JAKARTA — Dunia olahraga Indonesia berduka. Salah satu legenda atletik nasional, Willy Tuapattinaja atau dikenal juga sebagai Willy Tomasoa, meninggal dunia pada Jumat (27/3) pukul 12.24 WIB di kediamannya di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ia tutup usia pada 88 tahun.
Nama Willy pernah menjadi sorotan pada era 1950-an hingga awal 1960-an. Atlet asal Maluku itu dikenal sebagai salah satu pelari putri terbaik yang dimiliki Indonesia pada masanya. Kiprahnya tak hanya mengharumkan daerah asalnya, tetapi juga membawa nama Indonesia di ajang internasional.
Willy tercatat pernah mempersembahkan medali emas untuk Maluku, serta menyumbang medali perunggu bagi Indonesia dalam ajang GANEFO 1963 di Jakarta—sebuah capaian yang menegaskan posisinya sebagai srikandi atletik Tanah Air.
Di tengah kariernya yang gemilang, Willy kemudian menikah dengan Bram Tuapattinaja, sosok jurnalis senior yang dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Kartini sejak awal penerbitannya pada 1974. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang putra, Eric Tuapattinaja.
Setelah kepergian sang suami pada 2015, Willy menghabiskan waktu bersama putra semata wayangnya. Eric sendiri dikenal aktif di berbagai bidang, termasuk sebagai Presiden Federasi Sepakbola Mini Indonesia (FSMI) serta Anggota Dewan Penasihat PWI Jaya.
Kepergian Willy meninggalkan jejak panjang dalam sejarah olahraga nasional, khususnya atletik putri. Ia bukan hanya atlet berprestasi, tetapi juga simbol perjuangan perempuan Indonesia di lintasan olahraga pada masa awal kemerdekaan.
Selamat jalan, Willy Tuapattinaja/Tomasoa. Namamu akan tetap hidup dalam sejarah, sebagai salah satu pelari terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, di rumahnya dikawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Willy pung tutup usia dengan damai dalam usia 88 tahun.




































