JAKARTA – TAJUK REPORTASE – COM — Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mendorong langkah mitigasi permanen pascabanjir yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Penguatan tanggul sungai hingga penataan daerah aliran sungai dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah banjir kembali terjadi saat curah hujan tinggi.
Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (22/7) mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Tukka. Meski genangan air mulai surut dan penanganan darurat berlangsung cepat, Satgas PRR menilai upaya rehabilitasi harus diikuti langkah mitigasi yang lebih menyeluruh.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, banjir dipicu hujan deras yang berlangsung lebih dari satu setengah jam. Tingginya curah hujan menyebabkan debit sungai meningkat hingga meluap ke kawasan permukiman warga. Luapan air juga membawa sedimen yang menumpuk di sejumlah titik, termasuk di sekitar jembatan yang menjadi akses utama masyarakat.
Koordinator Wilayah Sumatera Utara Satgas PRR, Brigjen TNI Fadjar Tjahjono, mengatakan penanganan darurat telah dilakukan melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, BPBD, TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait. Sedimen yang menutup akses jembatan langsung dibersihkan menggunakan alat berat agar mobilitas warga dapat kembali normal.
“Langkah mitigasi yang harus kita lakukan adalah memperkuat tanggul di sepanjang aliran sungai. Sedimen yang diangkat tidak cukup hanya ditumpuk kembali, tetapi tanggul perlu diperkuat dengan batu atau bronjong sehingga saat debit air meningkat, lumpur tidak kembali masuk ke permukiman,” kata Fadjar.
Menurut dia, Satgas PRR kini tengah mengonsolidasikan langkah-langkah mitigasi bersama pemerintah daerah sebagai tindak lanjut penanganan darurat. Penguatan tanggul, penataan daerah aliran sungai, hingga perlindungan titik-titik rawan luapan menjadi prioritas agar penanganan banjir tidak berhenti pada tahap pembersihan, melainkan berlanjut menjadi solusi permanen.
Fadjar menambahkan pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan segera mengoptimalkan pelaksanaan program mitigasi sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan guna menekan risiko banjir di masa mendatang.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, serta masyarakat bergerak cepat melakukan evakuasi warga terdampak di Kecamatan Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah juga mendirikan dapur umum di Aula Gereja HKBP Sipange. Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 67 kepala keluarga atau sekitar 223 jiwa terdampak banjir dan sempat mengungsi sebelum kondisi berangsur membaik.
Satgas PRR berharap langkah rehabilitasi dan penguatan infrastruktur pengendali banjir dapat segera direalisasikan sehingga masyarakat di kawasan rawan tidak lagi menghadapi ancaman banjir berulang setiap musim hujan.




































