BALI — Indonesia kembali menegaskan posisinya dalam forum internasional melalui penyelenggaraan The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 di Bali yang dihadiri delegasi dari 44 negara. Forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi global dalam membangun sistem pemasyarakatan yang lebih adaptif, humanis, dan berorientasi pada pemulihan.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menekankan bahwa tema kongres mencerminkan perubahan paradigma dalam sistem pemidanaan. Menurutnya, pendekatan tidak lagi bertumpu pada pemenjaraan semata, melainkan mulai beralih pada sistem berbasis data serta pemulihan sosial.
Ia menyebut konsep restorative justice sebagai kunci dalam menciptakan sistem hukum yang tidak hanya memberi efek jera, tetapi juga memulihkan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan keamanan sosial melalui penguatan fungsi pembimbingan dan pengawasan oleh Balai Pemasyarakatan.
WCPP 2026 juga menjadi ruang diskusi bagi para pemangku kepentingan global untuk bertukar pengalaman serta merumuskan model pembinaan yang lebih efektif.
Selain itu, forum ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi sebagai acuan praktik terbaik, khususnya dalam pengembangan pidana alternatif dan pembebasan bersyarat.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, hadir sebagai pembicara kunci.
Ia menegaskan bahwa tidak ada satu model sistem pemasyarakatan yang dapat diterapkan secara universal di seluruh negara.
Menurut Yusril, forum seperti WCPP penting sebagai ruang dialog lintas negara untuk saling belajar dan memperkaya kebijakan nasional. Ia juga menekankan perlunya keseimbangan antara penegakan hukum, perlindungan korban, keselamatan publik, serta peluang reintegrasi bagi pelaku dalam sistem keadilan modern.
Di sisi lain, penyelenggaraan WCPP 2026 turut menampilkan hasil karya warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian. Produk-produk tersebut mendapat perhatian dari delegasi internasional dan diharapkan dapat membuka peluang promosi ke pasar global.
Melalui forum ini, Indonesia tidak hanya berperan sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas global yang aktif mendorong transformasi sistem pemasyarakatan menuju pendekatan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan.



































