JAKARTA – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam mengakselerasi Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga (SatuJamKu) guna memperkuat peran keluarga di tengah tantangan era digital.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, mengatakan tingginya penetrasi internet di Indonesia menjadi tantangan serius dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.
Penggunaan internet sangat tinggi, bahkan generasi Z dan Alpha mendominasi. Sementara anak usia dini juga sudah banyak terpapar, tetapi pendampingan orang tua masih terbatas,” kata perempuan yang akrab disapa Lisa itu dalam Sosialisasi Gerakan SatuJamKu di Kantor Kementerian PPPA, Jakarta, Rabu (7/5).
Menurut Lisa, penguatan regulasi terhadap penyedia layanan digital perlu diimbangi dengan penguatan keluarga dan masyarakat agar perlindungan anak di ruang digital berjalan efektif.
Ia menegaskan Gerakan SatuJamKu bukan program baru, melainkan penguatan dari berbagai program yang telah berjalan di kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah dengan menitikberatkan pada kualitas interaksi keluarga minimal satu jam setiap hari.
Yang paling penting adalah mengembalikan kehadiran keluarga. Jangan sampai yang mengasuh anak adalah gadget, tetapi keluarga,” ujarnya.
Gerakan SatuJamKu merupakan bagian dari konsep Asta Mantra Membangun Keluarga Berkualitas di Era Digital yang diinisiasi Kemenko PMK. Program tersebut menekankan pengurangan screen time, peningkatan interaksi langsung atau green time, penguatan nilai agama dan budaya, serta kolaborasi multipihak.
Pemerintah juga telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.9.3/2160/Bangda untuk mendorong pemerintah daerah mengintegrasikan Gerakan SatuJamKu dalam program pembangunan keluarga.
Lisa menilai keberhasilan gerakan itu tidak dapat dilakukan satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan sinergi antara kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, komunitas, dunia usaha hingga akademisi.
Prinsipnya low budget, high impact. Optimalkan program yang sudah ada dan internalisasikan nilai satu jam berkualitas ini di masyarakat,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah narasumber lintas sektor turut memaparkan praktik baik implementasi Gerakan SatuJamKu.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat, dr. Siska Gerfianti, menyebut Jawa Barat telah menjadi salah satu daerah pionir dalam implementasi gerakan tersebut hingga tingkat masyarakat.
Sementara itu, Nani Nurhasanah dari Komunitas Binar menekankan pentingnya pendekatan bermain dalam pengasuhan anak. Komunitas tersebut menjalankan inisiatif “challenge 30 hari bermain bersama anak” untuk mendorong keterlibatan aktif orang tua.
Founder MyDoremi, Anne Marie Harjati, mengatakan ruang digital juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan kreativitas dan talenta anak.
“Kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak dari digital, tetapi kita bisa mengarahkan agar digital menjadi sarana yang positif,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Kementerian Komunikasi dan Digital, Tita Ayuditya Surya, memaparkan berbagai upaya pemerintah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman bagi anak, termasuk layanan konsultasi bagi orang tua dalam menangani kecanduan gim.
Kegiatan sosialisasi kemudian ditutup oleh Plt Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian PPPA, Rini Handayani. Ia mengapresiasi kolaborasi antarkementerian dan lembaga dalam penguatan perlindungan anak dan keluarga di era digital.




































