerja keras, atau justru hasil ‘pesugihan’ dalam bentuk lain?” ujarnya.
Sentuhan Magis Hestu Saputra
Sutradara Hestu Saputra, yang dikenal lewat ketelitian visualnya, berkolaborasi dengan penulis Aroe Ama untuk menciptakan atmosfer horor yang terasa “dekat” dan relevan.
Keindahan dunia sering kali menipu,” kata Hestu. Menurutnya, integritas sering kali menjadi harga yang harus dibayar mahal saat seseorang kehilangan arah akibat ambisi. Melalui perjalanan Mala bersama sahabat-sahabatnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), penonton akan dibawa menelusuri jati diri yang hilang di tengah teror masa lalu.




































